ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL

ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL
PART 51 - MENGELABUI LEO


__ADS_3

Waktu berlalu, hari sudah semakin larut. Leo keluar dari kamarnya lantaran tak kunjung bisa memejamkan matanya. Rumah itu terasa sepi, biasanya setiap dia di rumah dia akan melihat Maisy ataupun Lili. Namun, sekarang mereka tak lagi terlihat. Para asisten rumah tangga juga sibuk sendiri-sendiri dan Leo benar-benar merasa bosan.


Leo lantas pergi ke dapur dan mengambil segelas air putih di sana. Tepat ketika dia akan pergi ke meja makan dan meminum minumannya di sana, dia melihat pengasuh Maisy sampai di dapur.


"Tuan," ucap pengasuh.


"Kenapa?" tanya Leo.


"Saya ingin pamit," ucap pengasuh.


Leo terdiam.


"Maaf sebelumnya, tapi sekarang saya sudah tak lagi menjadi pengasuh Non Maisy di sini. Jadi saya pikir saya akan pamit pada Anda dan akan pergi dari sini besok pagi," ucap pengasuh.


Leo meminum airnya dan menghampiri pengasuh Maisy.


"Kalau begitu tunggu di sini," ucap Leo dan bergegas kembali ke kamar. Pengasuh Maisy pun menunggu Leo di sana.


Sesampainya di kamar, Leo mengambil ponselnya dan kembali menghampiri sang pengasuh.


"Berapa nomor rekeningmu?" tanya Leo, sontak pengasuh itu terlihat bingung.


"Saya tak ada cash sekarang, besok pagi saya harus ke kantor dan tak mungkin kembali ke sini hanya untuk memberikanmu uang pesangon 'kan?" ucap Leo.


"Tuan, Anda tak perlu memberikan saya pesangon," ucap pengasuh.


Leo mengerutkan dahinya.


"Kenapa, apa kamu tak butuh uang?" tanya Leo bingung.


"Saya butuh uang, tapi tak perlu memberikan saya pesangon," ucap pengasuh.


Leo pun semakin heran, apa masih ada jaman sekarang seorang pekerja yang menolak diberikan pesangon? Apalagi pekerja yang dipecat sebelum kontrak kerja selesai? Bukankah biasanya justru terbalik? Para pekerja biasanya justru akan protes jika tak diberikan pesangon setelah mereka dipecat tanpa melakukan kesalahan apapun.


"Tuan, saya senang bisa bekerja untuk Non Maisy, dan saya sangat menyesal harus meninggalkan rumah ini. Tapi saya tak memerlukan uang pesangon itu," ucap pengasuh.

__ADS_1


Leo kali ini menatap pengasuh dengan tatapan curiga.


"Jangan bilang kamu ingin mempermainkan saya?" ucap Leo.


Pengasuh itupun menjadi bingung, entah apa maksud Leo bicara seperti itu.


"Dengarkan saya, karena kamu dipecat tanpa alasan apapun, saya merasa bertanggung jawab dan ingin memberikanmu pesangon. Tapi kamu justru menolaknya, apa kamu pikir kamu bisa mendapatkan lebih dari pada yang seharusnya kamu dapatkan jika saya benar-benar tak memberikan hakmu sekarang, ha?" ucap Leo.


Pengasuh itupun semakin tak mengerti, dia benar-benar tak menginginkan pesangon itu dan tak ada maksud untuk mempermainkan Leo.


"Cepat sebutkan nomor rekeningmu, saya ingin istirahat sekarang!" kesal Leo.


"Tapi, Tuan --"


"Apalagi? Jangan bilang kamu akan bersikap seolah-olah saya tak memberikan hakmu dan kamu akan protes, lalu menuntut saya agar bisa memeras saya!" ucap Leo kesal.


Pengasuh Maisy pun terkejut mendengar ucapan Leo. Dia tak menyangka Leo akan bicara seperti itu.


"Tidak, Tuan. Bukan begitu --" ucapan pengasuh terhenti ketika melihat Leo yang diam seraya menatapnya dengan tatapan marah, sehingga akhirnya membuat pengasuh itu menyebutkan nomor rekeningnya.


"Saya sudah memberikan keterangan bahwa uang yang saya transfer barusan ke rekeningmu adalah untuk membayar pesangonmu, kamu bisa pergi besok pagi dan saya tak memiliki hutang apapun padamu," ucap Leo dan meninggalkan pengasuh itu.


Pengasuh itupun bergegas menuju kamarnya dan memeriksa rekeningnya. Rupanya benar-benar telah masuk sejumlah uang dari rekening Leo yang membuatnya menjadi bingung sekarang, entah apa yang harus dia lakukan dengan uang itu? Leo benar-benar tak mau mendengarkan apa yang dia katakan padahal dia benar-benar tak menginginkan uang itu, lebih tepatnya dia tak berhak mendapatkan uang itu sekarang.


Sementara itu di sisi lain, Lili sedang duduk di depan laptopnya. Dia sedang membuat surat lamaran pekerjaan untuk melamar pekerjaan di perusahaan EO yang direkomendasikan oleh mantan atasannya tadi pagi. Sejak tadi Maisy rewel dan enggan ditinggalkan olehnya sehingga dia baru bisa mengerjakan pekerjaan itu.


Setelah selesai mengirimkan surat lamaran itu Lili pun menghela napas lega dan menutup laptopnya.


'Semoga aku bisa segera mendapatkan pekerjaan,' gumam Lili.


Lili lalu menghampiri Maisy dan Maisy kali ini terlihat tidur dengan pulas. Tiba-tiba dadanya berdenyut, rasanya sedih sekali tetapi entah apa yang membuatnya sedih. Padahal, dia hanya melihat wajah polos Maisy tetapi rasanya seperti sesuatu telah menekan dadanya sehingga menyebabkan munculnya rasa sesak. Lili lalu menundukkan kepalanya dan meraih tangan kecil Maisy.


"Maafkan Mami, Sayang," ucap Lili pelan seraya mengusap lembut tangan Maisy. Setelah itu Lili mengecup tangan kecil Maisy dan mulai merebahkan tubuhnya di samping Maisy.


***

__ADS_1


Ke esokan harinya.


Lili sedang menyiapkan sarapan di dapur, dia ditemani oleh Maisy yang sedang duduk di stroller-nya seraya memegang mainan kecilnya. Tak lama terdengar suara bel rumah dan itu mengalihkan perhatian Lili.


"Itu pasti dia," ucap Lili dan Lili bergegas menggendong Maisy. Dia keluar dari rumah dan membuka pintu pagar.


Lili menghela napas lega ketika melihat orang yang dia pikirkan benar-benar ada di hadapannya.


"Akhirnya kamu datang," ucap Lili dan mengajak orang itu masuk.


Lili lalu meminta orang itu untuk menutup pintu pagar rumahnya. Setelah itu dia mengajak orang itu memasuki rumah.


Setibanya di ruang tamu, Lili yang sejak tadi berjalan di depan orang itu lantas berbalik melihat orang itu.


"Nyonya, kenapa Anda meminta saya untuk keluar dari rumah? Anda bahkan meminta saya untuk mengatakan pada Tuan Leo bahwa Anda telah memecat saya. Bagaimana jika Tuan Leo mengetahui dari agency bahwa sebenarnya saya masih menjadi pengasuh Non Maisy?" ucap orang itu terlihat cemas.


"Tidak perlu khawatir, Leo akan berpikir saya sudah mengurus surat pemecatanmu karena saya lah yang memecatmu. Dia takkan peduli dengan itu, tenang saja," ucap Lili. Namun, meski Lili sudah mencoba menenangkan orang itu tetapi orang itu yang tak lain adalah pengasuh Maisy masih saja terlihat cemas.


Ya, Lili sebenarnya tak memecat pengasuh Maisy. Tentu saja dia masih membutuhkan jasa pengasuh untuk membantunya merawat Maisy, apalagi dia berencana untuk bekerja.


Lili melakukan itu hanya untuk mengelabui Leo, dia ingin Leo tak tahu bahwa sebenarnya pengasuh Maisy masih bekerja menjaga Maisy di rumah baru itu. Tentu saja Lili melakukan itu bukan tanpa alasan, Lili khawatir Leo akan menjadikan pengasuh Maisy sebagai alat mata-matanya jika tahu pengasuh Maisy masih bekerja untuknya. Dia hanya ingin hidup tenang setelah ini.


"Tapi, Nyonya --"


"Saya sedang menyiapkan sarapan, tolong pegang Maisy dulu," ucap Lili yang langsung memotong ucapan pengasuh itu dan memberikan Maisy padanya.


Pengasuh Maisy pun mengambil Maisy dan hanya diam melihat Lili yang berjalan menjauhinya untuk kembali ke dapur.


'Apa benar Tuan dan Nyonya akan bercerai?' batin pengasuh.


Melihat Lili yang sekarang memilih tinggal di rumah baru itu dan mengingat kembali kata perceraian yang sempat dia dengar keluar dari mulut Leo kemarin membuatnya curiga terjadi sesuatu di antara pasangan suami istri itu.


Sementara itu, Lili kembali melanjutkan menyiapkan sarapan. Namun, tiba-tiba terdengar dering panggilan masuk dan dia pun melihat ponselnya. Ternyata panggilan itu dari nomor tak dikenal.


'Siapa ya?' batin Lili.

__ADS_1


Lili tak pernah menjawab panggilan dari kontak asing. Namun, tiba-tiba dia teringat kembali pada surat lamaran kerja yang dia kirimkan tadi malam. Dia pun akhirnya menjawab panggilan itu dan mendengar suara wanita yang seketika membuatnya langsung terdiam.


__ADS_2