ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL

ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL
PART 58 - APA-APAAN INI?


__ADS_3

"Apa kamu sudah gila, kenapa kamu melakukan ini tanpa membicarakannya dulu padaku?" ucap Leo menatap Lili tak senang. Dia benar-benar terkejut melihat berkas itu.


Ya, bagaimana tidak? Lili baru saja memberikan berkas gugatan cerai padanya.


"Kita sudah membicarakan ini sebelumnya," ucap Lili dan meletakkan gelas di tangannya ke atas meja.


Leo lalu melihat ke sekelilingnya. Dia akan bicara pada Lili, tetapi dia khawatir akan ada yang mendengar ucapannya.


Leo lalu meletakkan tangannya ke atas meja untuk menopang tubuhnya. Kini wajahnya berada sangat dekat dengan wajah Lili.


"Kita memang pernah membicarakan ini, tapi aku tak pernah mengatakan setuju untuk bercerai denganmu," ucap Leo pelan.


"Kamu benar-benar pelupa, bukankah kamu sendiri pernah mengatakan bahwa kamu akan mengurus surat perpisahan kita? Aku hanya mempercepat semua itu karena aku pikir kamu terlalu sibuk dengan hal lain, dan mungkin takkan mengingatnya," ucap Lili.


"Omong kosong!" Leo berdiri tegap dan melemparkan berkas itu ke atas meja. Dia terdiam untuk beberapa saat. Setelah itu dia kembali melihat Lili.


"Baiklah, aku tak ingin berdebat denganmu sekarang," ucap Leo dan kembali duduk. Dia lalu mengembuskan napas berat.


"Tapi kamu harus tahu, aku takkan menandatangani surat ini!" tegas Leo seraya menekan berkas itu dengan jari telunjuknya. Tatapannya terlihat serius pada Lili.


"Oh ya, aku memiliki banyak bukti tentang perbuatan tak menyenangkan yang kamu lakukan selama kita menikah, jadi jangan mempersulit ini semua jika kamu tak ingin menjadi sulit!" ucap Lili mengancam Leo.


Leo pun tersenyum sinis.


"Terserah apa katamu, yang jelas aku takkan menceraikanmu!" tegas Leo dan bangkit dari kursinya. Dia menarik tangan Lili membuat Lili terpaksa bangkit dari kursinya.


"Lepaskan tanganku," ucap Lili ketika Leo mencoba menariknya menjauh dari meja itu.


Leo lantas melihat Lili.


"Dalam mimpimu," ucap Leo dan menarik Lili keluar dari restoran itu. Dia membawa Lili ke dekat mobilnya.


Lili pun menarik tangannya dan akhirnya terlepas dari genggaman Leo.


"Kamu harus ikut pulang denganku," ucap Leo.


"Aku takkan pulang denganmu," ucap Lili.


"Sayang sekali, kamu tak memiliki pilihan lain selain mengikuti apa yang aku inginkan!" tegas Leo dan mencoba meraih tangan Lili lagi. Lili pun segera menjauhkan tangannya sehingga Leo tak bisa meraihnya.


"Bisakah kamu tak kekanakan? Berapa kali harus aku katakan padamu, aku tak mau tinggal bersamamu lagi. Jadi cobalah untuk tidak menyulitkan-ku dan biarkan aku hidup tenang," ucap Lili.

__ADS_1


Leo menahan napasnya sejenak, setelah itu mengembuskannya dengan berat.


"Sayang, kita ini suami istri, tak benar kita tinggal terpisah seperti ini," ucap Leo dengan nada bicara sedikit lembut.


"Kita takkan lagi menjadi suami istri, Leo. Jadi berhenti melakukan semua ini, aku benar-benar muak padamu!" geram Lili dan akan meninggalkan Leo. Namun, Leo menahan tangan Lili dan membawa Lili ke posisi semula.


Lili pun menatap Leo dengan geram.


"Kita pulang dulu, ya. Kita bicarakan ini di rumah," ucap Leo seraya masih memegang tangan Lili dan tangan lainnya Leo gunakan untuk membuka pintu mobil. Dengan geram Lili menutup pintu mobil itu sehingga mengejutkan Leo.


"Mengertilah, Leo. Apapun yang kamu lakukan takkan merubah keputusanku," ucap Lili.


"Lili, apa kamu tak lagi mencintaiku?" tanya Leo.


"Bagaimana denganmu?" tanya Lili dengan cepat.


"Aku takkan mempertahankan pernikahan kita jika aku tidak mencintaimu lagi, Lili!" jawab Leo dengan cepat.


Lili terkekeh mendengar ucapan Leo.


"Aku serius, Lili!" kesal Leo.


"Tentu saja tidak, aku mencintaimu setiap saat. Sedang denganmu atau tidak, aku tetap mencintaimu," ucap Leo.


"Benarkah?" tanya Lili seraya menatap Leo seakan mengejek Leo.


"Jangan menatapku seperti itu!" ucap Leo tak senang.


"Lalu harus bagaimana aku menatap pria sepertimu? Siapa sebenarnya yang sedang kamu bodohi? Apa kamu pikir aku anak remaja yang akan mudah luluh hanya dengan mendengar kata cinta seperti itu?" ucap Lili.


Leo menghela napas. Dia merasa kesal, entah bagaimana caranya harus membujuk Lili sekarang.


"Leo, jika kamu mencintaiku takkan ada waktu celah sedikitpun dalam pandanganmu untuk melihat wanita lain, takkan ada waktu bagimu untuk bermain-main dengan wanita lain, apalagi berdiri di samping wanita lain sambil tersenyum bahagia di depan istrimu sendiri!" geram Lili.


Leo mengerutkan dahinya.


"Biar aku beritahu, Leo. Aku sebenarnya sedang memudahkan urusanmu untuk kembali pada wanita itu," ucap Lili.


"Apa maksudmu?" tanya Leo bingung.


"Benar-benar memuakkan, wajahmu seakan tak berdosa padahal dengan jelas kamu melihatku di acara peresmian kantor Florence hari ini!" geram Lili.

__ADS_1


Leo terkejut mendengar itu. Seketika dia teringat kembali pada saat dia berada di acara peresmian kantor Florence.


'Jadi dia benar-benar ada di sana?' batin Leo shock. Dia pikir dia hanya sedang berhalusinasi karena dia hanya melihat Lili sekilas.


"Kalian pasangan yang sangat cocok, kalian sama-sama tak memiliki rasa malu!" geram Lili.


"Aku tak ada hubungan apapun lagi dengan Florence dan kamu jelas tahu itu sejak lama," ucap Leo.


"Siapa yang tahu? Siapa yang akan percaya pada pembual sepertimu?" ucap Lili.


"Aku bersumpah!" ucap Leo pelan tetapi ada penekanan dalam nada bicaranya.


"Siapa yang akan percaya kalian tak memiliki hubungan apapun lagi sedangkan kalian terlihat mesra di depan umum? Bahkan dengan tak tahu malunya wanita itu memberikan bunga dan dirimu mengambilnya sambil menunjukkan senyum sumringah di wajahmu. Apa menyenangkan diperlakukan seperti itu oleh mantan kekasihmu, ha?" ucap Lili sedikit keras.


Leo pun melihat ke sekelilingnya. Bahaya sekali mulut istrinya itu, apa tak bisa bicara dengan pelan? Pikirnya.


"Sayang, aku mengerti kamu sedang cemburu, jadi apapun yang aku jelaskan kamu pasti takkan percaya padaku," ucap Leo terlihat putus asa.


"Ya, aku memang tak percaya padamu, bahkan takkan pernah percaya lagi!" kesal Lili dan berniat meninggalkan Leo. Namun, tiba-tiba dia teringat sesuatu yang sebenarnya sejak sebelum bertemu dengan Leo sudah dia persiapkan untuk dikatakan pada Leo.


"Oh ya, aku ingin memberitahumu bahwa aku bekerja di perusahaan Florence," ucap Lili.


"Apa?" Leo terkejut mendengar ucapan Lili.


"Ya, dan kamu tahu apa yang Florence katakan padaku tadi siang setelah acara itu selesai?" ucap Lili.


Leo terdiam, dia merasa terkejut. Bagaimana bisa Lili bekerja di perusahaan Florence tetapi dia tak tahu apapun padahal dia sering bertemu dengan Florence?


Kenapa Florence tak mengatakan apapun padanya? Jika saja Florence mengatakan bahwa Lili bekerja di perusahaannya, dia pasti takkan seperti orang bodoh yang akan mencari Lili ke sana kemari, pikirnya.


"Dia mengatakan dia masih mencintaimu dan dengan cara apapun dia akan merebutmu dariku," ucap Lili.


Leo lagi-lagi terdiam, lagi-lagi dia dibuat terkejut mendengar ucapan Lili. Dia juga tak mengerti mengapa Lili mengatakan itu padanya? Bukankah jika apa yang Lili katakan benar, seharusnya Lili takkan mengatakannya demi menjaga perasaannya sendiri?


"Aku berbaik hati memberitahumu karena itu mungkin bisa membuatmu berubah pikiran dan akan segera menandatangani berkas gugatan cerai yang kuberikan padamu. Dengan begitu semua akan selesai dengan cepat dan dengan cepat juga kamu bisa kembali pada wanita itu," ucap Lili kemudian tersenyum.


Leo akan mengatakan sesuatu, tetapi Lili tak memberikan kesempatan untuk Leo bicara. Lili justru langsung meninggalkan Leo.


Leo pun hanya diam, dia tak lagi mencoba menahan Lili dan hanya melihat Lili yang semakin menjauhinya.


'Apa-apaan ini, kenapa aku seperti orang bodoh sekarang? Kenapa juga Florence bicara akan merebutku dari Lili sedangkan dia tahu Lili istriku, apa dia sudah tak waras?' gumam Leo bingung.

__ADS_1


__ADS_2