
"Ini sudah waktunya jam pulang kantor, tentu saja aku akan pulang ke rumah," ucap Leo.
"Ya, aku tahu itu. Tapi kupikir akan ada acara di luar yang akan membuatmu pulang terlambat ke rumah," ucap Lili.
Leo menghela napas, kemudian mendekati Lili.
"Aku melihat meja makan kosong, apa tak ada makan malam?" ucap Leo.
"Oh, ya ampun ... Aku meminta Ani untuk tidak memasak makan malam," ucap Lili.
"Kenapa?" tanya Leo bingung.
"Karena aku pikir hanya aku yang akan makan di rumah," ucap Lili.
"Apa maksudmu? Lalu bagaimana denganku? Apa kamu tak menganggapku tinggal di rumah ini?" ucap Leo heran.
"Bukan begitu, bukankah aku sudah mengatakan padamu? Aku pikir kamu akan pulang terlambat, jadi untuk apa memasak makan malam sedangkan saat kamu pulang terlambat kamu selalu sudah makan di luar," ucap Lili.
"Oh ayolah ..." Leo memutar bola matanya. Dia jadi teringat pada kejadian tadi siang, apa sebenarnya yang merasuki Lili sehingga Lili bersikap sangat jauh berbeda dari biasanya? Dia masih terpikirkan, siapa sebenarnya teman Lili? Jangan-jangan teman Lili yang menyebabkan sikap Lili berubah, pikirnya.
"Oh ya, tolong temani Maisy dulu," ucap Lili dan akan meninggalkan Leo keluar kamar.
"Mau ke mana?" tanya Leo.
"Aku akan membuat makan malam untukmu," ucap Lili.
"Tak perlu, menunggumu masak cacing-cacing di perutku akan berdemo karena menunggumu pasti akan lama," ucap Leo.
"Jadi?" ucap Lili seraya mengangkat bahunya.
"Aku akan pesan makan saja dari luar," ucap Leo dan pergi ke ruang ganti.
Lili pun terdiam, raut wajahnya tampak tak senang. Bukan karena Leo menolak untuk dibuatkan makan malam olehnya, melainkan saat dia meminta Leo menunggu Maisy Leo sama sekali tak melihat Maisy. Padahal beberapa hari yang lalu Lili sudah sempat bersyukur melihat kedekatan Leo dengan Maisy. Sayangnya dia tak mengerti mengapa Leo kembali bersikap acuh terhadap Maisy.
Lili menghampiri Maisy dan menggendong Maisy.
"Untung kamu belum mengerti apa yang dilakukan Papimu, semoga kamu tak merasa sakit hati diabaikan seperti itu oleh Papimu dan ingatlah ini, seburuk apapun Papimu, dia tetap Papimu. Jadi Mami harap kamu akan selalu menghormatinya," ucap Lili.
__ADS_1
Maisy seharusnya belum mengerti apa yang Lili katakan, tetapi setelah mendengar ucapan Lili, Maisy tersenyum seraya menyentuh pipi Lili seakan Maisy memahami apa yang Lili katakan dan mencoba membuat Lili untuk tak terlalu khawatir.
Lili pun tersenyum mendapatkan sentuhan lembut itu dari tangan kecil Maisy.
"Baiklah, minum susu dulu. Setelah itu kita tidur," ucap Lili, kemudian membawa Maisy keluar dari kamar. Dia mencari pengasuh Maisy dan meminta pengasuh Maisy untuk membuatkan susu. Setelah itu dia kembali ke kamar dan menunggu di sana.
Setelah susu siap, Lili menidurkan Maisy di box bayinya dan Maisy mulai meminum susu melalui dotnya.
Sementara itu di ruang ganti, Leo yang baru saja akan memasuki kamar mandi mendengar dering panggilan masuk dari ponselnya. Dia lantas mengambil ponselnya dan melihat Hans lah yang menghubunginya.
'Ada apa anak ini menghubungiku?' batin Leo bingung. Apa mungkin temannya itu akan mengajaknya nongkrong? Pikirnya.
'Ya, halo,' ucap Leo, menjawab panggilan Hans.
'Leo, apa Lili baik-baik saja?' tanya Hans.
Leo mengerutkan dahinya, dia merasa bingung karena temannya itu menanyakan keadaan istrinya.
'Apa maksudmu? Memangnya apa yang terjadi pada Lili?' tanya Leo.
'Sudah kuduga, mereka itu memang senang sekali membicarakan sesuatu yang tak penting,' ucap Leo.
'Memangnya kamu belum melihatnya? Bukankah kamu masih ada di grup itu?' tanya Hans.
'Aku belum melihatnya, aku tak memiliki waktu untuk itu,' ucap Leo.
Ya, Leo amat sangat jarang membuka grup alumni. Pasalnya di grup itu hanya membicarakan sesuatu yang tak jelas sehingga dia malas melihat grup itu. Sekalipun membukanya dia hanya menghapus chat-chat di dalamnya. Dia tak tertarik untuk ikut mengobrol dengan teman-teman alumni sekolahnya dulu.
'Ya, aku pun baru melihatnya, aku sibuk seharian ini,' ucap Hans.
'Aku pun sibuk, lagipula aku males melihat grup itu,' ucap Leo.
'Ya, jadi apa Lili baik-baik saja?' tanya Hans.
'Tentu saja, aku yang mengeluarkannya dari grup itu,' ucap Leo.
'Kenapa?' tanya Hans.
__ADS_1
'Bukankah kamu membuka grup itu? Kenapa kamu tak melihat saja semua isi pesan yang ada di dalamnya?' ucap Leo.
Hans terdiam sejenak.
'Tak mungkin kamu cemburu pada pria yang mengatakan Lili semakin cantik 'kan?' ucap Hans.
'Cemburu? Yang benar saja. Aku tak cemburu, aku hanya sedang menyelamatkan pernikahanku,' ucap Leo.
'Astaga, kenapa kamu berpikir sampai seperti itu?' tanya Hans.
Leo mengembuskan napas berat.
'Sebenarnya kamu ingin mengetahui keadaan Lili atau ingin menginterogasi-ku?' ucap Leo.
'Kenapa kamu sangat sensitif? Jika kamu tak ingin menjawab pertanyaanku, yaa sudah,' ucap Hans.
'Ya sudah, aku mau mandi,' ucap Leo dan mengakhiri telepon itu.
Leo memutar bola matanya dan membuka grup WhatsApp alumni sekolahnya. Benar saja dia melihat Lili dibicarakan oleh teman-teman di sana. Leo yang berpikir akan membungkam mulut teman-teman alumninya itu, seketika tak jadi mengatakan apapun setelah melihat orang-orang itu tak ada yang membicarakan negatif tentang Lili. Mereka hanya bertanya-tanya, mengapa Lili keluar dari grup itu tanpa mengatakan apapun? Mungkin mereka terkejut karena Lili keluar dari grup tanpa pamit lebih dulu.
Leo lalu menghapus semua pesan di dalamnya, setelah itu dia pun mandi. Leo tak tahu bahwa di kamar Lili sempat mendengar apa yang Leo katakan. Lili pun merasa sedikit terkejut.
'Apa sebenarnya yang ada di pikirannya? Bukankah dia terlalu berlebihan? Jika memang ingin menyelamatkan pernikahan ini, seharusnya dia bisa menjaga sikapnya, bukannya malah menjadikan alasan sepele seperti itu untuk menjaga pernikahan ini. Benar-benar tak termasuk akal,' batin Lili tak habis pikir.
Setelah mandi Leo makan malam, sebelumnya dia sudah memesan makanan itu sendiri dan dia menikmatinya sendiri. Dia tak peduli pada Lili yang sedang menemani Maisy tidur, dia pikir Lili saja tak peduli padanya, jadi kenapa dia harus menawari Lili makan malam?
Selesai makan malam, Leo pergi ke ruang kerjanya. Dia lantas melihat ada buku cek di atas mejanya dan ada sebuah pulpen juga di samping buku cek itu. Dia lantas mengambil buku cek itu dan melihatnya dengan bingung.
'Kenapa ini ada di luar?' gumam Leo.
Leo mungkin kerap kali melupakan kata-katanya. Namun, dia ingat di mana dia meletakkan barang-barangnya. Dia juga ingat sebelumnya meletakkan buku cek itu di dalam laci meja kerjanya dan tak pernah meletakkannya di atas meja seperti itu.
'Apa ku tak sadar aku telah meletakkannya di sini?' gumam Leo bingung.
Leo lalu melihat ke sekelilingnya.
'Atau mungkin ada orang lain yang memasuki ruang kerjaku? Tapi siapa yang sudah lancang masuk tanpa izinku?' gumam Leo.
__ADS_1