ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL

ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL
PART 43 SIAPA PENGIRIM KOTAK HADIAH ITU?


__ADS_3

Ke esokan harinya.


Pukul empat sore Leo sudah membereskan pekerjaannya. Ya, dia akan memenuhi janjinya untuk makan malam di luar bersama Lili.


Leo lantas bangkit dari kursi kerjanya dan mengambil tas kerjanya, dia pun keluar dari ruangannya. Dia dengan penuh antusias berjalan menuju lift, begitu di keluar dari lift dia mengambil ponselnya dan menghubungi Lili. Dia mengatakan akan keluar kantor dan kembali ke rumah untuk menjemput Lili. Setelah selesai menghubungi Lili, Leo pun pergi ke mobilnya dan melajukannya kembali ke rumah.


Sesampainya di rumah, Leo bergegas menuju kamar dan melihat Lili yang ternyata sudah rapi. Yang membuatnya sedikit terkejut, Lili memakai gaun yang pernah dia belikan. Ya, dia ingat saat Lili pergi bersama temannya dan dia menyusul Lili, lalu membelikan gaun itu untuk Lili. Namun, menggunakan uang Lili dengan alasan dia akan mengganti uang Lili.


Biasanya Lili jarang memakai barang pemberiannya. Namun, kali ini Leo merasa senang melihat Lili memakai gaun pemberiannya, artinya Lili menghargai pemberiannya, pikirnya.


"Kamu sudah siap?" ucap Leo, tepat ketika Lili akhirnya menoleh padanya.


"Hai," sapa Lili, kemudian tersenyum.


Leo terdiam di depan pintu dan pandangannya terus menuju Lili.


"Ini pemandangan yang sangat indah ketika aku kembali dari bekerja," ucap Leo, kemudian tersenyum.


Leo pun menghampiri Lili, dia memperhatikan penampilan Lili dari kaki Lili yang menggunakan heels yang juga dia belikan, hingga perlahan pandangannya terus naik dan berakhir kembali di mata Lili.


"Ngomong-ngomong, aku jadi penasaran. Memangnya ada apa malam ini?" ucap Leo.


Leo sudah menanyakan itu sejak kemarin. Namun, Lili tetap tak memberikan jawaban yang bisa menghilangkan rasa penasarannya.


"Bukankah aku sudah mengatakannya padamu? Aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu," ucap Lili.


"Bagaimana dengan Maisy?" tanya Leo.


"Aku sudah menitipkan Maisy pada pengasuhnya," ucap Lili.


"Dan kamu benar-benar tak keberatan untuk itu?" tanya Leo memastikan. Pasalnya, dia agak ragu dan khawatir ketika dia mulai menikmati makan malamnya bersama Lili, Lili akan meminta pulang dengan alasan teringat pada Maisy.


"Tentu saja tidak, kita meninggalkan Maisy hanya sebentar 'kan?" ucap Lili, Leo mengerutkan dahinya.


"Maksudku, kita takan berada di luar sepanjang malam ataupun tidur di luar. Kita akan kembali ke rumah, lagipula aku juga makan malam dengan Papinya, jadi kenapa harus masalah?" ucap Lili, kemudian tersenyum.


Leo pun tersenyum.


"Aku sangat senang mendengar jawabanmu, setidaknya aku takkan khawatir kamu akan minta cepat pulang dan membuat mood-ku berantakan," ucap Leo.


Lili menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan perlahan.

__ADS_1


"Leo, setiap orangtua akan selalu mengingat anaknya. Apalagi Maisy masih kecil, tentu saja aku selalu khawatir. Jika kamu berada di posisiku, di mana sepanjang harimu dihabiskan bersama Maisy, kamu juga pasti akan merasa seperti itu. Tapi aku mengerti, karena kamu terlalu banyak di luar sehingga kamu sudah terbiasa dengan hari-harimu yang lebih banyak dilakukan di luar dibandingkan dengan Maisy, aku memaklumi itu," ucap Lili dan lagi-lagi tersenyum.


Entah mengapa kali ini ucapan Lili menenangkan untuk Leo, Leo juga tak merasa tersinggung sedikit pun.


"Ya, aku tahu itu. Aku juga terkadang khawatir dengan Maisy, tapi karena Maisy bersamamu, aku percaya kamu bisa menjaga Maisy melebihi apapun. Itulah mengapa aku selalu merasa tenang," ucap Leo, lalu mengusap bahu Lili yang terbuka.


Lili pun tersenyum dan mengambil tas tangannya yang ada di atas tempat tidur.


"Bagaimana jika kita pergi sekarang?" tanya Lili.


"Tentu saja," ucap Leo, kemudian menyodorkan tangannya, Lili pun meraih tangan Leo dan Leo menggandeng Lili keluar dari kamar.


Asisten rumah tangga yang melihat Leo dan Lili tampak mesra seperti itu justru merasa tak biasa. Pasalnya, mereka sering kali mendengar kedua majikannya itu cekcok. Namun, malam ini Leo dan Lili terlihat seperti pasangan sempurna. Mungkin takkan ada yang menyangka bahwa Leo dan Lili sering cekcok dalam keseharian mereka jika melihat Leo menggandeng Lili dengan raut wajah yang dipenuhi rasa antusias seperti sekarang.


Begitu memasuki mobil, Lili menanyakan tentang restoran yang Leo pilih untuk makan malam mereka.


"Aku sudah memesan kursi di salah satu hotel, di sana ada restorannya dan aku yakin kamu akan suka makanannya," ucap Leo.


"Selama itu denganmu, aku akan menyukainya," ucap Lili, kemudian tersenyum.


Leo tersenyum dalam hati, meski sebenarnya dia masih merasa aneh karena Lili terlihat sangat manis sekarang. Namun, dia mencoba lebih banyak berpikir positif. Mungkin itu adalah salah satu hal yang sedang Lili tunjukkan untuk merubah sikap Lili yang Leo pikir semenjak melahirkan Maisy, Lili benar-benar mengabaikannya. Leo pun melajukan mobilnya meninggalkan area rumah.


Begitu sampai di hotel, Leo menggandeng Lili menuju restoran. Di sana sudah sudah ada satu meja yang siap untuk Leo dan Lili. Setelah itu Leo menarik salah satu kursi dan Lili duduk di kursi itu. Setelah itu disusul oleh Leo yang duduk di hadapan Lili.


"Aku tak minum, dan kamu tahu itu. Kenapa kamu menuangkannya untukku?" ucap Lily.


"Aku tahu, hanya formalitas saja," ucap Leo.


Mungkin, makan malam romantis seperti ini adalah salah satu hal yang ingin dia lakukan dengan Lili, dan dia tentu saja berharap makan malam kali ini takan gagal seperti makan malam sebelum-sebelumnya. Dia berharap, dia akan tetap merasa senang sampai makan malam itu berakhir.


Lili pun hanya diam, setelah itu Leo mengangkat tangannya ke arah pelayan dan pelayan itu datang menghampiri Leo. Leo pun mengatakan agar pelayan itu mengeluarkan minuman yang sudah dia pesankan untuk Lili.


Tak lama pelayan itu pun membawakan pesanan Lili.


"Ini bagus untuk ibu menyusui, kamu bisa meminum ini dan abaikan saja anggur itu," ucap Leo, kemudian menyesap anggur miliknya.


Setelah pelayan itu pergi, Lili melihat penampilan minuman itu.


"Apa ini bisa diminum?" tanya Lili ragu.


"Ya, kamu akan menyukainya," ucap Leo kemudian tersenyum kecil.

__ADS_1


Lili pun mencoba minuman itu dan ternyata minuman itu memang bisa dinikmati. Padahal menurut Lili penampilannya sangat aneh.


Setelah itu makan malam pun dimulai, Lili dan Leo makan malam dengan tenang. Sesekali keduanya saling melihat dan melemparkan senyuman.


Setelah makan malam selesai, Leo memanggil pelayan lagi. Dia meminta sesuatu yang dia titipkan sebelumnya kepada pelayan agar di keluarkan dan dikembalikan padanya.


Lili pun terlihat bingung melihat itu.


"Apa yang kamu titipkan?" tanya Lili.


"Aku punya hadiah kecil, sebenarnya aku bingung akan memberikan hadiah apa padamu. Aku tahu kamu tak begitu menyukai sesuatu yang menurutmu menghambur-hamburkan uang," ucap Leo, kemudian tersenyum penuh antusias.


Lili terdiam dan raut wajahnya masih menunjukkan kebingungan. Hal itu membuat Leo semakin ingin tersenyum. Dia sekarang merasa percaya diri bahwa Lili benar-benar akan menyukai hadiahnya dan menerimanya tanpa berdebat dengannya.


Setelah itu pelayan itu pun kembali ke meja Leo seraya membawakan buket mawar. Rupanya itulah yang Leo titipkan pada pelayan.


Leo lalu mengambil buket mawar itu. Namun, setelah Leo mengambil buket mawar itu, pelayan itu tiba-tiba menyodorkan sebuah kotak hadiah berwarna hitam.


"Apa ini?" tanya Leo bingung.


"Ini kotak hadiah yang Anda titipkan kepada kami, Pak," ucap pelayan itu.


Leo mengambil kotak hadiah itu dan memperhatikannya, dia pun dibuat bingung. Dia tak merasa pernah menitipkan kotak hadiah itu pada pihak restoran ataupun pada pihak hotel. Dia ingat dengan jelas bahwa dia hanya menitipkan sebuket mawar saja untuk diberikan pada Lili.


"Kenapa ekspresimu seperti itu, apa kotak hadiah itu bukan milikmu?" tanya Lili terlihat bingung.


Leo pun diam saja saat Lili mengambil kotak hadiah itu. Lili lantas memperhatikan kotak hadiah itu sebentar dan melihat pelayan.


"Kamu boleh pergi," ucap Lili dan pelayan itu pun meninggalkan meja Lili.


Setelah itu Lili membuka pita yang menghiasi kotak hadiah itu, kemudian dia mulai membuka kotak hadiah itu.


Begitu kotak hadiah itu terbuka, Lili langsung tercengang. Namun, dia bergegas menutup mulutnya dan menatap Leo.


Leo pun dibuat bingung dengan ekspresi Lili.


"Leo ... Astaga!"


Leo yang tak memahami situasi macam apa yang sedang terjadi sekarang lantas bergegas mengambil kotak hadiah itu dari tangan Lili, dan melihat isi di dalamnya. Dia pun semakin dibuat bingung.


"Apa ini, apa ini sungguh dariku?" ucap Leo.

__ADS_1


Lili pun bangkit dari kursinya dan bergegas memeluk Leo. Namun, Leo yang masih diselimuti kebingungan pun hanya diam saja.


'Aku benar-benar tak mengerti, apa yang terjadi sebenarnya? Siapa yang mengirimkan kotak hadiah itu untuk Lili? Jangan bilang pria lain!' batin Leo curiga.


__ADS_2