
Lili merasa kehilangan antusiasnya setelah mendengar Leo yang justru memintanya untuk tak memasak makan siang lantaran Leo akan makan siang di luar. Seketika itu juga dia menghentikan belanjanya dan membawa semua belanjaan yang telah dia kumpulkan di dalam troli menuju kasir, dia membayar semua belanjaan itu.
"Tak masalah jika Leo tak mau memakan masakanku, aku akan tetap memasak untuk diriku sendiri," ucap Lili di tengah langkahnya. Dia sebenarnya kesal, tapi apa daya tak ada yang bisa dia lakukan. Leo juga langsung mengakhiri teleponnya, padahal dia masih ingin bicara. Dia jadi malas menghubungi Leo.
***
Waktu berlalu, di sisi lain.
Menjelang petang, Leo sudah berada di kamarnya di hotel yang akan menjadi tempat pesta perayaan kerjasamanya dengan Mr. Jacob. Dia bahkan sudah selesai bersiap dan tinggal memakai tuxedo-nya. Dia lantas menghubungi Barry, dan menanyakan apakah ballroom telah benar-benar siap untuk pesta nanti?
'Sudah 100 persen, Pak. Oh ya, apa ada yang Anda butuhkan untuk pesta nanti? Untuk orang yang akan menjemput Mr. Jacob, saya sudah perintahkan untuk menjemput Mr. Jacob sekarang,' ucap Barry.
Leo terdiam sejenak. Sepertinya semua telah cukup jika persiapan itu telah selesai 100 persen, jadi dia tak butuh apapun lagi, pikirnya.
'Tak ada,' ucap Leo.
'Baiklah,' ucap Barry dan telepon itu berakhir.
Leo lantas melihat kontak Lili mengirimkan pesan padanya.
'Bagaimana persiapan pestanya?' tanya Lili di pesan itu.
Leo pun menekan panggilan video menuju kontak Lili dan Lili langsung menjawab panggilannya. Tampaklah Lili yang sedang bersama Maisy di tempat tidur. Leo pun tersenyum melihat Maisy yang terlihat sibuk dengan mainannya.
'Kamu di mana? Kenapa sepi sekali?' tanya Lili.
'Aku masih di kamar hotel, aku akan keluar sebentar lagi,' ucap Leo.
'Oh begitu,' ucap Lili.
Leo mengabaikan Lili dan justru memperhatikan Maisy.
'Apa yang sedang anak itu lakukan?' tanya Leo.
'Anak mana?' tanya Lili.
'Maisy, memangnya yang mana lagi? Dia yang bersamamu sekarang,' ucap Leo tak habis pikir.
__ADS_1
Lili terlihat memutar bola matanya.
'Habisnya seperti bukan ke anak sendiri saja,' ucap Lili.
Leo menggelengkan kepalanya. Dia pikir, tak ada yang salah dengan apa yang dia katakan.
Lili pun akhirnya menyandarkan ponselnya pada bantal dan membuat posisi ponselnya menangkap gambar Maisy. Dia lantas sedikit menjauh dari Maisy.
Perhatian Maisy pun beralih pada ponsel Lili. Dia tersenyum melihat wajah Leo yang tampak di layar ponsel Lili.
'Papi!' ucap Maisy seraya menggerakan tubuhnya dengan penuh antusias. Dia tampaknya senang melihat wajah Leo yang terlihat di layar ponsel Lili.
'Yes, Baby,' ucap Leo seraya tersenyum. Maisy lalu menunjukan mainan yang dia pegang ke hadapan kamera, seakan dia ingin memberitahu Leo bahwa dia sedang bermain. Setelah itu, dia memasukan mainan itu ke dalam mulutnya.
'No, hey!' pekik Leo sontak Lili yang mendengar pekikan Leo pun dibuat terkejut dan bergegas mengambil ponselnya.
'Dari mana saja? Maisy memasukan mainan ke mulutnya. Kenapa kamu diam saja?' tanya Leo.
'Aku sedang mengambil pampers Maisy,' ucap Lili.
'Jika ingin mengambil sesuatu sebaiknya ajak Maisy juga, jangan sampai dia lepas dari pengawasanmu,' ucap Leo memperingatkan.
'Ya sudah, urus Maisy dulu saja,' ucap Leo.
'Ya,' ucap Lili dan Leo pun mengakhiri panggilan video itu.
"Bagaimana, sih? Menjaga anak sambil melakukan sesuatu, bagaimana jika anak itu menelan mainannya? Mending juga jika mainannya steril!" gerutu Leo.
***
Waktu pun berlalu. Menjelang beberapa menit dimulainya pesta itu, Leo dan semua orang dari perusahaan sudah berada di ballroom hotel. Bahkan, sang kakak juga sudah berada di sana. Sang kakak juga datang tanpa membawa istrinya.
Selang beberapa menit Mr. Jacob bersama timnya pun sampai di ruangan itu dan tak lama setelah itu pesta pun dimulai. Leo memperkenalkan para petinggi di perusahaannya pada Mr. Jacob. Setelah itu, semau orang di pesta itu terlihat semakin menikmati pesta itu. Banyak sekali minuman berkadar alkohol di sana.
Sepertinya, orang-orang seperti Mr. Jacob sudah sangat terbiasa dengan pesta seperti itu, mereka selalu merasa antusias untuk pesta-pesta seperti itu. Mereka bahkan kuat sekali meminum minuman berkadar alkohol, meski wajah mereka sudah terlihat memerah, mereka bahkan tampak tetap sadar.
Sedangkan Leo yang sudah lama sekali tak minum minuman berkadar alkohol dalam jumlah banyak, wajahnya benar-benar merah mengalahkan para tamu undangan itu. Kesadarannya juga mulai sedikit berkurang dan tubuhnya mulai terasa panas. Leo lantas pamit menuju toilet pada Mr. Jacob. Dia pun bergegas menuju toilet, dia merasa ingin buang air kecil.
__ADS_1
Begitu keluar dari toilet, Leo terkejut ketika berpapasan dengan Florence yang juga baru saja keluar dari pintu toilet wanita yang berada tepat di depan pintu toilet pria.
"Kamu di sini?" tanya Leo.
"Ya, aku harus memastikan tim-ku bekerja dengan baik, aku juga akan di sini sampai pesta itu selesai. Karena aku bersama tim-ku juga harus membereskan barang-barangku," ucap Florence.
Leo mengangguk dan mengulurkan tangannya untuk memberikan jalan pada Florence.
"Duluan saja," ucap Leo.
Florence tampak canggung dan dia mengangguk. Dia lantas berjalan lebih dulu, sementara Leo berjalan di belakangnya.
Leo terus memperhatikan lekuk tubuh belakang Florence hingga akhirnya dia berpisah dengan Florence. Rupanya, Florence tak pergi ke ballroom. Leo pun kembali ke ballroom dan melanjutkan pesta itu hingga pesta itu selesai.
Setelah Mr. Jacob meninggalkan ballroom, orang-orang yang bekerja di perusahaannya pun meninggalkan ballroom, termasuk sang kakak. Sementara itu, Leo masih berada di sana bersama Barry. Dia sedang bicara dengan Barry.
Perhatian Leo lantas teralihkan ketika melihat Florence yang baru saja memasuki ballroom bersama para pekerjanya. Mereka akan melepaskan semua dekorasi yang dipakai di pesta tadi. Sementara itu, para pegawai hotel pun mulai melakukan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab mereka di sana.
Leo kembali melihat Barry ketika tiba-tiba saja Florence melihat ke arahnya. Dia lantas berdeham.
"Tolong suruh Florence menemui Saya di kamar Saya," ucap Leo.
Barry terdiam sejenak, dia merasa bingung. Kenapa Leo ingin Florence menemuinya padahal Florence ada di ruangan itu juga? Pikirnya. Tepat ketika Leo akan pergi, Leo tiba-tiba teringat sesuatu. Dia sepertinya mulai menyadari kebingungan dari bawahannya itu.
"Kirimkan bukti pembayaran awal dari jasa EO yang kita pakai, Saya akan membayar sisanya," ucap Leo.
Barry pun tampak semakin bingung.
"Bukankah kita akan memakai uang perusahaan?" tanya Barry. Seingatnya, apapun yang dilakukan untuk perusahaan, maka akan melibatkan keuangan perusahaan. Sejak awal pun uang muka untuk jasa EO itu telah dibayarkan oleh perusahaan.
"Tidak, pesta ini sebenarnya atas inisiatif Saya. Saya yang akan membayar semuanya," ucap Leo dan meninggalkan Barry. Dia bahkan meninggalkan ballroom.
Barry lantas menghampiri Florence dan menyampaikan pesan Leo tadi. Florence pun tampak bingung mendengar apa yang Barry katakan.
"Memangnya, dia di mana?" tanya Florence.
Barry menyebutkan nomor kamar hotel Leo dan Florence lagi-lagi terdiam.
__ADS_1
"Jika kamu khawatir, aku bisa mengantarmu ke sana. Tapi, aku mengenal Pak Leo. Sejauh yang aku tahu, dia adalah orang yang baik. Jadi kamu tak perlu khawatir, apalagi dia tahu kamu temanku," ucap Barry seraya tersenyum.
Florence masih juga diam, bahkan dia tak mengatakan apapun hingga Barry pergi. Entah apa yang ada di pikirannya setelah tahu Leo memintanya datang ke kamar Leo.