
Ke esokan harinya.
Leo terbangun dari tidurnya setelah mendengar dering panggilan masuk di ponselnya. Dia lantas mencari ponselnya dan setelah menemukannya dia melihat kontak Pengacara Haris lah yang menghubunginya. Leo pun menjawab panggilan itu.
'Halo, Pak Leo,' ucap pengacara.
'Ada apa, Pak?' tanya Leo.
'Pak Leo, Bu Lili sudah mengembalikan berkas yang kemarin Anda kirimkan. Saya baru saja keluar rumahnya dan berkas itu ada di tangan saya sekarang," ucap pengacara.
Leo terperanjat mendengar ucapan pengacara Haris.
'Benarkah? Apa jawabannya?' tanya Leo.
'Saya belum melihatnya, Anda bisa melihatnya sendiri,' ucap pengacara.
'Baiklah, datang saja ke rumah. Saya takkan pergi ke kantor,' ucap Leo.
'Baik, Pak,' ucap pengacara dan telepon berakhir.
Leo beranjak dari tempat tidur dan bergegas mandi. Rasanya tak sabar melihat berkas itu, dia sangat penasaran dengan jawaban Lili. Namun, meski begitu dia juga merasa sedikit cemas. Entah jawaban apa yang akan Lili berikan padanya. Dia berharap jawaban Lili takkan mengecewakannya.
***
Hampir satu jam berlalu, pengacara Haris akhirnya sampai di kediaman Leo. Dia dan Leo duduk di ruang tamu, kemudian dia memberikan berkas berisikan surat perjanjian yang telah lebih dulu Leo isi dan tandatangani.
Leo terdiam sejenak, setelah itu dia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan sedikit berat. Sungguh, dia gelisah sekarang.
Leo kemudian membuka berkas itu dan mulai membacanya dengan perlahan. Selama membacanya jantungnya tak henti-hentinya berdegup tak beraturan. Terkadang cepat, setelah itu seperti berhenti berdetak sejenak.
"Apa semua sesuai yang Anda inginkan?" tanya Haris. Dia memperhatikan Leo yang tampak tegang.
Leo pun hanya diam, dia mengulang membaca surat kesepakatan itu karena dia khawatir ada tulisan yang terlewat. Namun, setelah mengulangnya, Leo tak menemukan adanya yang terlewat.
Ya, di poin pertama Lili menuliskan bahwa dirinya setuju untuk tidak bercerai dengan Leo, tetapi dia juga menuliskan tuntutannya jika sampai Leo kembali mengkhianatinya.
Lili menuntut rumah yang sekarang menjadi tempat tinggal bersama dan sejumlah aset lainnya seperti tabungan yang dikumpulkan selama pernikahan, dan mobil yang Leo miliki sekarang jika sampai Leo kembali mengulangi kesalahannya.
Di sana juga Lili menuliskan bahwa Lili akan menyeret Leo ke pengadilan jika sampai Leo mengulangi kesalahnnya. Di sana Lili menuliskan pasal dan ayatnya di mana dia sana juga dijelaskan Leo bisa dikenakan hukuman kurungan penjara serta denda sejumlah uang.
Selesai membaca tulisan Lili, Leo melihat di bagian akhir demi memastikan untuk yang terakhir kalinya. Namun, sama seperti sebelumnya. Dia benar-benar telah melihat tandatangan Lili di sana. Lili telah menandatanganinya di atas materai sehingga surat kesepakatan itu terikat hukum yang kuat.
"Apa Anda baik-baik saja?" tanya pengacara, sontak Leo mengembuskan napas lega dan kembali melihat pengacara.
"Ya, sudah sesuai yang saya inginkan," ucap Leo, kemudian tersenyum.
Pengacara Haris kemudian tersenyum dan menyodorkan tangannya ke hadapan Leo.
__ADS_1
"Selamat untuk Anda, saya turut senang mendengar kalian akhirnya kembali berdamai," ucap pengacara Haris.
"Ya, setelah ini saya akan menjemput istri dan anak saya," ucap Leo.
"Baik, Pak. Kalau begitu saya takkan mengganggu Anda lagi, saya akan pergi sekarang," ucap pengacara dan diangguki oleh Leo.
Keduanya lantas bangkit dari sofa dan saling berjabat tangan. Leo mengucapkan terima kasih pada pengacara sebelum akhirnya pengacara benar-benar meninggalkan rumahnya.
Setelah itu dia pergi ke kamarnya dan memilih pakaian. Dia berniat untuk berganti pakaian sebelum menjemput Lili, tak mungkin dia akan memakai pakaian rumahan yang sedang dipakainya sekarang. Rasanya, ini seperti akan kencan dengan kekasih untuk pertama kalinya, Leo kebingungan mencari pakaian yang akan dipakainya.
Setelah menemukan pakaian yang cocok, seraya mengganti pakaiannya Leo juga menghubungi seseorang. Dia membicarakan sesuatu dengan orang itu.
Selesai bersiap Leo lantas pergi mencari asisten rumah tangga, setelah itu dia bicara sebentar dengan asisten rumah tangga.
"Apa ada lagi, Tuan?" tanya asisten rumah tangga yang tampak antusias mendengarkan Leo.
"Itu saja, saya akan menghubungi rumah jika sudah akan kembali ke sini," ucap Leo.
"Baik, Tuan," ucapnya dan Leo bergegas menuju garasi.
Leo memasuki mobilnya dan melajukan mobilnya menuju rumah baru Lili. Namun, sebelum sampai di rumah baru Lili, dia menghampiri toko bunga sebentar. Dia membeli sebuket bunga mawar merah dan melanjutkan perjalananya menuju rumah baru Lili.
Sesampainya di sana, Leo disambut oleh pengasuh Ani dan Maisy.
"Di mana Nyonya?" tanya Leo seraya meletakkan buket mawar di atas meja. Dia kemudian menggendong Maisy dan melihat ke sekeliling ruang tamu. Dia bingung karena tak melihat Lili ada di sana.
Sebelumnya Leo tak memberitahu Lili bahwa dia akan menjemput Lili dan membawanya kembali ke rumah hari ini. Dia benar-benar melupakan itu dan saking antusiasnya dia justru langsung pergi ke rumah Lili. Dia harap Lili takkan menolaknya dan mau kembali ke rumah mereka sekarang.
"Baiklah, saya akan menemui Nyonya dulu. Maisy saya kembalikan padamu dulu," ucap Leo dan Ani mengambil Maisy.
Leo kemudian pergi ke kamar Lili, di sana dia juga tak melihat Lili. Perhatiannya lantas tertuju pada pintu menuju ruang ganti yang terbuka. Perlahan dia mendekati pintu itu dan terdiam melihat Lili yang benar-benar baru selesai mandi. Lili hanya memakai handuk di tubuh dan di rambutnya yang terlihat basah.
"Ehem!"
Lili tersentak mendengar suara deheman Leo, dia lantas berbalik dan secara refleks melemparkan pakaian yang ada di tangannya ke arah Leo. Leo pun dengan sigap menangkapnya.
"Apa yang kamu lakukan? Sejak kapan kamu di sana?" ucap Lili seraya memegang dadanya. Dia benar-benar terkejut.
Bagaimana tidak? Dia tak mendengar langkah kaki seseorang. Namun, tiba-tiba Leo ada di dekatnya. Beruntung Leo yang datang, bagaimana jika yang datang adalah orang lain? Mungkin dia akan langsung tak sadarkan diri.
Leo tersenyum melihat Lili.
"Aku sejak tadi di sini, kenapa kamu tak menyadarinya?" ucap Leo.
Lili memutar bola matanya. Dia masih berusaha menormalkan detak jantungnya. Lili tersentak ketika tiba-tiba menyentuh kedua bahunya.
"Sekarang aku datang untuk menjemputmu dan Maisy, kita akan kembali ke rumah," ucap Leo.
__ADS_1
Lili pun terdiam mendengar ucapan Leo. Dia bahkan diam ketika Leo memeluknya.
"Aku telah menerima surat kesepakatan yang telah kamu isi dan tandatangani hari ini, aku sangat berterima kasih karena kamu mau memaafkanku. Tapi kamu harus mengingat ini, aku menjemputmu kembali bukan karena aku takut pada semua tuntutan yang kamu tuliskan di selembar kertas itu, aku tak takut kehilangan semua itu karena aku bisa dengan mudah mendapatkannya lagi," ucap Leo.
Lili menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan sedikit berat, setelah itu Leo melepaskan Lili.
"Apa kamu ingat dua tahun lalu aku pernah hampir menukar semua harta yang aku milikki denganmu agar kita bisa tetap bersama?" ucap Leo.
Lili hanya diam. Ya, meski begitu dia masih mengingatnya. Saat itu Florence pernah meminta hartanya dengan alasan untuk membayar semua perbuatan Leo yang telah menyakitinya dan setelah itu Florence takkan lagi mengganggu Leo. Namun, alih-alih takut kehilangan harta yang telah dia kumpulkan, saat itu Leo justru mengambil keputusan di luar dugaan. Leo justru memilih memberikan hartanya pada Florence.
Meski pada akhirnya tak sempat terjadi karena papi mertuanya yang mengetahui itu akhirnya memilih membantu Leo dengan menggunakan uangnya sendiri untuk membuat Florence tak lagi mengganggu Leo, tetapi Lili tetap mengingat kejadian itu. Bahkan saat itu dia merasa menjadi wanita paling beruntung karena Leo pria yang bijak dan telah mengambil keputusan yang tepat telah memilih keluarganya.
"Aku juga bisa memberikan semuanya jika kamu memintanya sekarang, aku takkan ragu kehilangan segalanya asalkan tidak kehilangan keluargaku. Ketika aku sendirian berada di rumah, rumah itu bagaikan kuburan. Sangat sepi, tak ada siapapun yang bisa kuajak bicara. Aku kemudian berpikir, masalahnya pasti karena yang mampu menghidupkan rumah itu tak ada di dalamnya," ucap Leo.
Lili tak mengatakan apapun, entah mengapa dia merasa tak pernah melihat tatapan Leo setulus seperti saat ini.
"Aku merindukanmu, Sayang. Kamu mau 'kan kembali ke rumah denganku hari ini?" ucap Leo.
Lili menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan perlahan.
"Ya," ucap Lili seraya tersenyum menatap Leo.
Leo tercengang seraya menyentuh dada kirinya.
Melihat itu Lili pun merasa bingung. Dia pun mulai panik saat Leo tampak kesulitan bernapas.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Lili.
"Sayang, sebenarnya sejak kamu pergi dari rumah jantungku bermasalah," ucap Leo.
"Apa maksudmu sebenarnya? Apa kamu sakit?" tanya Lili terdengar cemas.
Leo mengangguk membuat Lili terlihat semamin cemas.
"Kenapa kamu tak mengatakan apapun padaku? Bagaimana bisa kamu menyimpannya sendiri?" tanya Lili.
"Aku tak perlu mengatakannya padamu karena sekarang sudah jauh lebih baik," ucap Leo.
Lili mengerutkan dahinya ketika melihat Leo tersenyum. Apa mungkin Leo baru saja mengerjainya? Pikirnya curiga.
"Aku sudah mendapatkan obat yang paling ampuh, yaitu jawaban ya darimu tadi," ucap Leo, kemudian terkekeh.
Lili memukul dada Leo, dan Leo menggenggam tangan Lili.
"Bercandamu sungguh tak lucu!" kesal Lili seraya menarik tangannya. Dia pikir Leo benar-benar mengalami masalah di jantungnya. Tentu saja dia akan khawatir jika itu sampai terjadi, bagaimanapun Leo masih menjadi suaminya dan Leo juga ayah dari anaknya. Dia tak ingin terjadi sesuatu pada Leo.
Leo kembali terkekeh dan kembali memeluk Lili.
__ADS_1
"Aku rindu suara kembang api di rumah kita," ucap Leo.
Lili pun merasa bingung dengan apa yang Leo katakan, entah apa maksud Leo. Sejak kapan di rumah mereka biasa menyalakan kembang api? Pikirnya.