ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL

ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL
PART 47 MENCARI LILI


__ADS_3

Ke esokan harinya.


Hampir semalaman Leo tak bisa tidur dan dini hari tadi dia baru bisa tertidur sehingga hari ini dia bangun hampir pukul sembilan pagi, bahkan suara alarm di jam 5 pagi yang biasa membangunkannya tak bisa membangunkannya.


Leo lantas mengusap wajahnya, dia sudah terlambat pergi ke kantor. Dia pun melihat ke sampingnya dan tak melihat ada siapapun di sampingnya. Dia kembali teringat bahwa tadi malam Lili tak tidur di kamar yang sama dengannya. Leo pun bangkit dari tidurnya dan terdiam sejenak, setelah itu dia keluar dari kamar dan mencoba mencari Lili di kamar Maisy. Namun, begitu dia sampai di kamar Maisy, dia tak melihat siapapun, bahkan Maisy pun tak ada di sana. Dia lalu mencari asisten rumah tangga dan menanyakan Lili pada asisten rumah tangga itu.


"Tadi pagi Nyonya sudah pergi, Tuan," ucap sang asisten.


"Pergi ke mana?" tanya Leo terkejut.


"Saya tidak tahu, Tuan. Nyonya tidak mengatakan apapun, tapi mungkin Nyonya akan liburan bersama Non Maisy," ucap sang asisten.


Tanpa mengatakan apapun lagi Leo akhirnya bergegas kembali ke kamar dan pergi ke ruang ganti, di sana dia sudah tak melihat koper yang tadi malam sempat Lili masukkan beberapa pakaian.


'Bagaimana bisa dia pergi tanpa memberitahuku?' gumam Leo shock.


Ya, tentu saja Leo shock, dia tak menyangka Lili akan pergi diam-diam. Lili bahkan meninggalkan rumah saat dia masih tidur.


"Aku menyesal bangun terlambat!" kesal Leo dan kembali ke kamar, dia mengambil ponselnya dan mencoba mencari kontak Lili, dia berniat menghubungi Lili. Namun, perhatiannya tertuju pada pesan masuk dari Lili. Dia pun membuka pesan itu lebih dulu.


'Aku pergi, dan aku akan segera mengirimkan surat gugatan cerai padamu.'


Leo meremas ponselnya, dia pun mencoba menekan panggilan menuju kontak Lili dan panggilan itu tersambung. Namun, Lili tak menjawab panggilannya.


"Oh ayolah, Lili. Jangan seperti ini. Apa kamu tak mengerti, aku khawatir sekarang!" kesal Leo dan mencoba menghubungi Lili lagi. Namun, lagi-lagi Lili tak menjawab panggilannya. Leo pun lagi-lagi dibuat kesal.


Brak!


Ponsel Leo hancur di lantai setelah Leo melemparnya dengan keras.


"Dia benar-benar keterlaluan, meninggalkan rumah ini tanpa mengatakan apapun padaku. Lebih Keterlaluan lagi dia bahkan membawa Maisy bersamanya. Dia Mami macam apa, sih? Akan tinggal di mana Maisy nanti?" geram Leo.

__ADS_1


Leo tiba-tiba tersentak, dia teringat pada kejadian semalam saat di restoran, Lili sempat menunjukkan sebuah sertifikat rumah padanya, dia juga ingat sempat menghubungi pengacaranya. Leo kembali melihat ponselnya dan tersadar ponselnya sudah hancur.


"Benar-benar menyebalkan sekali!" kesal Leo dan menendang ponsel itu.


Dia kesal karena tak bisa menghubungi pengacaranya sekarang, dia bahkan tak tahu apakah dia menyimpan kontak pengacaranya di telepon rumah atau tidak, pikirnya.


Leo kemudian teringat pada sertifikat rumah dan bukti pembelian rumah itu lagi, dia pun bergegas ke ruang ganti dan mencari sertifikat rumah itu juga bukti pembeliannya di dalam lemari Lili. Namun, dia tak menemukan apa yang dia cari di sana. Dia lantas mencari di lemari lainnya tetapi lagi-lagi tak menemukannya.


"Dia benar-benar membawa sertifikat rumah itu!" ucap Leo semakin kesal. Padahal, tadinya dia pikir dia mungkin bisa menemukan petunjuk dalam sertifikat rumah atau bukti pembelian rumah itu sehingga dia bisa langsung menemukan di mana alamat rumah itu.


Leo akhirnya tak memiliki cara lain, mau tak mau dia harus mendatangi pengacaranya ke kantor tempat pengacaranya bekerja. Dia pun bergegas mandi dan bersiap, setelah itu pergi ke kantor pengacaranya.


Sesampainya di kantor pengacara, kebetulan sekali Leo bertemu dengan pengacaranya yang sepertinya akan meninggalkan kantornya.


"Anda di sini, Pak Leo?" ucap pengacara.


Leo melepas kacamata style yang dia kenakan dan menghampiri pengacaranya.


Pak Rudi terlihat bingung.


"Saya ingin melihat seperti apa rumah yang istri saya beli tanpa sepengetahuan saya, dan justru orang lainlah yang diberitahu," ucap Leo dan kali ini tatapannya terlihat tak senang terhadap pak Rudi.


"Maaf, Pak. Saya tak memberitahu Anda karena Bu Lili mengatakan akan memberitahu tentang pembelian rumah itu pada Anda sebagai kejutan," ucap pak Rudi.


"Ya, dan saya sangat terkejut. Sekarang berikan alamatnya, saya ingin melihat rumah itu," ucap Leo.


Pak Rudi lantas menyebutkan alamat rumah itu dan Leo pun kembali ke mobilnya tanpa mengatakan apapun lagi pada pak Rudi.


Hal itu membuat pak Rudi menjadi tak enak hati. Sebenarnya, sejak awal dia bekerja dengan Leo. Namun, sejak Leo menikah dan memperkenalkan Lili padanya, hubungannya dengan Lili pun sangat baik sehingga dia menjadi tak enak hati untuk tak mengikuti ucapan Lili. Dia berharap setelah ini Leo takkan menggantinya dengan pengacara lain jika Leo mengalami masalah, tentu saja selama ini dia merasa senang menjadi kuasa hukum sekaligus penasihat hukum untuk Leo.


Sementara itu, Leo meninggalkan area kantor pak Rudi dan pergi menuju alamat yang disebutkan oleh pak Rudi tadi.

__ADS_1


Sesampainya di alamat yang dituju, Leo keluar dari mobil dan melihat penampakan pagar cukup tinggi di hadapannya. Dia lantas memeriksa nomor rumah yang tertera di samping pintu pagar itu dan ternyata dia tak mendatangi alamat yang salah. Namun, dia tak bisa melihat ke halaman rumah itu karena pintu pagar itu disertai penghalang. Dia pun akhirnya menekan bel, dan mencobanya berulang kali karena tak ada siapapun yang membuka pintu pagar itu.


"Mencari siapa, Pak?"


Leo melihat ke arah orang yang baru saja bicara, orang itu sepertinya tetangga di rumah yang Lili beli.


"Saya mencari orang yang tinggal di rumah ini," ucap Leo.


"Rumah ini kosong, Pak. Tidak berpenghuni," ucap orang itu, sontak Leo mengerutkan dahinya.


Leo menjadi bingung, bukankah Lili mengatakan jika keluar dari rumah maka akan tinggal di rumah yang sudah dibeli menggunakan uangnya? Leo pikir yang akan Lili datangi adalah rumah itu. Namun, mengapa rumah itu justru kosong? Pikirnya.


'Apa Lili tak pergi ke rumah ini?' batin Leo semakin bingung.


"Coba saja dihubungi pemiliknya, setahu saya rumah ini kosong," ucap orang itu, kemudian meninggalkan Leo.


Leo lantas menghubungi Lili dan panggilan itu lagi-lagi tersambung. Beruntung dia masih memiliki satu ponsel dan dia mengingat kontak Lili. Namun, lagi-lagi Lili tak menjawab panggilannya. Dia pun mencobanya kembali dan mencoba bersabar menunggu Lili sampai menjawab teleponnya.


'Kamu pergi ke manapun aku pasti menemukanmu, Lili!' batin Leo kesal. Lili benar-benar menguji kesabarannya, pikirnya.


Sementara itu di sisi lain, tepatnya di sebuah kafe.


"Ponselmu terus berbunyi, kenapa tak dijawab dulu? Mungkin itu panggilan penting,' ucap seorang pria yang sedang duduk berharap dengan seorang wanita. Di samping wanita itu ada sebuah stroller dan ada Maisy yang sedang duduk di stroller itu.


Ya, itu Lili. Dia sedang bertemu dengan seorang pria.


"Aku tak pernah menjawab panggilan dari nomor asing," ucap Lili, kemudian menonaktifkan ponselnya.


Pria itu lantas menghela napas.


"Baiklah, jadi bagaimana?" ucap Lili.

__ADS_1


Pria itu lantas terdiam menatap Lili. Raut wajahnya terlihat bingung sekarang.


__ADS_2