
Orang itu terdiam setelah mendengar nama Leo. Entah apa yang orang itu pikirkan. Apa orang itu mengenal Leo?
Orang itu lantas menahan tangan Barry ketik Barry akan meninggalkannya.
"Bisakah mengantarku menemui atasanmu? Aku tak tahu yang mana orangnya, aku khawatir salah orang," ucap orang itu.
"Ya, sebentar," ucap Barry dan meninggalkan orang itu sebentar.
Setelah itu, Barry mengantar orang itu menuju restoran. Barry mencari Leo di dalam restoran dan akhirnya dia melihat punggung seseorang yang sedang duduk sendirian di sebuah meja. Barry langsung mengenali punggung orang itu, pemilik punggung itu adalah Leo.
"Itu atasanku, ayok temui dia," ucap Barry.
Orang itu mengarahkan pandangannya ke arah yang Barry lihat. Dia lalu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan perlahan.
"Ya," ucap orang itu dan pergi bersama Barry menemui Leo.
Begitu sampai di dekat Leo, Barry memanggil Leo. Sontak saja Leo melihat Barry.
Setelah itu, perhatian Leo tertuju pada orang yang datang bersama Barry. Leo pun tampak terkejut melihat orang itu. Sementara itu, jantung orang itu berdegup dengan cepat. Benar saja dugaannya, sejak awal dia mendengar nama Leo, dia sudah mengira bahwa, Leo yang dimaksud adalah Leo yang tiba-tiba ada di pikirannya.
Sejak awal orang itu jelas tahu perusahaan apa yang memakai jasa event organizer-nya. Namun, orang itu tak pernah berpikir bahwa petinggi di perusahaan itu akan mengundangnya untuk sarapan bersama. Apalagi, dia sama sekali tak berpikir Leo yang akan mengundangnya.
"Pak Leo, ini Florence. Dia teman Saya yang merupakan pemilik Event Organizer yang jasanya kita pakai untuk persiapan pesta malam ini," ucap Barry.
Visual Florence
Ya, pemilik event organizer itu bernama Florence. Wanita seusia dengan Leo itu baru 2 tahun lalu mendirikan usaha event organizer-nya tetapi hasil yang diciptakan oleh perusahaan yang dia bangun tak dapat diragukan. Selain itu, dia juga memiliki koneksi yang luas sehingga jasanya banyak dipakai untuk acara-acara besar, itulah mengapa Barry juga mempercayakan pekerjaan itu pada Florence.
"Saya Florence, senang bertemu dengan Anda," ucap Florence seraya menyodorkan tangannya ke hadapan Leo.
Leo pun bangkit dari kursinya dan menjabat tangan Florence.
"Senang juga bertemu dengan Anda, silahkan duduk," ucap Leo seraya mengulurkan tangannya ke kursi di hadapannya.
"Terima kasih," ucap Florence dan pergi menuju kursi tersebut.
"Kalau begitu, Saya permisi dulu, Pak," ucap Barry dan diangguki oleh Leo.
__ADS_1
Leo lalu memanggil pelayan dan meminta pelayan untuk membawakan buku menu. Pelayan itupun menghampiri Leo seraya membawa buku menu di tangannya.
"Berikan pada Nona ini, dia yang akan memesan," ucap Leo.
Pelayan itu lalu memberikan buku menu itu pada Florence tetapi Florence tak melihatnya sama sekali. Dia justru langsung menyebutkan pesanannya, yaitu secangkir kopi panas.
"Itu saja," ucap Florence dan pelayan itupun meninggalkan meja tersebut.
Setelah pelayan itu pergi, entah mengapa suasana canggung justru dirasakan keduanya. Terlebih bagi Leo, entah mimpi apa dia semalam? Bagaimana bisa pagi ini dia bertemu dengan Florence.
Ya, wanita itu adalah masa lalu Leo. Wanita itu yang Leo campakkan demi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya terhadap Lili.
Sebelum menikahi Lili, wanita itu adalah kekasih Leo. Apapun Leo berikan pada wanita itu. Entah itu uang, bahkan apartemen mewah telah Leo berikan pada Florence ketika Leo menjalin hubungan dengan Florence. Namun, tentu saja itu bukan tanpa alasan. Florence bahkan melebihi apa yang Leo lakukan, Florence memberikan segalanya pada Leo, termasuk kehormatannya pada Leo.
Selama berhubungan dengan Leo, keduanya begitu in*im layaknya suami istri. Namun, pada akhirnya Florence justru dikecewakan oleh Leo setelah tahu Leo akan menikahi wanita lain. Leo yang saat itu enggan memutuskan hubungan dengan Florence, sempat meyakinkan Florence bahwa pernikahan itu bukan karena keinginannya. Florence yang sempat percaya pada Leo, pada akhirnya mempertahankan hubungannya dengan Leo.
Sayangnya, Lili justru melabrak dirinya yang saat itu sedang bersama Leo di apartemen. Saat itulah hubungannya dengan Leo benar-benar berakhir karena akhirnya dia tahu bahwa, tak hanya telah menikah dengan Lili, tetapi Leo juga ternyata telah menghamili Lili.
Kini, dua tahun telah berlalu sejak berakhirnya hubungan keduanya. Namun, Florence ataupun Leo tak menyangka takdir akan mempertemukan mereka kembali.
"Apa kabar?" tanya Leo.
Florence tampak dingin, membuat Leo menghela napas.
"Aku tak tahu bahwa kamu membuka bisnis EO," ucap Leo.
"Aku memanfaatkan uang yang Papimu berikan padaku untuk membuka bisnis. Papimu ternyata ada benarnya, aku memang harus melanjutkan hidupku," ucap Florence kemudian tersenyum.
Ya, papi Leo saat itu sempat mengetahui bahwa, hubungan Leo dan dirinya belum berakhir meski Leo telah menikah dengan Lili. Papi Leo pun memberikan sejumlah uang padanya dan meminta dirinya yang saat itu hanya menggantungkan hidup pada Leo karena tak bekerja, agar mulai melanjutkan hidupnya sendiri demi masa depannya. Dia pun mengambil uang itu dan memilih melanjutkan hidupnya dengan membuka jasa EO.
Keduanya lantas saling diam. Leo juga merasa kesal sekarang. Terlebih pada Barry.
'S*alan sekali si Barry, tak memberitahuku siapa pemilik EO itu. Jika aku tahu pemilik EO itu adalah Florence, aku takan mengundangnya sarapan bersamaku,' batin Leo.
Tak lama pelayan meletakan kopi pesanan Florence. Keduanya lalu kembali saling diam. Keduanya sama-sama merasa canggung.
Hingga akhirnya beberapa menit kemudian, Florence menyesap kopinya dan melihat Leo.
"Kalau begitu, aku akan melanjutkan pekerjaanku," ucap Florence dan meraih tasnya. Leo pun bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Aku permisi," ucap Florence dan meninggalkan Leo.
Leo kembali duduk dengan gelisah, dia lantas memanggil pelayan dan meminta pelayan membawakan mineral water untuknya. Setelah dia mendapatkan mineral water itu dan meminumnya, dia pun meninggalkan restoran. Dia bahkan meninggalkan hotel dan pergi menuju perusahaan.
Sesampainya di perusahaan, Kikan menemui Leo dan memberitahukan bahwa, jadwal interview untuk calon sekretaris baru Leo akan diadakan di hari Jum'at. Leo pun menyetujui hal itu dan dialah yang akan mengurus interview itu sendiri.
"Kirimkan saja semua CV yang masuk ke perusahaan, Saya akan memeriksanya nanti," ucap Leo.
"Baik, Pak," ucap Kikan.
Leo lantas pergi ke kamar mandi dan buang air kecil di sana. Setelah itu, dia mencuci tangannya di wastafel dan tiba-tiba teringat ucapan sang papi agar membawa istri dan anaknya ke rumah sang papi untuk makan malam.
Leo pun kembali ke ruangannya dan ponselnya. Dia menghubungi Lili dan mengatakan tentang ucapan sang papi.
'Bagaimana denganmu?' tanya Lili. Lili sepertinya khawatir Leo akan sibuk sehingga takan bisa memenuhi undangan makan malam dari mertuanya.
'Tentu saja kita akan pergi,' ucap Leo.
'Baiklah, oh ya ...'
'Apa?' tanya Leo.
'Apa jam makan siang nanti kamu ada di kantor?' tanya Lili.
'Belum tahu,' ucap Leo.
'Kabari aku, aku akan masak hari ini. Sekarang, aku sedang di luar membeli bahan-bahan masakannya. Nanti aku akan kirimkan makan siang ke kantormu,' ucap Lili.
Leo mengusap wajahnya. Tiba-tiba dia merasa tak senang setelah mendengar ucapan Lili. Lili benar-benar membuatnya kehabisan kata-kata. Jika Lili mengerjakan pekerjaan seperti itu juga, bukankah lebih baik dia benar-benar memecat para asisten rumah tangga di rumahnya? Untuk apa dia menggaji para asisten rumah tangga itu jika istrinya masih juga harus melakukan pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawab para asisten rumah tangga? Pikir Leo.
'Lili, aku melupakan sesuatu,' ucap Leo.
'Apa itu?' tanya Lili.
'Aku akan makan siang di luar, jadi tak perlu memasak apapun untukku,' ucap Leo dan mengakhiri panggilan telepon itu.
Sementara itu di sisi lain, tepatnya di supermarket. Lili terdiam setelah mendengar apa yang Leo katakan. Raut wajahnya tampak tak senang.
'Padahal, aku sangat bersemangat,' batin Lili.
__ADS_1