
Ke esokan harinya.
Sebelum pergi ke kantor Leo pergi ke kediaman Florence terlebih dahulu. Dia sekarang sedang duduk menunggu Florence di ruang tamu.
Tak lama Florence datang seraya masih memakai gaun tidurnya. Dia tampak terkejut melihat Leo datang ke kediamannya. Pasalnya, sebelumnya Leo tak mengatakan akan datang menemuinya.
"Kenapa kamu datang mendadak? Aku jadi menyambutmu seperti ini," ucap Florence bingung.
"Apa Lili bekerja di perusahaanmu?" tanya Leo.
Florence terdiam. Dia bingung, dari mana Leo tahu, apa mungkin Lili memberitahu Leo? Pikirnya.
"Dia kemarin melihatku ada di acara itu, dan kamu juga tahu tentang itu, benar 'kan?" ucap Leo.
"Ya, tapi --"
Florence terdiam ketika Leo bangkit dari duduknya dan menghampirinya.
"Kenapa kamu tak mengatakan bahwa Lili bekerja di perusahaanmu, dan apa sebenarnya tujuanmu datang padaku lagi?" tanya Leo, sontak Florence mengerutkan dahinya.
"Apa maksudmu? Kita bertemu secara kebetulan dan kamu tahu itu. Bahkan kamu yang sejak awal menghubungiku dan mengajakku bertemu 'kan setelah kita bertemu saat aku menjadi EO untuk perusahaanmu?" ucap Florence.
"Ya, tapi kenapa setelah itu kamu terus mengajakku bertemu? Kamu bahkan ingin berteman denganku," ucap Leo.
Florence terdiam sejenak. Dia terpikir lagi pada Lili, apa Lili mengatakan kejadian kemarin pada Leo sehingga kali ini Leo mendatanginya dengan pertanyaan-pertanyaan yang entah mengapa sepertinya berkaitan dengan pertengkarannya dengan Lili kemarin.
"Bukankah sebelumnya aku pernah mengatakan padamu? Aku ingin berteman denganmu karena aku ingin mencoba membuka diriku, aku telah mengatakan alasannya padamu," ucap Florence.
"Kamu masih mencintaiku, apa itu benar?" tanya Leo.
"Apa maksudmu?" tanya Florence terlihat semakin bingung.
__ADS_1
"Benar atau tidak? Kamu tinggal menjawabnya," ucap Leo.
Florence menghela napas panjang.
"Aku benar-benar tak mengerti dengan apa yang kamu katakan, kapan aku mengatakan seperti itu? Aku bahkan tak mengingatnya," ucap Florence.
"Lili bilang kamu mengatakan padanya bahwa kamu masih mencintaiku dan akan merebutku darinya, apa itu benar?" tanya Leo.
Florence terkejut mendengar ucapan Leo. Dia tak menyangka Lili akan mengatakan apa yang dikatakannya kemarin pada Leo, bahkan gilanya Lili menambahkan apa yang tak dia katakan pada Lili kemarin. Kapan dia bilang masih mencintai Leo? Dia benar-benar tak merasa mengatakan itu pada Lili.
"Apa sebenarnya yang kamu katakan? Aku benar-benar tak mengerti, Leo. Dan soal Lili bekerja di perusahaanku, ya itu memang benar. Kemarin adalah hari pertama Lili bekerja di perusahaanku dan itupun aku baru tahu setelah asistenku mengatakan bahwa posisi manajer keuangan telah diisi oleh karyawan baru dan aku memanggil karyawan baru itu yang ternyata adalah Lili. Jujur saja aku shock karena Lili bekerja di perusahaanku, sedangkan aku tahu Lili menikah denganmu dan tak mungkin kamu tak memberinya uang," ucap Florence.
"Benarkah? Apa mungkin seorang pemilik perusahaan tak tahu siapa yang melamar pekerjaan di perusahaannya?" tanya Leo seraya menatap Florence curiga.
"Itu memang kenyataannya, pada awalnya aku memang tak tahu karena aku tak mengurus bagian itu. Aku menyerahkan semua pekerjaanku pada asistenku. Seharusnya kamu mengerti tentang itu, tak ada atasan yang mengurus hal-hal seperti itu," ucap Florence.
"Tapi tak mungkin seorang atasan tak peduli dan tak mencari tahu terlebih dahulu siapa orang yang akan mengisi posisi penting di perusahaannya. Kamu pasti tak sebodoh itu, Florence," ucap Leo.
"Apa sebenarnya tujuanmu datang ke sini? Apa kamu ke sini hanya ingin menanyakan hal-hal seperti ini saja? Atau apa sebenarnya yang Lili katakan padamu? Apa tak cukup baginya telah menghinaku kemarin? Dia mengatakan aku wanita tak tahu malu karena menerimamu di apartemenku padahal di hari yang sama kamu baru saja menikahinya, dia bahkan mengatakan aku wanita menjijikan," ucap Florence.
Leo terdiam. Dia tak menyangka Lili akan mengatakan seperti itu pada Florence. Apa Lili masih dendam pada Florence? Pikirnya.
"Jujur Leo, aku sangat terluka karena ucapan istrimu. Apa aku yang datang di antara kalian? Kamu jelas tahu yang sebenarnya. Jikapun aku mau, aku sudah memakinya kemarin karena kenyataannya dialah yang datang di antara kita dan menghancurkan hubungan kita di masa lalu. Tapi tidak, aku melihatnya sama sepertiku. Aku dan dia sama-sama perempuan, aku juga telah menutup masa laluku dan telah berusaha untuk tidak mengingatnya lagi, tapi dia justru menghinaku untuk sesuatu yang terjadi di masa lalu!" geram Florence.
Leo terdiam lagi. Entah pada siapa dia harus percaya sekarang.
"Aku hanya ingin memiliki teman dan aku pikir berteman dengan seseorang yang pernah dekat dan sangat spesial bagiku sama sekali tak masalah, tapi aku lupa dan itu mungkin karena kesalahanku juga. Kamu pria beristri, tak seharusnya aku dekat denganmu lagi. Lili pasti cemburu, karena itu mengatakan hal tidak-tidak tentangku padamu," ucap Florence dan duduk di kursi. Dia menutupi wajahnya sedangkan Leo memperhatikannya masih dalam keadaan berdiri.
"Aku bahkan tak sampai hati untuk memecatnya karena aku yakin dia memiliki alasan mengapa dia akhirnya memutuskan untuk bekerja. Tapi aku benar-benar tak habis pikir, apa kesalahanku sehingga dia menjelekkan-ku di depanmu? Apa karena dia marah melihatmu di acara itu kemarin jadi langsung berpikir yang tidak-tidak tentang kita?" ucap Florence.
Leo terdiam, dan Florence kembali menghampiri Leo.
__ADS_1
"Bukankah seharusnya dia bicara baik-baik padaku dan menanyakan yang sebenarnya? Aku bisa menjawabnya bahwa tak ada apapun diantara kita. Jangan seperti ini, beraninya dia menjelekkan-ku di belakangku bahkan sampai berani mengatakan aku wanita tak tahu malu, dia sangat berlebihan," ucap Florence.
"Padahal banyak di luar sana wanita dan pria yang dekat karena hubungan pertemanan, tapi kenyataannya pasangan mereka merasa baik-baik saja. Entah bagaimana caramu bisa bertahan dengan wanita seperti Lili, dia benar-benar membosankan," ucap Florence.
"Dia masih istriku," ucap Florence.
"Tapi dia keterlaluan!" kesal Florence.
Leo akhirnya mengembuskan napas kasar.
"Kalian sama saja. Kalian saling menjelekkan satu sama lain. Benar-benar wanita!" ucap Leo dan berbalik.
"Apa maksudmu? Aku hanya memberitahumu yang sebenarnya, aku tak mengatakan aku masih mencintaimu pada Lili, tentu saja aku masih waras. Jikapun aku memiliki niat buruk terhadapmu dan Lili, tentu aku akan melakukannya secara diam-diam," ucap Florence.
Leo kembali melihat Florence.
"Ya, apa yang kamu katakan memang masuk akal, tapi aku tak tahu siapa yang bicara jujur padaku. Yang aku tahu, ketika seseorang sedang cemburu mereka takkan mengatakan kebohongan dan seseorang yang memendam rasa dendam, mereka bisa saja mengatakan apapun untuk membela diri mereka sendiri, bahkan rela melakukan apapun," ucap Leo dan meninggalkan Florence.
Florence mengepalkan tangannya. Dia sangat marah sekarang. Terutama pada Lili.
'Mulutnya benar-benar keterlaluan, kupikir dia takkan berani mengatakan apapun pada Leo, tapi ternyata dia sungguh berani. Dia benar-benar mencari masalah denganku!' batin Florence geram.
Sementara itu, Leo melajukan mobilnya meninggalkan rumah Florence. Dia tak mengerti siapa sebenarnya yang mengatakan kejujuran sekarang. Bagaimanapun dia telah menemui Florence dan mendengarkan yang Florence katakan tadi. Namun, jika itu benar, bukankah Lili sangat keterlaluan? Apa karena begitu inginnya Lili berpisah dengannya sampai dia bicara omong kosong dengan mengatakan Florence masih mencintainya?
'Apa dia pikir dengan mengatakan itu aku akan tersanjung dan akan kembali pada Florence?' gumam Leo.
Jika dipikir, Florence memang sangat cantik, bahkan lebih cantik dari Lili dan dia sempat tertarik kembali karena melihat Florence semakin cantik dan terlihat semakin dewasa dibandingkan saat dulu ketika masih berhubungan dengannya.
Dulu Florence sangat bergantung padanya dan apapun pasti akan meminta bantuannya. Namun, dia tak pernah berpikir akan meninggalkan Lili hanya demi kembali pada Florence. Dia hanya menyukai Florence saja, dia bahkan tak berpikir untuk membangun kehidupan bersama Florence.
Leo lalu mengambil ponselnya dan menekan panggilan menuju kontak Lili. Namun, Lili justru menolak panggilannya. Leo lantas meremas ponselnya dan mengembuskan napas berat.
__ADS_1
'Lili benar-benar marah padaku, sekarang bahkan aku tak tahu lagi bagaimana cara untuk membawanya kembali ke rumah. Jika Papi dan Mami sampai tahu Lili pergi membawa cucu mereka dari rumah, mereka pasti akan menelanku!' gumam Leo.