ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL

ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL
BAB 7 - LILI MENGGELEDAH PONSEL LEO?


__ADS_3

Joko menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan perlahan. Rasanya malas harus menguras kolam malam-malam begini. Namun, dia tak memiliki pilihan lain. Benar juga yang tuannya katakan, lebih baik dia menghindari kemarahan nyonya di rumah itu.


Sebenarnya, tadi Joko sempat melihat saat Leo dan Lili bertengkar. Meski itu sudah menjadi pemandangan biasa yang dia lihat di rumah itu, tetapi dia tak menyangka Lili akan menampar Leo. Rasanya, ini pertama kalinya dia melihat Lili melakukan itu pada Leo. Joko yakin, malam ini Lili pasti sedang benar-benar dalam keadaan marah.


Joko pun menyiapkan semua peralatan untuk menguras kolam renang.


Sementara itu, Lili menggendong baby Maisy dan pergi ke kamarnya. Dia lantas meletakan baby Maisy di dalam box bayi. Gadis kecil itu tampak tidur dengan pulas.


Lili memberikan kecupan selamat malam pada pipi bulat Maisy. Setelah itu, dia pergi menuju ruang ganti. Dia pikir, dia akan mengganti pakaiannya. Rasanya, sia-sia dia memakai gaun di rumah jika akhirnya makan malam dengan Leo gagal dilakukan. Di ulang tahun pernikahannya yang kedua ini Leo benar-benar membuatnya kesal.


Lili mengambil piyama dan terdengar suara pintu kamar mandi terbuka.


Ya, itu Leo. Leo baru saja selesai mandi.


"Sayang, ambilkan bajuku juga," ucap Leo.


Lili terdiam sejenak. Setelah itu, dia menutup pintu lemari dengan cukup keras dan mengabaikan Leo dan. Dia lantas membawa piyamanya keluar dari ruang ganti.


Leo pun hanya mampu menghela napas. Dia benar-benar tak mengerti, apa yang terjadi pada istrinya itu.


'Apa dia sedang datang bulan? Marah-marah terus ...' batin Leo heran.


Leo pun terpaksa mengambil pakaiannya sendiri dan bergegas memakainya. Setelah itu, dia keluar dari ruang ganti dan pandangannya tertuju pada Maisy yang terlihat di dalam box bayi.


"Oh my princess ..." ucap Leo dan bergegas menghampiri baby Maisy. Dia pun membungkukan tubuhnya ke dalam box bayi, dan berniat mendaratkan ciuman di pipi baby Maisy.


"Jangan!" ucap Lili ketika Leo hampir saja mendaratkan bibirnya di pipi baby Maisy.


"Kenapa?" tanya Leo seraya melihat Lili dengan bingung.


"Jangan diganggu, nanti bangun lagi," ucap Lili.


"Kalau bangun lagi, ya, buat dia tidur lagi. Apa susahnya?" ucap Leo heran. Yang benar saja, dia merindukan gadis kecilnya, tentu saja dia ingin mencium baby Maisy. Beraninya Lili melarangnya, padahal dia papi Maisy sendiri, pikirnya.


Lili bergegas menghampiri Leo dan menatap Leo seakan tetap pada pendiriannya bahwa, Leo dilarang mencium baby Maisy. Melihat itu, tiba-tiba Leo justru tersenyum.


"Sebentar, aku akan pelan-pelan. Takan membuatnya bangun, aku janji. Aku merindukannya, seharian ini aku tak melihatnya," ucap Leo dan mengecup dengan pelan pipi baby Maisy.

__ADS_1


"Love you, Little princess," ucap Leo pelan seraya mengusap kepala baby Maisy. Setelah itu, dia kembali melihat Lili.


Lili memutar bola matanya dan mengabaikan Leo. Dia naik ke tempat tidur dan menarik selimut hingga menutupi dadanya. Tak lama Leo naik ke tempat tidur dan mendekati Lili. Lili pun bergegas memunggungi Leo.


"Lili ayolah ... Apa kesalahanku? Kenapa dari aku pulang kamu terus mengabaikan-ku?" ucap Leo bingung.


"Tolong, jangan mengajakku bicara. Aku benar-benar lelah hari ini. Tak hanya menjaga anakmu, tapi aku juga masak dari siang. Jadi, biarkan aku istirahat sekarang," ucap Lili dan menutup matanya. Dia masih tetap memunggungi Leo.


Leo pun mengembuskan napas berat dan turun dari tempat tidur. Dia lantas keluar dari kamar.


Lili pun hanya diam memperhatikan Leo. Lili memang benar-benar lelah dan ingin istirahat. Selain itu, dia juga masih kesal dengan Leo. Yang membuatnya semakin kesal, bisa-bisanya Leo masih bertanya, mengapa dia mengabaikan Leo? Oh sungguh ... Pria yang satu itu memang benar-benar keterlaluan! Pikir Lili.


Lili menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan sedikit berat. Dia mencoba memejamkan matanya. Namun, tiba-tiba terdengar suara berisik dari luar kamarnya. Suara itu datang dari arah taman.


Lili turun dari tempat tidur, dan melangkah ke pintu menuju taman. Dia mengerutkan dahinya melihat Joko sedang menarik selang. Tak hanya ada selang, ada sikat listrik juga di tepi kolam.


"Joko!" panggil Lili, sontak Joko terkejut dan berbalik melihat Lili.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Lili dan bergegas menghampiri Joko.


"Saya akan menguras kolam, Nyonya," ucap Joko.


"Ya, tadi ada bunga di kolam, jadi Saya akan menguras kolam agar bersih kembali," ucap Joko.


Lili terkejut mendengar apa yang Joko katakan.


Ya, bagaimana tidak terkejut? Pengurus tamannya itu begitu berinisiatif membersihkan kolam renang hanya karena ada bunga yang jatuh ke dalamnya.


"Tuan Leo bilang, Saya harus mengurasnya malam ini, dari pada besok pagi Nyonya marah-marah," ucap Joko.


Lagi-lagi Lili terkejut mendengar apa yang Joko katakan. Tak disangka, ternyata suaminya sendiri yang meminta Joko melakukan pekerjaan itu. Dia pikir, Joko lah yang berinisiatif. Namun, dia lebih terkejut lagi karena Leo benar-benar keterlaluan meminta Joko menguras kolam sebesar itu malam-malam.


"Hentikan itu, tak usah dikuras malam ini," ucap Lili.


"Memangnya kenapa, Nyonya?" tanya Joko bingung.


"Rapikan lagi semua alat-alatnya, Saya akan memanggil jasa luar saja untuk membersihkan kolam," ucap Lili.

__ADS_1


Joko pun tersenyum. Akhirnya dia tak perlu menguras kolam malam-malam.


"Baik, Nyonya," ucap Joko.


Lili bergegas memasuki kamar dan mencari ponselnya di kamar. Namun, dia tak bisa menemukan ponselnya.


'Aku meletakannya di mana, ya? Kenapa aku lupa?' batin Lili bertanya-tanya.


Lili pun teringat pada Leo. Mungkin, Leo melihat ponselnya.


Lili mencari Leo ke ruang kerja Leo. Biasanya, jika malam-malam Leo tak ada di kamar, Leo akan berada di ruang kerjanya.


Begitu sampai di depan ruang kerja Leo, Lili dibuat terkejut karena tepat dirinya akan membuka pintu ruang kerja Leo, tiba-tiba pintu itu terbuka.


"Mau ke mana?" tanya Leo.


"Lihat ponselku tidak?" ucap Lili yang justru mengabaikan pertanyaan Leo.


Leo menaikan satu alisnya, seakan bingung mendengar pertanyaan Lili.


Melihat ekspresi Leo, Lili langsung memahami bahwa Leo tak melihat ponselnya.


"Ya sudah, kemarikan ponselmu," ucap Lili dan menyodorkan telapak tangannya ke hadapan Leo.


"Mau apa?" tanya Leo bingung.


"Pinjam sebentar," ucap Lili.


Leo pun merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Baru saja dia akan menyodorkannya ke hadapan Lili, tiba-tiba justru merebut ponselnya.


Leo pun sedikit terkejut dengan apa yang Lili lakukan. Dia yakin, Lili benar-benar sedang datang bulan, mood Lili benar-benar kacau malam ini.


Lili lantas menjauhi Leo.


"Mau pinjam, atau mau menggeledah ponselku? Katanya pinjam sebentar, tapi kok dibawa?" teriak Leo seraya memperhatikan punggung Lili. Namun, Lili terus berjalan dan mengabaikan teriakannya.


"Sayang ... Telingamu bermasalah, ya? Mau ke THT tidak?" teriak Leo lagi, sontak kali ini Lili menghentikan langkahnya. Lili lalu berbalik melihat Leo.

__ADS_1


"Besok aku yang akan membawamu ke pusat rehabilitasi," ucap Lili dan kembali melanjutkan langkahnya.


"Memangnya aku kecanduan barang haram, yang benar saja," ucap Leo.


__ADS_2