ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL

ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL
BAB 16 - LEO MERAMPOK LILI?


__ADS_3

Selang beberapa menit, Lili dibuat terkejut ketika tiba-tiba datang dari belakangnya 2 buah paper bag yang kemudian mendarat di atas meja tepat di depannya. Kedua paper bag itu berwarna putih dan entah apa isinya, entah siapa juga yang meletakannya.


Lili pun semakin terkejut ketika ternyata tak lama Leo kembali menduduki kursi yang sebelumnya diduduki Leo.


"Apa kamu yang baru saja meletakan paper bag ini?" tanya Lili. Entah apa maksudnya? apakah Leo belanja? pikir Lili.


"Ya, lihatlah. Aku membelikannya untukmu," ucap Leo.


Lili terdiam sejenak, setelah itu dia melihat isi dari kedua paper bag itu. Ternyata isi papar pertama adalah sebuah gaun dan sebuah high heels di paper kedua.


Tak lama, Leo meletakan dompet Lili di atas meja. Lili pun semakin dibuat bingung. Di atas dompet itu ada nota belanja. Dia pun mengambil nota belanja itu dan terkejut ketika melihat bahwa, gaun dan high heels itu ternyata dibeli menggunakan debit miliknya. Bahkan yang membuatnya terkejut adalah, kedua barang itu menghabiskan total dua digit.


"Apa-apaan ini? Astaga ..." Lili benar-benar. Leo benar-benar keterlaluan. Membuang uang hanya untuk membeli dua barang tersebut yang jelas sekali tak Lili butuhkan.


Lili pikir, gaunnya yang belum terpakai saja masih ada, apalagi high heels. Dia jarang pergi keluar, apalagi menghadiri pesta di luaran saja. Lantas, untuk apa Leo membeli semua itu untuknya, terlebih mengapa harus memakai debit miliknya?


"Kenapa? Aku membantumu mendapatkan sesuatu yang bagus. Bukankah itu adil? Kamu lihat saja semua belanjaan yang kamu beli sebelumnya, semuanya hanya untuk Maisy. Kenapa tak pikirkan dirimu juga?" ucap Leo.


"Ya ampun ... Ada apa sebenarnya denganmu?" ucap Lili tak habis pikir.


Leo mengambil minumannya yang sebelumnya dia pesan. Pesanannya sudah berada di meja. Setelah meminumnya, dia kembali melihat Lili.


"Apa kata orang nanti jika hanya anak kita yang terlihat menarik dalam berpakaian, tetapi Maminya tidak? Tentu saja aku yang akan malu," ucap Leo.


"Tapi aku tak butuh semua ini, aku masih punya gaun dan high heels yang belum dipakai. Aku bahkan jarang memakai barang-barang seperti ini!" kesal Lili.


Leo menggidigkan bahunya, membuat Lili semakin kesal. Leo benar-benar sudah gila, hanya karena dirinya tak membeli apapun untuk diri sendiri, bukan berarti Leo harus menggunakan uang untuk sesuatu yang mubajir 'kan?


Ya, memang benar. Paper bag yang sebelumnya Leo periksa berisikan semua kebutuhan Maisy. Namun, kenapa Leo sampai bersikap seperti itu? Lili benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran Leo.


"Lagipula, jika mau membelikan untukku, pakai saja uangmu. Kenapa memakai uangku? Dasar perampok!" kesal Lili.


"Akan aku ganti, tenang saja," ucap Leo dengan santainya, tetapi itu membuat Lili semakin kesal.

__ADS_1


"Selain itu, aku memang sengaja menggunakan uang di debitmu. Agar kamu meminta uang lagi padaku," ucap Leo.


Lili menatap Leo dengan sedikit tajam.


"Aku heran, bagaimana bisa kamu berbeda dengan istri-istri temanku?" ucap Leo.


"Apa maksudmu?" tanya Lili tak senang. Lagi-lagi Leo mencoba membandingkannya dengan orang lain, benar-benar keterlaluan, pikir Lili.


"Ya, istri-istri mereka senang menghabiskan uang. Bahkan Mamiku juga begitu, tapi kenapa kamu hemat sekali? Aku benar-benar terganggu melihat kebiasaanmu itu. Rasanya, aku ingin tiduran saja di rumah jika kamu terus seperti itu," ucap Leo, dan menyandarkan punggungnya di kursi. Kali ini dia terlihat malas saat menatap Lili.


Lili akan mengatakan sesuatu, tetapi Leo tiba-tiba kembali duduk tegap, bahkan sedikit mendekat ke hadapan Lili.


"Aku jadi tak semangat mencari uang," ucap Leo.


Lili pun mendorong wajah Leo membuat Leo bergegas menjauh. Dia menatap Lili dengan sedikit tajam. Lili benar-benar lancang, membuatnya malu saat melihat ternyata ada yang melihat ke arahnya. Orang itu pasti juga melihat apa yang dilakukan Lili padanya, pikirnya.


"Aku tahu seperti apa rasanya mencari uang, jangan lupakan aku pernah melakukannya. Aku bahkan bekerja keras untuk itu, jadi aku sangat menghargai uang," ucap Lili.


"Siapa bilang aku terpaksa? Aku senang melakukannya, sok tahu sekali," ucap Lili.


"Pada intinya, sekarang kamu bisa melakukan apapun yang kamu inginkan. Hanya tinggal mengatakannya padaku, maka semuanya akan kamu dapatkan. Tapi aku heran sekali, kamu tak pernah meminta barang apapun padaku," ucap Leo.


Lili menghela napas dan mengambil minumannya. Memang akan percuma bicara dengan Leo. Leo pada dasarnya terlahir dari keluarga kaya raya, jadi mungkin dia tak pernah merasakan seperti apa kerja keras bagaikan kuda hanya demi mendapatkan hasil yang tak seberapa.


Dulu, Lili bahkan harus bekerja keras demi mendapatkan posisi yang Leo dapatkan sekarang di perusahaan keluarga. Apa daya, dia bukan terlahir dari keluarga kaya raya, tak seperti Leo. Apalagi, Leo adalah anak terakhir, dia pasti terbiasa dimanjakan oleh orangtuanya.


"Aku sudah lama sekali tak berkencan," ucap Leo.


"Berkencan saja sana! Wanita mana yang akan berkencan denganmu?" kesal Lili.


Leo menghela napas dan kembali mendekat ke hadapan Lili.


"Tentu saja wanita yang sekarang ada di depanku," ucap Leo, kemudian tersenyum.

__ADS_1


Lili memutar bola matanya. Dia tahu Leo sedang mengatakan ingin mengajaknya berkencan.


"Boleh membawa Maisy," ucap Leo kemudian kembali menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


Lili pun terdiam, dia sedang berpikir tentang keanehan Leo. Biasanya, Leo enggan membawa Maisy jika Leo ingin mengajaknya pergi keluar. Apa karena sekarang Maisy juga sudah terlanjur bersamanya? Pikir Lili.


"Baiklah," ucap Lili.


"Ya sudah, suruh suster membawa Maisy ke sini," ucap Leo kemudian tersenyum.


'Aku tak tahu apa yang terjadi padanya hari ini, tapi rasanya sedikit lebih baik jika dia mau membiarkan Maisy juga ikut dengannya,' batin Lili.


Hanya saja, Lili masih bingung. Ke mana sebenarnya Leo akan mengajaknya pergi?


Lili pun mengambil ponselnya dan menghubungi kontak pengasuh Maisy. Dia meminta pengasuh Maisy membawa Maisy kembali.


Selang beberapa menit, Maisy pun kembali dan Leo langsung mengajak Lili meninggalkan restoran. Mereka pergi menuju mobil Leo, dan Leo mulai melajukan mobilnya meninggalkan Mall.


Begitu mobil sampai di tempat yang dituju, Lili pun baru menyadari bahwa, Leo membawanya ke hotel milik keluarga. Di tengah rasa bingungnya, Lili mencoba menahan pertanyaan yang muncul di kepalanya. Entah mengapa Leo membawanya ke hotel. Untuk apa? Pikir Lili.


Lili dan pengasuh Maisy yang menggendong Maisy pun menyusul Leo yang keluar lebih dulu. Setelah itu, Leo tampak memberikan kunci mobil pada seorang petugas Valey.


Tak lama, Leo mengambil dua buah paper bag yang berisikan gaun dan heels untuk Lili dari mobil.


"Kenapa ke hotel?" tanya Lili.


"Kamar 444, naik duluan dan ajak Maisy," ucap Leo yang justru mengabaikan pertanyaan Lili. Leo juga menyodorkan kedua paper bag itu ke hadapan Lili.


Lili lantas mengambil kedua paper bag itu, dan Leo memberikan kartu akses masuk ke kamar hotel miliknya. Dia memiliki kartu itu yang merupakan fasilitas yang diberikan khusus untuknya. Dan kamar 444 adalah kamar yang tak boleh ditempati oleh pengunjung manapun karena itulah kamar miliknya di hotel tersebut.


Baru saja Lili akan mengatakan sesuatu, tetapi Leo justru meninggalkannya dengan memasuki hotel lebih dulu.


'Aku semakin tak mengerti dengannya, sekarang dia justru meninggalkanku,' batin Lili.

__ADS_1


__ADS_2