ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL

ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL
PART 49 - TAKKAN MENGHALANGIMU


__ADS_3

Leo duduk di sebuah kafe seraya terus melihat ponselnya, dia berharap akan ada pesan balasan atau pun panggilan balik dari Lili. Namun, sejak tadi menunggu semua itu hampir membuatnya bosan. Dia juga menjadi enggan pergi ke kantor, apalagi sekarang waktu sudah memasuki jam makan siang. Dia takkan bisa fokus bekerja.


Leo tersentak ketika masuk sebuah panggilan. Namun, setelah itu dia terlihat tak bersemangat. Dia pikir telepon itu dari Lili. Namun, ternyata telepon itu dari sang kakak. Dia pun menjawab panggilan itu.


'Halo,' ucap Leo.


'Leo, sejak pagi kamu tak ada di ruanganmu. Katanya kamu belum sampai di kantor, apa kamu baik-baik saja?' ucap sang kakak.


'Ya,' ucap Leo.


'Lalu kenapa kamu tak masuk kantor? Kupikir terjadi sesuatu padamu,' ucap sang kakak.


'Tidak, aku baik-baik saja. Aku hanya sedang malas pergi ke kantor,' ucap Leo.


'Malas katamu?' ucap sang kakak.


'Ya, aku sedang bosan. Dari pada aku mengacaukan pekerjaanku, lebih baik aku tak masuk kantor dulu hari ini,' ucap Leo.


'Baiklah, terserah kamu saja. Tapi jangan pernah mengeluh jika nantinya ada banyak pekerjaan yang harus kamu tangani,' ucap sang kakak dan telepon itu berakhir.


'Aku hanya tak ke kantor sehari saja, kenapa dia bicara seperti itu?' batin Leo heran.


Dia merasa sedikit tak nyaman dengan apa yang kakaknya katakan, padahal sebanyak apapun pekerjaannya di kantor dia tak pernah mengeluh. Meskipun mungkin dia pernah mengeluh, toh pada akhirnya semua pekerjaannya selesai, pikirnya.


Leo kemudian mencoba peruntungannya sekali lagi, dia kembali menghubungi Lili. Namun, lagi-lagi Lili mengabaikan panggilannya. Leo yang kesal pun akhirnya beranjak dari kursi dengan agak kasar. Suara kursi lantas membuat perhatian beberapa pengunjung tertuju padanya. Leo pun semakin kesal diperhatikan seperti itu dan bergegas keluar dari kafe. Dia meninggalkan kafe itu dan kembali ke rumah.


Sesampainya di rumah, dia pergi ke dapur dan mengambil minuman dingin dari dalam lemari es. Entah mengapa memasuki rumah membuat hawa panas seperti menyerang tubuhnya. Di sana juga ada pengasuh Maisy.


"Tuan," ucap pengasuh Maisy, sontak Leo melihat pengasuh Maisy.


"Saya tadi dihubungi oleh Nyonya," ucap pengasuh Maisy, Leo pun hampir tersedak dan bergegas mengakhiri meminum minumannya.


"Apa katamu?" tanya Leo mencoba memastikan bahwa apa yang didengarnya tidaklah salah.


"Tadi Nyonya menghubungi saya, Tuan," ucap pengasuh Maisy.


Leo pun terdiam.


'Dia bisa menghubungi pengasuh tetapi tak bisa menjawab panggilanku? Apa sebenarnya yang dia lakukan?' batin Leo tak habis pikir.


"Lalu apa yang Nyonya katakan padamu?" tanya Leo.


"Nyonya memecat saya," ucap pengasuh Maisy, Leo pun terkejut.


"Dipecat? Memangnya apa yang kamu lakukan?" tanya Leo. Apa mungkin pengasuh anaknya itu telah melakukan sesuatu yang menyakiti anaknya sehingga Lili memecatnya? Pikirnya.

__ADS_1


"Saya tak tahu, Tuan. Nyonya bilang saya tak melakukan kesalahan apapun, dan saya pun merasa begitu. Karena itu saya menemui Anda," ucap pengasuh Maisy.


Leo pun lagi-lagi terdiam, dia memikirkan apakah dia harus menghubungi Lili lagi atau tidak? Pasalnya dia sangat penasaran kenapa Lili memecat pengasuh Maisy tanpa memberitahunya?


Leo lantas menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan agak kasar, dia pun akhirnya kembali menghubungi Lili. Namun, tak disangka kali ini ternyata menjawab panggilannya.


'Sayang,' ucap Leo.


'Kenapa kamu terus saja menghubungiku?' tanya Lili terdengar tak senang.


'Tentu saja aku khawatir padamu, pada Maisy juga. Sebenarnya kalian di mana sekarang?' ucap Leo.


'Aku sedang berlibur dengan Maisy,' ucap Lili.


'Di mana itu? Aku akan menyusul kalian,' ucap Leo.


'Kamu mau menyusulku dan Maisy, apa iya?' tanya Lili.


'Ya, aku akan pergi sekarang,' ucap Leo.


'Tidak perlu, Leo. Aku ingin menikmati waktuku hanya dengan Maisy,' ucap Lili.


'Sayang jangan begitu, aku benar-benar cemas kamu membawa Maisy pergi dari rumah,' ucap Leo.


'Kenapa harus cemas? Maisy pergi bersamaku, Maminya sendiri,' ucap Lili.


'Sebaiknya katakan kenapa kamu menghubungiku?' tanya Lili menyela Leo bicara.


Leo pun menghela napas. Sepertinya Lili masih marah padanya, pikirnya. Leo kemudian tak sengaja melihat pengasuh Maisy yang masih ada di dekatnya. Dia pun kembali teringat pada ucapan pengasuh Maisy tadi.


'Lili, aku mendapatkan laporan bahwa kamu memecat pengasuhnya Maisy, apa itu benar?' tanya Leo.


'Ya,' ucap Lili.


'Kenapa, kesalahan apa yang dia lakukan?' ucap Leo bingung.


'Dia tak melakukan kesalahan apapun, aku hanya tak lagi membutuhkannya karena aku tak bisa lagi membayar jasanya,' ucap Lili.


'Apa maksudmu? Selama ini aku yang membayar gajinya, kenapa kamu memecatnya tanpa memberitahuku dulu?' ucap Leo.


'Leo, setelah kita bercerai akulah yang bertanggung jawab membayar gaji pengasuh jika aku terus mempekerjakan-nya. Aku hanya khawatir dan merasa kasihan aku takkan sanggup membayar gajinya," ucap Lili.


Mendengar kata bercerai, Leo pun menjadi kesal. Apa tak ada yang lain yang bisa Lili katakan selain kata-kata menyebalkan itu? Pikirnya.


'Aku sudah katakan padamu, aku takkan bercerai denganmu!' tegas Leo.

__ADS_1


Pengasuh Maisy yang mendengar Leo menyebutkan kata bercerai sontak terkejut, dan itu terlihat oleh Leo.


"Apa yang kamu lihat, ha?" ucap Leo terdengar marah seraya menatap pengasuh Maisy.


"Maaf, Tuan," ucap pengasuh Maisy dan bergegas meninggalkan Leo.


Leo pun memutar bola matanya.


'Benar-benar tak sopan!' batin Leo dan bergegas menuju kamar. Dia menutup pintu kamar dan memanggil Lili.


'Jika kamu sudah selesai bicara, maka aku akan mengakhiri teleponnya,' ucap Lili.


'Tunggu dulu,' ucap Leo.


'Apalagi?' tanya Lili.


Leo mengembuskan napas berat dan mencoba sedikit lebih tenang.


'Sayang, aku mohon pulanglah,' ucap Leo terdengar memelas.


'Pulang katamu?' ucap Lili.


'Ya, pulang dan kita bicara baik-baik. Aku janji akan mendengarkanmu,' ucap Leo.


'Mendengarkan apa? Aku bahkan tak memiliki sesuatu yang bisa kubicarakan denganmu,' ucap Lili.


'Lili, aku akan menuruti semua kata-katamu. Tapi pulanglah dulu, aku benar-benar ingin bertemu denganmu dan Maisy,' ucap Leo.


'Tapi aku tak ingin bertemu denganmu, dan kurasa Maisy juga tak ingin bertemu denganmu. Dia sedang tidur pulas sekarang,' ucap Lili.


Leo mengepalkan tangannya, entah bagaimana caranya membujuk Lili untuk pulang. Dia hampir kehabisan akal sekarang.


'Baiklah, aku akan menuruti semua yang kamu inginkan, apapun itu. Tapi dengan satu syarat, aku ingin bertemu denganmu dan Maisy,' ucap Leo.


'Aku sudah mengatakan apa yang aku inginkan padamu, bahkan sejak tadi malam aku sudah mengatakannya padamu, Leo. Aku hanya ingin berce --'


'Ya, aku takkan menghalangimu melakukan apapun. Atau jika kamu mau aku yang akan mengurus semuanya dan kamu cukup diam saja. Tapi Lili, aku tak suka caramu meninggalkan rumah, kamu pergi di saat aku sedang tidur. Apa itu tak keterlaluan? Bagaimana pun aku juga Papinya Maisy, kamu membawa Maisy pergi tanpa aku tahu ke mana kalian pergi, tentu saja aku cemas pada Maisy!' ucap Leo yang akhirnya tak bisa menahan rasa kesalnya.


Lili pun terdiam.


'Ayok bertemu dulu, jika kamu tak ingin pulang ke rumah, kita bisa bertemu di luar. Aku janji takkan memaksamu untuk pulang ke rumah!' ucap Leo, dan lagi-lagi terdengar kesal.


'Baiklah, sekali ini saja aku memberimu kesempatan, Leo. Jika kamu tak menepati janjimu, maka --'


'Ya, aku janji. Kamu tak perlu mengancamku!' ucap Leo.

__ADS_1


Lili lantas menyebutkan sebuah alamat dan hal itu tentu saja membuat Leo terkejut. Baru saja dia akan mengatakan sesuatu pada Lili tetapi telepon itu sudah berakhir lebih dulu. Namun, meski Lili tak memberinya kesempatan untuk bicara lagi di telepon, Leo akhirnya bisa sedikit menghela napas lega. Kegelisahannya seakan langsung hilang setelah bisa bicara kembali dengan Lili.


Leo pun bergegas keluar dari kamar dan akhirnya kembali meninggalkan rumah.


__ADS_2