ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL

ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL
PART 62 - LEBIH BAIK DIPECAT


__ADS_3

Hampir tengah malam Lili baru kembali ke rumah. Pekerjaan hari ini terlalu banyak sehingga dia merasa sangat lelah. Namun, dia mencoba menyempatkan dirinya untuk menemui Maisy di kamar pengasuhnya. Maisy sedang terlelap membuatnya merasa sedih karena hari ini dia terlalu banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja.


Lili lalu mengecup kepala Maisy membuat sang pengasuh yang berbaring di sisi Maisy terbangun.


"Anda sudah pulang, Nyonya," ucap pengasuh.


"Ya, tidur lagi saja. Saya juga akan istirahat," ucap Lili dan bergegas keluar dari kamar itu. Dia pergi ke kamarnya dan mengempaskan tubuhnya di tempat tidurnya.


Dia tiba-tiba teringat pada penolakan Florence terhadap surat pengunduran dirinya. Florence sempat mengatakan mengapa tak memakai uangnya untuk membayar biaya kerugian perusahaan? Tentu saja Lili memiliki alasan.


Bukannya tak memiliki uang sendiri tetapi dia merasa uang itu akan lebih berguna untuk keperluannya dan Maisy dibandingkan jika dia harus memberikannya pada Florence. Florence juga sangat Keterlaluan, aturan perusahaan mana yang melihat dari mana uang itu berasal? Bukankah yang terpenting dia telah menyelesaikan urusannya dengan perusahaan?


'Sudah jelas sejak awal dia ingin menyulitkanku,' batin Lili seraya memijat kepalanya.


Sebenarnya, dia tak menyangka akan berurusan dengan Florence. Bahkan yang membuatnya lebih tak menyangka, ternyata Florence menyimpan dendam padanya. Padahal, apapun yang terjadi di masa lalu bukanlah kesalahnnya. Jelas-jelas Leo lah penyebab utamanya. Jika saja Leo mampu menjaga hati dan nafsunya dia takkan terjerat dengan masalah seperti ini. Namun, menyesal sekarang tak ada artinya, Lili harus memikirkan cara untuk keluar dari perusahaan Florence.


Lili lantas beranjak dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Dia membersihkan tubuhnya sebelum dia pergi tidur.


Ke esokan harinya.


Lili menyiapkan sarapan seperti biasanya. Hanya saja, kali ini dia tak terlihat sesibuk kemarin. Ya, Lili belum bersiap untuk bekerja dan sepertinya ingin santai hari ini.


"Apa Anda takkan pergi bekerja, Nyonya?" tanya pengasuh Maisy.


"Ya, saya akan di rumah hari ini," ucap Lili.


"Baiklah, Anda memang butuh istirahat. Tadi malam Anda pulang larut sekali," ucap pengasuh.


Lili tak mengatakan apapun lagi dan melanjutkan menyiapkan sarapan. Setelah selesai, dia mengajak pengasuh Maisy untuk duduk sarapan bersamanya. Di sana juga ada Maisy yang kali ini Lili suapi sendiri.


Meski pengasuh Maisy menawarkan bantuan tetapi Lili tetap ingin melakukannya sendiri. Dia menyesal waktunya yang sedikit untuk Maisy kemarin, bahkan dia hampir tak memiliki waktu untuk bersama Maisy kemarin.


Menjelang pukul 9 Lili mendapatkan panggilan telepon dari Florence. Namun, Lili mengabaikan panggilan itu. Dia sengaja melakukannya, dia juga sengaja tak bekerja hari ini.


Jika Florence menolak menyetujui pengunduran dirinya, maka dia memiliki cara lain untuk membuat Florence berhenti mengganggunya. Dia akan membuat Florence menyesal karena tak mendapatkan apapun, baik jasanya ataupun uang kerugian perusahaan itu, Lili takkan memberikannya pada Florence.

__ADS_1


Ya, Lili sudah memutuskan takkan pergi bekerja lagi sampai Florence menyerah dan pada akhirnya memecatnya. Itu lebih baik baginya dari pada memohon pada Florence agar menyetujui surat pengunduran dirinya.


Lili kemudian menggendong Maisy keluar dari rumah dan menurunkan Maisy setelah dia membuka pintu pagar. Hari ini, dia akan berjalan-jalan di sekitar komplek. Sejak pertama kali dia pindah ke rumah itu dia tak mengenal tetangga di sekitarnya, karena itu dia ingin mulai mengenal dengan tetangga sekitarnya.


Saat Lili sedang berjalan-jalan, orang yang sama yang pernah bertemu dengan Leo bertemu Lili. Dia lantas menyapa Lili.


"Apa Anda penghuni rumah kosong itu?" tanya orang itu.


"Ya, salam kenal, saya Lili," ucap Lili seraya tersenyum.


"Oh begitu, sejak kapan Anda tinggal di sana?" tanya orang itu.


"Sejak beberapa hari yang lalu, tapi saya baru pertama kali berjalan-jalan di komplek ini," ucap Lili.


"Oh ya, kalau begitu apa mungkin pria yang datang ke rumah itu beberapa hari lalu mencari Anda?" ucap orang itu.


Lili terdiam, tiba-tiba dia terpikir pada Leo. Apa mungkin Leo datang ke rumahnya? Pikirnya.


"Maaf, memangnya apa yang pria itu katakan?" tanya Lili.


"Oh, begitu ya. Anda mungkin benar," ucap Lili, kemudian tersenyum.


"Baiklah, senang bertemu dengan Anda. Saya tinggal di sebelah rumah Anda," ucap orang itu dan Lili pun tersenyum.


Setelah itu orang itupun pergi, sedangkan Lili kembali ke rumah.


Begitu akan menutup pintu pagar, Lili terdiam ketika tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti di depannya. Dia kemudian mengembuskan napas berat setelah sadar bahwa mobil itu adalah mobil Leo.


'Mau apa dia datang ke sini?' batin Lili.


Lili berniat menutup pintu pagar. Namun, dengan cepat Leo mendekatinya dan menahan pintu pagar itu.


"Leo, apa yang kamu lakukan?" tanya Lili.


"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kamu langsung menjauh?" ucap Leo.

__ADS_1


Lili mengabaikan ucapan Leo dan berusaha menutup pintu pagar lagi. Namun, dengan sekuat tenga Leo justru membuka pintu itu.


"Leo bisakah kamu tak berulah? Apa kamu tak lihat di mana sekarang kamu berada?" kesal Lili.


Leo mengabaikan apa yang Lili katakan, perhatiannya tertuju pada Maisy. Dia pun bergegas menghampiri Maisy dan menggendong Maisy.


Maisy yang melihat Leo bukannya takut tetapi justru tertawa. Dia seolah senang melihat Leo.


"Kamu benar-benar keterlaluan, berapa hari aku tak bisa melihat Maisy dan sekarang kamu mencoba membuatku tak bisa bertemu dengan Maisy lagi. Ibu macam apa kamu ini ingin menjauhkan anakmu dari Papinya," ucap Leo.


"Kamu sudah bertemu dengannya sekarang, jadi bisakah kamu pergi dari sini?" ucap Lili.


"Tentu saja," ucap Leo dan melewati pintu pagar. Lili pun bergegas menahan Leo.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Lili.


"Bukankah kamu memintaku pergi? Tentu saja aku akan pergi sekarang," ucap Leo.


"Aku memang memintamu pergi, tapi tidak menyuruhmu membawa Maisy," ucap Lili dan akan merebut Maisy dari gendongan Leo. Namun, Leo bergegas menjauhi Lili.


"Jangan egois, Lili. Maisy juga anakku, kita membuatnya bersama," ucap Leo.


Lili memutar bola matanya. Dia kesal sekali pada Leo. Sekarang Leo bisa bicara seperti itu sedangkan selama ini sikap Leo saja tak mencerminkan sikap seorang ayah.


"Aku memberimu waktu 5 menit bersama Maisy, setelah itu pergilah dari sini!" tegas Lili seraya melipat kedua tangannya di dadanya.


"Sungguh, 5 menit? Apa kamu sudah gila? Kita saja membuatnya lebih dari 5 menit dan kamu memberiku waktu hanya 5 menit untuk bersama anakku? Yang benar saja," ucap Leo.


"Leo!" Lili akhirnya tak bisa menahan emosinya lagi dan membentak Leo. Leo benar-benar membuat darahnya mendidih pagi ini.


"Itu kenyataan, Sayang. Kenapa kamu marah? Benar-benar sangat lucu," ucap Leo, kemudian terkekeh.


Lili pun menghentakkan kakinya dan berbalik. Dia berteriak memanggil pengasuh Maisy membuat pengasuh itu berlari menghampirinya.


"Kenapa kamu di sini?" tanya Leo terlihat bingung.

__ADS_1


Pengasuh itupun terdiam, dia merasa bingung untuk menjawab pertanyaan Leo, apalagi sekarang Lili justru meninggalkan di sana.


__ADS_2