
Leo pergi begitu saja tanpa mau mendengarkan apa yang Lili katakan.
Lili kemudian melihat hadiah yang Leo lemparkan ke lantai. Dia pun bergegas mengambil semua hadiah itu dan berniat mengejar Leo. Dia sangat malu atas sikap Leo, di sana tak hanya ada mereka berdua. Melainkan ada juga pelayan restoran meski pelayan itu berdiri di kejauhan. Namun, Lili yakin pelayan restoran itu sempat melihat apa yang Leo lakukan.
Lili pun meninggalkan restoran dan pergi menuju basemant. Dia mencari mobil Leo tetapi dia tak menemukan mobil Leo di area basemant. Lili lantas mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi kontak Leo. Namun, Leo menolak panggilannya.
"Kenapa dia sensitif sekali malam ini? Kenapa juga dia tak mengerti, aku bukan menolak hadiah darinya, aku justru ingin memintanya membawakannya untukku!" gerutu Lili.
Ya, sebelumnya Lili mengambil tasnya dan kembali melihat Leo, karena berniat meminta Leo untuk membawakan hadiah itu menuju mobil. Maksud Lili adalah, Lili ingin pergi dari restoran itu dan berharap Leo membawakan semua hadiah itu untuknya. Namun, Leo justru langsung marah dan berpikir dirinya menolak hadiah yang Leo berikan.
Lili pun akhirnya memesan taksi online dan dia berjalan menuju lobi Mall. Dia duduk di sebuah kursi seraya menunggu taksi pesanannya datang.
Di sana, dia memperhatikan hadiah yang Leo berikan. Di dalam paper bag itu ada dua buah dus. Satu dus berukuran kecil, dan dus lainnya berukuran cukup besar. Dus besar itu Lili sudah bisa menebak apa isinya. Jika dilihat dari brand yang tertulis di paper bag itu, dus itu pasti berisikan sebuah tas.
Sedangkan dus kecil, Lili tak tahu apa isinya? Mungkin, dia akan membukanya ketika sampai di rumah nanti.
Tak lama taksi pesanan Lili pun sampai di depan Mall, dan Lili bergegas menuju taksi. Dia kembali ke rumah.
***
Sesampainya di rumah, Lili tak melihat mobil Leo terparkir di halaman rumah ataupun di garasi. Lili yakin, Leo pasti sengaja menghindar karena masih marah padanya. Lili pun pergi ke kamar dan meletakan hadiah dari Leo di atas tempat tidur. Dia lalu duduk di tepi tempat tidur dan mengambil sebuah kartu ucapan yang terselip di antara tangkai bunga Lily.
Lili pun mulai membacanya.
'Happy Anniversary untuk pernikahan kita yang kedua tahun, Lili. Katanya, Lily itu melambangkan cinta yang dalam. Jadi, aku harap dengan memberikannya untukmu, baik perasaanku ataupun perasaanmu akan tetap seperti bunga Lily yang maknanya tak pernah berubah.
Aku mencintaimu.
Leo ...'
Lili terdiam sejenak setelah membaca kartu ucapan itu. Setelah itu, dia mengambil buket Lily itu dan memperhatikannya.
'Aku juga mencintaimu, Leo. Tapi, apa yang harus aku lakukan untuk menahan perasaanku, untuk setiap kegelisahan yang sulit sekali aku sembunyikan? Aku bahkan tak mengerti. Aku juga tak ingin menganggap diriku egois, karena kamu suamiku. Tentu saja aku ingin dirimu hanya mencintaiku dan hanya melihatku,' batin Lili sedih.
__ADS_1
Lili merasa tak berdaya, bagaimana pun ketakutan itu benar-benar dia rasakan. Namun, tak ada yang bisa dia lakukan. Tak mungkin dirinya membatasi pergerakan Leo, misalnya melarang Leo pergi keluar. Jelas-jelas Leo harus bekerja. Jika bukan Leo, lalu siapa lagi?
Dirinya yang sebelumnya pernah bekerja, kini tak mungkin lagi bekerja. Selain Leo tak mengizinkannya bekerja, tak mungkin dirinya juga meninggalkan Maisy. Dia juga tak ingin membiarkan Leo melepaskan tanggung jawab sebagai kepala keluarga yang harus menafkahi istri dan anak. Lili tak bisa bersikap egois untuk itu. Terlalu banyak hal yang berkaitan dan keinginannya tidaklah penting, meski dia harus merasa gelisah setiap kali Leo berada di luar.
Lili tersentak ketika pintu kamar terbuka dan tak lama Leo memasuki kamar. Lili pun bangkit dari tempat tidur dan Leo tampak mengerutkan dahinya melihat bunga yang ada di tangan Lili.
"Aku tak tahu, ternyata kamu senang memungut sampah," ucap Leo kemudian tersenyum kecil.
"Sejak awal aku tak pernah berniat menolak hadiah darimu," ucap Lili.
"Benarkah?" tanya Leo seakan ragu dengan apa yang Lili katakan. Dia pikir, karena dia marah, karena itu Lili berubah pikiran. Jelas-jelas sejak awal Lili menolak hadiah darinya.
"Leo, kenapa kamu tak mau mendengarkanku? Aku belum mengatakan apapun, tapi kamu justru langsung membuang hadiah-hadiah itu. Hadiah itu milikku, kamu tak berhak membuangnya," ucap Lili.
"Oh ya?" Leo mendekati Lili dan berhadapan dengan Lili.
"Aku tak suka ekspresi yang kamu tunjukan saat kita makan malam tadi. Aku benar-benar merasa konyol karena antusias sendirian malam ini, jika kamu jadi aku, bisakah kamu menahan kekesalanmu?" ucap Leo seraya menatap Lili tak senang.
"Leo, asal kamu tahu. Aku menantikan kejutan darimu sejak kemarin malam," ucap Lili.
Lili pun terdiam.
"Jangan bilang kamu mengingat Maisy, karena itu kamu tak bisa menikmati waktumu denganku," ucap Leo.
"Kenapa kamu bisa bicara seperti itu? Apa kamu tak sadar, apa yang kamu katakan membuatku berpikir bahwa kamu cemburu pada Maisy," ucap Lili.
"Aku cemburu pada anakku? Yang benar saja," ucap Leo, kemudian memutar bola matanya.
Leo pun berbalik dan mengusap wajahnya. Dia kemudian berbalik dan mengembuskan napas sedikit kasar.
"Tapi aku memang tak menyukainya!" ucap Leo terdengar penuh penekanan.
"Apa maksudmu? Dia anakmu, Leo," ucap Lili shock. Bagaimana bisa Leo bicara seperti itu? Apa Leo tak berpikir, bagaimana jika Maisy sudah mengerti dengan apa yang Leo katakan? Bukankah sudah pasti Maisy akan merasa kecewa?
__ADS_1
"Aku tahu, dan kamu tak perlu memberitahuku! Tapi, sejak ada Maisy kamu benar-benar keterlaluan, Lili!" geram Leo. Tatapan Leo jelas sekali terlihat marah.
Lili menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan perlahan.
"Di mana letak keterlaluan-ku, Leo?" ucap Lili.
"Di mana? Sungguh kamu tak tahu?" tanya Leo seraya menatap Lili begitu dekat.
Lili menggelengkan kepalanya.
"Pergilah ke cermin, dan lihatlah dirimu sendiri. Seperti apa kamu sekarang," ucap Leo pelan, kemudian tersenyum sengit.
Lili memperhatikan penampilannya sendiri. Dia pikir, tak ada yang salah dengan penampilannya.
"Lihatlah wajahmu seperti apa, kamu pikir suami mana yang suka melihat istrinya memasang raut wajah menyebalkan setiap kali pulang bekerja, ha?" ucap Leo.
"Leo, jika itu masalah bagimu, kenapa kamu tak mau menegurku?" ucap Lili.
"Menegur apa, ha? Kamu istriku, seharusnya kamu tahu apa yang aku sukai dan tidak aku sukai!" geram Leo tepat di depan wajah Lili.
Lili pun memejamkan matanya. Rasanya ingin menangis, bagaimana bisa Leo terus memarahinya? Apakah Leo tak mengerti, dia juga memiliki banyak keinginan, kenapa Leo tak mau bertanya apa yang sebenarnya dia inginkan? Pikir Lili.
"Leo, aku seorang ibu sekarang. Terkadang aku lelah di ru ..."
"Itulah mengapa aku mempekerjakan 3 orang asisten rumah tangga, dan satu orang suster di rumah ini! Kamu pikir untuk apa aku menggaji mereka semua, ha? Tentu saja untuk bekerja di rumah ini agar kamu bisa menjadi Nyonya di rumah ini. Tapi apa, ha? Kamu sendiri yang membuat dirimu sulit!" kesal Leo.
Lili terdiam, matanya sudah memerah. Dia benar-benar ingin menangis.
"Jadi jangan mengeluh padaku karena kamu lah yang bodoh, kamu sok-sokan mengerjakan semuanya sendiri! Apa kamu pikir aku akan terkesan? Tentu saja aku takan pernah terkesan!" kesal Leo.
Lili pun terdiam dan Leo menyadari Lili hampir menangis. Leo pun menjauhi Lili, dia berjalan menuju ruang ganti.
"Pecat saja semua orang yang bekerja di rumah ini, agar kamu tak hanya menjadi istri dan ibu, tapi juga sekalian menjadi pembantu. Itu layak untukmu!" kesal Leo dan membuka pintu ruang ganti dengan kasar.
__ADS_1
Rasanya, dia takan puas jika tak melampiaskan rasa kesalnya pada sesuatu.