
Waktu berlalu, Leo keluar dari kamar ganti dengan sudah rapi. Dia menjinjing tas kerjanya dan menghampiri Lili yang sedang merapikan tempat tidur.
"Apa kamu akan pergi sekarang?" tanya Lili.
"Ya," ucap Leo dan melihat ke sekelilingnya. Dia seperti sedang mencari sesuatu.
"Apa yang kamu cari?" tanya Lili bingung.
"Di mana Maisy?" tanya Leo.
"Dia bersama Susi, tadi dia mencari Susi," ucap Lili.
Ya, Susi. Nama pengasuh Maisy. Anak itu justru ingin bertemu Susi. Anak itu sepertinya merindukan Maisy. Padahal, setiap hari sebagian waktunya dihabiskan bersama Susi.
"Aku akan mandi, kamu sarapan saja dulu," ucap Lili.
"Aku akan sarapan di hotel," ucap Leo.
"Hotel?" tanya Lili seperti terlihat bingung.
"Ya, aku akan mengecek persiapan untuk pesta nanti malam," ucap Leo.
"Apa tak ada orang yang bisa kamu suruh? Kenapa sepertinya kamu melakukan semuanya sendiri?" tanya Lili. Leo terlihat sibuk sekali sejak semalam, apa tak ada yang membantu suaminya sama sekali? Pikir Lili.
"Ada, tapi aku ingin memastikan semuanya. Aku tak ingin ada kekurangan apapun," ucap Leo.
"Baiklah," ucap Lili dan seperti kemarin, dia juga berniat mengantar Leo menuju mobilnya. Namun, begitu sampai di luar kamar, Leo meminta Lili untuk pergi ke mobil lebih dulu.
Lili yang tak mengerti apa yang akan Leo lakukan, akhirnya mendengarkan apa kata Leo. Dia pun pergi lebih dulu ke mobil Leo.
Sementara itu, Leo rupanya pergi ke kamar Maisy. Kamar itu belum sering Maisy tempati karena Maisy masih tidur di kamarnya. Namun, Maisy biasanya bermain di kamar itu.
Leo melihat Maisy yang sedang sarapan dengan dibantu oleh Susi. Dia tampak duduk tenang di sebuah kursi dan di depannya ada sebuah meja. Susi juga tampak sambil menunjukan gambar-gambar berwarna pada Maisy.
Leo pun berdeham membuat perhatian Susi dan Maisy mengarah pada Leo. Susi lantas menyingkir dari Maisy dan membiarkan Leo mendekati Maisy.
Leo pun berlutut di depan Maisy, ini mungkin pertama kalinya dia menemui Maisy secara inisiatif ketika akan pergi bekerja.
"Papi akan pergi bekerja dulu, ya," ucap Leo.
"Yimau Papi," ucap Maisy dengan nada bicara layaknya seusia dirinya.
Leo yang tak mengerti dengan apa yang Maisy katakan, lantas melihat Susi.
"Dia bilang apa?" tanya Leo bingung.
__ADS_1
"Saya baru saja menunjukan gambar-gambar binatang, Tuan. Sepertinya, Non Maisy tertarik pada Harimau," ucap Susi.
Leo mengerutkan dahinya. Apa katanya? Anaknya itu menyukai Harimau? Apa Maisy akan menjadi buas seperti Harimau? Bukankah anak-anak biasanya menyukai sesuatu yang manis dan lucu? Harimau adalah binatang buas, bagaimana bisa anaknya yang seorang perempuan justru menyukai binatang buas seperti itu? Pikir Leo.
Leo lalu membuka buku gambar berisikan berbagai jenis hewan yang sedang Maisy pegang dan memperlihatkan halaman yang terdapat binatang Harimau pada Maisy. Maisy menunjuk gambar Harimau seraya menyebut 'Mau' seperti yang dia katakan sebelumnya.
"Maisy suka Harimau?" tanya Leo.
Maisy mengangguk membuat Leo tersenyum. Leo lantas mengusap kepala Maisy dan mengecupnya.
"Makan yang banyak, dan minum susunya," ucap Leo.
Maisy hanya diam, dia justru sibuk dengan kegiatannya yang terus membuka tiap halaman dari buku bergambarnya.
"Baiklah, Papi pergi dulu, ya," ucap Leo dan sekali lagi mengecup kepala Maisy. Setelah itu, dia melihat Susi.
"Tolong jaga dia," ucap Leo.
"Baik, Tuan," ucap Susi dan Leo bergegas keluar dari kamar Maisy. Dia pergi menuju mobilnya dan Lili tampak masih di sana.
"Aku pergi," ucap Leo.
Lili mengangguk dan Leo mulai memasuki mobil. Lili tersenyum ketika Leo menurunkan kaca mobil dan mulai melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah.
"Apa sarapannya sudah selesai?" tanya Lili.
"Belum, Nyah. Tadi, Tuan ke sini," ucap Susi.
"Oh ya? Kenapa dia?" tanya Lili.
"Menemui Non Maisy," ucap Susi.
Lili terdiam, apakah karena itu Leo lama sekali pergi ke mobilnya? Lili tak terpikir Leo akan menemui Maisy dulu sebelum pergi bekerja.
Lili tersenyum dalam hati, perlahan dia mulai menyukai sikap Leo. Meskipun terkadang Leo masih suka mengabaikan Maisy, tetapi setidaknya perlahan Leo mulai menunjukan perubahan baik terhadap Maisy. Lili berharap, Leo bisa benar-benar menyayangi Maisy dan semakin memberikan perhatian pada Maisy selayaknya seorang ayah.
Mendengar tentang Leo yang menemui Maisy, Lili tiba-tiba terpikirkan sesuatu.
"Sust," ucap Lili, dan Susi melihat Lili.
"Saya akan pergi ke supermarket depan, tolong jaga Maisy dulu, ya," ucap Lili.
"Baik, Nyah," ucap Susi dan Lili bergegas menuju kamar. Dia mengambil dompet dan kunci mobilnya. Setelah itu, dia pergi menuju supermarket yang berada diluar komplek perumahannya. Jaraknya tak terlalu jauh itulah mengapa dia berani tak membawa Maisy bersamanya.
Setelah mendengar tentang Leo yang menemui Maisy sebelum Leo pergi bekerja, Lili tiba-tiba terpikir untuk mengirimkan makan siang ke kantor Leo. Entah mengapa dia menjadi antusias untuk melakukan itu. Padahal, sebelumnya dia tak pernah melakukannya. Lebih tepatnya, dia berpikir Leo tak mungkin ketinggalan makan siang, dia bisa makan siang dengan mudah. Namun, kali ini dia ingin memasak makan siang untuk Leo.
__ADS_1
Sementara itu di perjalanan menuju hotel, Leo mendapatkan panggilan dari sang papi. Leo lantas menjawab panggilan itu.
'Ya, Pi,' ucap Leo.
'Leo, Papi sudah mendengar kabar tentang keberhasilanmu semalam,' ucap sang papi.
Leo tersenyum, jelas dia bangga. Tak perlu dirinya yang memberitahu, Papinya akhirnya tahu sendiri.
'Ehem, mata-mata cepat sekali mengabari Papi,' ucap Leo.
'Katanya kamu juga mengadakan pesta,' ucap sang papi.
'Ya, apa Papi akan datang?' tanya Leo.
'Tidak, sudah ada kamu dan Kakakmu yang mewakili perusahaan. Papi akan di rumah saja, jadi cukup kalian saja yang menikmati pesta itu,' ucap sang papi.
Leo mengangguk. Dia memahami bahwa, sang papi sudah tak sesegar dulu. Usianya kini sudah 60 tahun lebih. Jadi wajar saja jika sang papi tak bisa ke pesta itu. Pesta itu takan cocok untuk orangtua, pikirnya.
'Aku mengerti,' ucap Leo.
'Besok malam, bawalah istri dan anakmu ke rumah. Kita makan malam bersama,' ucap sang papi.
'Ya, akan aku sampaikan pada Lili,' ucap Leo, setelah itu telepon berakhir.
Sesampainya di hotel, Leo bertemu dengan Barry, dialah yang membantunya mengurus pesta itu. Dengan diantar oleh Barry, Leo pergi menuju ballroom. Di hotel itu, terdapat ballroom yang bisa diatur sesuai kapasitas, karena pesta itu bukan pesta besar, maka ruang yang dipakai tak sampai full.
Sesampainya di ballroom, Leo melihat banyak orang yang tampak sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk pesta nanti malam.
"Yang mana temanmu pemilik EO itu?" tanya Leo.
"Dia belum sampai, Pak," ucap Barry.
"Baiklah, Saya akan ke restoran dulu. Jika temanmu datang, suruh dia temui Saya, Saya mengundangnya sarapan bersama," ucap Leo.
"Baik, Pak," ucap Barry dan Leo bergegas menuju restoran.
Beberapa menit setelah kepergian Leo, teman Barry yang pemilik EO itu justru sampai di ballroom.
"Pak Leo mengundangmu untuk sarapan bersama," ucap Barry.
"Siapa?" tanya orang itu terlihat bingung.
"Atasanku, namanya Leo. Tadi, dia datang ke sini, dia mencarimu dan mengundangmu untuk sarapan bersamanya," ucap Barry.
Orang itu terdiam, entah apa yang orang itu pikirkan. Apa orang itu mengenal Leo?
__ADS_1