ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL

ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL
PART 37 - KENAPA HARUS MARAH?


__ADS_3

Leo terkejut melihat Lili yang sepertinya akan menangis. Dia pun hanya diam hingga akhirnya Lili melepaskan dirinya. Dia lantas memperhatikan Lili yang mulai keluar dari ruang ganti.


'Ada apa dengannya?' batin Leo bingung.


Sangat aneh melihat Lili yang biasanya ketika marah tak pernah langsung diam tetapi tiba-tiba sekarang justru diam. Tak hanya itu, Leo juga melihat Lili yang hampir menangis.


Memikirkan reaksi Lili tadi, dia menjadi sedikit tak tenang. Jangan-jangan terjadi sesuatu pada istrinya itu. Leo akhirnya kembali ke kamar. Namun, tak ada Lili di kamar.


'Ke mana dia? Cepat sekali menghilang,' gumam Leo bingung.


Leo pun kembali ke kamar mandi. Dia memilih menemui Lili setelah dirinya selesai mandi.


Sementara itu, di dapur Lili sedang menenggak segelas air minum. Dia sedang mencoba menenangkan dirinya. Sebenarnya dia sedang belajar untuk menahan amarahnya pada Leo, dia ingin setiap kali Leo membuatnya kesal dan dia bersikap biasa saja.


Lama-lama mendapatkan perlakuan yang tak menyenangkan dari Leo tentu membuatnya lelah. Namun, ternyata dia tetap tak bisa mengabaikan kekesalannya begitu saja. Tetap saja saat melihat Leo dia selalu merasa ingin marah. Leo juga pria yang benar-benar tak memiliki rasa peka, Leo benar-benar tak bisa memahami apa yang dia rasakan. Bahkan saat tadi dia berusaha menahan air matanya agar tak menangis di depan Leo, tak ada reaksi apapun dari Leo. Apa sekeras itu hati Leo terhadap wanita yang telah berjuang melahirkan keturunannya?


Jelas saja Lili merasa marah bercampur sedih, bagaimanapun dia juga memiliki harapan terhadap Leo yang merupakan pasangan hidupnya. Sayangnya, berharap pada Leo justru sama saja menceburkan diri ke dalam jurang kehancuran. Lagi dan lagi Leo selalu mengecewakannya.


Lili bahkan kehabisan cara untuk membuat suaminya itu sadar, bahwa dia juga hanya seorang manusia biasa yang memiliki perasaan dan sesekali menginginkan pasangannya memperlakukannya layaknya seseorang yang berharga.


Lili bergegas mengusap air matanya saat mendengar langkah kaki seseorang. Dia pikir itu Leo, tetapi ternyata itu adalah asisten rumah tangga. Hal itu membuat Lili semakin ingin marah, dia berharap Leo mengejarnya dan minta maaf padanya sekarang. Namun, Leo benar-benar tak menampakkan dirinya di hadapannya.


'Aku harus menyelamatkan kewarasanku, dua tahun menikah dengannya aku hampir dibuat gila. Sekarang, aku akan membahagiakan diriku dengan caraku sendiri. Terserah saja apa yang akan dia lakukan!' batin Lili geram dan kembali ke kamar.

__ADS_1


Di kamar, Lili mengambil ponselnya dan membuka pesan di grup WhatsApp alumni sekolahnya. Dia melihat ada undangan pernikahan dari salah satu temannya. Dia lantas membalas pesan itu. Tak hanya dia, anggota lainnya yang merupakan alumni yang sama juga mengomentari pesan undangan itu. Semua alumni di grup itu juga diundang ke acara pernikahan itu.


Perlahan Lili mulai menikmati chat bersama teman-temannya. Lili juga membalas pesan dari seorang teman pria yang menanyakan kabarnya di grup WhatsApp tersebut. Dia juga tampak akrab dengan teman-temannya.


Meski dia jarang bergabung tetapi sebenarnya dia memperhatikan teman-temannya dan menjaga jarak hanya untuk menjaga hubungan agar tetap baik dengan teman-temannya. Terkadang, terlalu akrab dengan banyak orang justru bisa menimbulkan banyak drama, pikirnya.


Sementara itu, Leo yang baru saja selesai mandi mengambil ponselnya. Dia membuka pesan grup di mana ada Lili juga di dalamnya. Kebetulan mereka satu sekolah bahkan satu angkatan sehingga berada di grup yang sama.


"Senang sekali berghibah, dasar wanita!" ucap Leo seraya menggelengkan kepalanya. Namun, Leo akhirnya membaca satu persatu pesan di grup tersebut dan hal itu amat jarang dia lakukan.


Kali ini dia melakukannya karena merasa heran melihat Lili yang jarang aktif di grup tetapi sekarang justru terlihat sangat aktif. Dia juga melihat Lili mengobrol dengan teman-teman pria di grup itu.


Sedetik kemudian, Leo mengerutkan dahinya ketika melihat pesan dari seorang pria dan pria itu memuji Lili yang katanya semakin cantik setelah menikah dan punya anak. Tak hanya itu, Lili bahkan membalas pesan itu dengan menyertakan emot senyum bercampur malu.


'Apa-apaan dia?' batin Leo.


Tentu saja Lili yang sedang fokus pada ponselnya jadi terkejut dan langsung melihat Leo.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Lili seraya melihat Leo dengan tatapan shock.


"Kamu pikir aku buta, atau kamu pikir aku tak ada di grup yang sama denganmu?" tanya Leo, sontak Lili mengerutkan dahinya.


"Ayolah, raut wajahmu itu kenapa begitu? Bukankah barusan kamu merasa senang karena dipuji cantik oleh pria lain?" ucap Leo, kemudian tersenyum sinis.

__ADS_1


Lili terdiam, membuat Leo menghampiri Lili dan menatap Lili dengan tatapan jijik.


"Sebangga itukah dirimu dipuji cantik oleh orang lain? Aku tak peduli jika aku tak tahu, tapi kamu bahkan membalas pesan itu di mana aku juga ada di dalam grup yang sama denganmu! Di mana sebenarnya otakmu?" kesal Leo.


Lili mengepalkan tangannya dan bergegas beranjak dari tempat tidur. Dia berdiri berhadapan dengan Leo sekarang.


"Aku memang senang dipuji cantik oleh orang lain, lalu kenapa, ha? Apa masalahmu sebenarnya? Bukankah seharusnya kamu bangga melihat ada orang lain memuji istrimu?" ucap Lili.


Leo mengepalkan tangannya. Dia akan mengatakan sesuatu tetapi Lili menyelanya lebih dulu.


"Tapi kenapa kamu justru marah? Apa karena kamu tak pernah memuji istrimu karena itu kamu merasa tersinggung? Atau kamu cemburu?" tanya Lili.


"Kamu bisa membuatku malu, Lili. Semua yang ada di grup itu tahu kamu istriku sekarang. Tapi lihatlah kelakuanmu, bisa-bisanya kamu membalas pesan pria lain padahal ada aku yang juga melihat semuanya!" kesal Leo.


Lili tersenyum sinis.


"Leo, jika aku mau aku bisa menjadi dirimu. Tapi aku menahan diriku, dan dibandingkan dengan apa yang kamu rasakan sekarang, aku lebih banyak pengalaman memalukan sekaligus menyakitkan, dan seharusnya aku tak perlu menjelaskannya padamu karena kamulah penyebabnya!" geram Lili.


Leo lagi-lagi akan bicara. Namun, Lili kembali menyelanya.


"Bagaimana jadinya jika aku benar-benar melakukan hal yang sama seperti apa yang kamu lakukan? Kurasa kamu a --"


Lili terkejut ketika Leo merebut ponselnya. Dia lalu melihat Leo membuka ponselnya dan entah apa yang Leo lakukan dengan ponselnya. Setelah itu, Leo melemparkan ponselnya ke tempat tidur, kemudian Leo keluar dari kamar tanpa mengatakan apapun lagi padanya.

__ADS_1


Lili pun menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan perlahan. Dia kemudian mengusap dadanya.


'Sabar, dia benar-benar tak masuk akal. Hanya karena pesan reaksinya sampai seperti itu. Bagaimana jadinya jika dia melihatku pergi bersama pria lain? Apa mungkin dia akan langsung membunuhku?' batin Lili.


__ADS_2