
Lili dan Maisy sudah berada di kamar. Rupanya, kamar itu memiliki pintu di dalam yang bisa menembus ke kamar lainnya yang merupakan kamar utama. Sepertinya, Leo memperbolehkan Maisy ikut dengannya, karena ada satu kamar lagi di dalam kamar itu.
Lili lantas meminta pengasuh Maisy untuk menidurkan Maisy terlebih dahulu.
Sementara itu, Lili membawa kedua paper bag itu ke dalam kamar utama. Dia melihat kedua paper bag itu dengan bingung. Kenapa Leo memberikan kedua paper bag itu padanya? Apakah Leo ingin dia memakainya? Pikir Lili.
Perhatian Lili teralihkan ketika terdengar dering panggilan masuk. Lili pun mengambil ponselnya dan rupanya Leo lah yang menghubunginya.
'Aku akan ke kamar dalam 10 menit, sebaiknya kamu ganti bajumu dengan gaun yang tadi aku beli,' ucap Leo.
'Tapi untuk apa?' tanya Lili.
'Sudahlah, nanti kamu akan tahu,' ucap Leo, kemudian mengakhiri telepon.
Lili menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan perlahan. Dia mengambil gaun itu dan merentangkannya. Gaun berwarna putih tulang berbahan satin itu memang sangat cantik, Leo benar-benar pintar memilih gaun. Sepertinya juga, gaun itu akan sangat pas di tubuhnya.
Jika dipikir, Leo mungkin lebih baik dari pada dirinya dalam memilih barang wanita. Beberapa barang yang dibelikan Leo untuknya pada dasarnya cantik semua, tetapi sayangnya dia tak mungkin memakainya di rumah. Semenjak punya anak, dia menjadi malas terlalu banyak pergi keluar rumah.
Lili pun mencoba gaun itu dan benar saja dugaannya, gaun itu sangat pas di tubuhnya. Gaun itu tak begitu seksi, melainkan membuatnya terlihat sangat elegan dan berkelas. Lili memutar tubuhnya dan mulai merasa nyaman menggunakan gaun tersebut.
Lili lalu mengambil high heels di dalam paper bag satunya lagi, dan mulai memakainya. High heels berwarna senada itu rupanya cukup nyaman dipakai olehnya. Memanglah kualitas suatu barang sudah pasti akan membuat pemakainya merasa nyaman. Namun, yang masih Lili bingungkan adalah, akan ada acara apa malam ini?
Selang beberapa menit, Leo sampai di kamar. Lili pun dibuat bingung ketika melihat Leo yang ternyata juga sudah mengganti pakaiannya. Leo yang sebelumnya hanya memakai kemeja dan celana jeans, kini justru memakai tuxedo.
"Apa kita akan ke pesta?" tanya Lili.
"Tidak, kita akan makan malam dengan temanku," ucap Leo.
"Makan malam dengan temanmu? Teman yang mana?" tanya Lili bingung.
"Temanku dari luar, dia akan mengajakku berinvestasi pada perusahaan barunya. Karena itu, aku ingin kamu ikut denganku," ucap Leo.
__ADS_1
Lili terdiam bingung. Jika itu untuk urusan pekerjaan, kenapa Leo tak mengajak sekretarisnya saja? Pikir Lili. Lagipula, Leo telah membohonginya. Katanya ingin mengajaknya berkencan, tetapi lihat saja Leo justru memintanya menemani bekerja.
"Kenapa kamu tak mengajak sekretarismu saja? Bukankah ini untuk pekerjaan?" ucap Lili.
"Oh sekretarisku, dia sudah aku pecat," ucap Leo.
"Apa? Kenapa memecatnya?" tanya Lili sedikit terkejut.
"Bukankah itu yang kamu mau?" tanya Leo seraya menaikan satu alisnya.
"Apa? Aku tak mengerti maksudmu," ucap Lili.
Lili memang tak menyukai Sisil, itu semua karena dia pernah tak sengaja melihat Sisil begitu dengan Leo ketika berkunjung ke kantor Leo. Semenjak itu jugalah dia jadi selalu curiga Leo dan Sisil memiliki hubungan lain selain hubungan profesional. Namun, dia merasa tak pernah meminta Leo memecat Sisil.
Leo menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan perlahan. Dia lalu mendekati Lili dan menyodorkan tangannya.
"Lupakan dia, dan ayok kita temui temanku," ucap Leo.
"Lalu, Maisy?" tanya Lili.
Lili menahan napasnya sejenak, setelah itu dia meletakan tangannya di telapak tangan Leo. Dia kemudian mengembuskan napas perlahan dan mulai berjalan keluar kamar bersama Leo yang menggandengnya.
"Di mana pertemuannya?" tanya Lili.
"Di bawah," ucap Leo.
"Masih di sini?" tanya Lili seraya menoleh pada Leo.
"Ya, tentu saja. Itulah mengapa aku membawamu ke sini," ucap Leo.
Lili pun tak mengatakan apa-apa lagi.
__ADS_1
Begitu lift sampai di lantai dasar, Leo kembali menggandeng Lili hingga akhirnya keduanya sampai di restoran. Leo membawa Lili ke meja di mana sudah terlihat satu orang pria yang juga berpenampilan rapi seperti dirinya di meja itu. Selain pria itu, ada juga seorang wanita.
"Hallo, Mr. Bryan," ucap Leo begitu sampai di dekat pria bule itu, pria bernama Bryan itupun menoleh dan pandangannya langsung tertuju pada Lili.
"Oh wow, Mr. Leo. Who is she?" tanya Mr. Bryan yang menatap Lili dengan tatapan yang jelas sekali terlihat penuh ketertarikan, membuat Leo langsung melihat Lili dan kembali melihat Mr. Bryan.
"She is my wife," ucap Leo kemudian tersenyum.
"Oh, yeah. Your wife so beautiful," ucap Mr. Bryan kemudian menyodorkan tangannya ke hadapan Leo.
"Thank you," ucap Leo seraya menjabat tangan Mr. Bryan.
Leo lalu menarik salah satu kursi dan meminta Lili duduk di sana. Setelah itu, dia menyusul duduk di sisi Lili.
Mereka pun makan malam terlebih dahulu sebelum nantinya membahas tentang bisnis. Sebenarnya, Leo juga bukan tanpa alasan mengajak Lili. Leo tahu, Lili pernah bekerja di perusahaan yang berkaitan dengan saham. Karena itu, Leo ingin meminta pendapat Lili dalam pembahasan bisnis nantinya.
Leo tak mungkin meminta bantuan pada papinya, dia khawatir papinya akan menganggapnya tak berguna karena tak mengerti apapun. Dia juga ingin membuktikan, bahwa dia mampu berdiri sendiri. Namun, dia harus berhati-hati karena dia tahu dengan jelas, dalam bisnis akan selalu ada resiko.
Selesai makan malam, Lili yang masih berada di sana hanya diam mendengarkan Leo yang mulai membahas pekerjaan dengan rekannya. Namun, diam-diam dia mencoba memahami apa saja yang terdengar olehnya. Meski mereka bicara dalam bahasa inggris, tetapi Lili memahaminya dengan baik.
Di tengah pembahasan, Leo justru memberikan berkas itu pada Lili dan Lili juga Mr. Bryan dibuat bingung.
"Semua ini untuk istri Saya, jadi istri Saya akan terlibat. Karena itu, semua tergantung keputusan istri Saya," ucap Leo kemudian tersenyum pada Mr. Bryan.
Lili mengerutkan dahinya, dan melihat Mr. Bryan yang juga tersenyum.
"Anda benar-benar sayang istri, tapi apakah istri Anda mengerti semua yang kita bahas?" ucap Mr. Bryan dengan aksen bicara yang jelas sekali terdengar dia belum terlalu fasih berbicara bahasa Indonesia.
"Jangan meragukannya, atau Anda akan menyesal," ucap Leo kemudian menyeringai.
Setelah itu Leo pun terkekeh, membuat Mr. Bryan yang sebelumnya terlihat terkejut menjadi ikut terkekeh.
__ADS_1
Lili pun hanya tersenyum. Baiklah, dia akan mengikuti permainan Leo, pikirnya.
"Saya akan membacanya," ucap Lili, dan mengambil berkas itu. Dia membacanya dengan seksama, sedangkan Leo begitu santai duduk di sana. Dia terlihat begitu percaya diri seakan yakin bahwa, Lili benar-benar mampu memahami semua yang ada di dalam berkas itu.