ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL

ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL
PART 32 - SIKAP LILI BERBEDA?


__ADS_3

Tak lama Florence kembali seraya membawa secangkir kopi ke hadapan Leo. Dia duduk di samping Leo lantaran sofa di sana hanya ada satu untuk kapasitas 3 orang.


"Thank you," ucap Leo, kemudian menghela napas. Aroma tubuh Florence sebelumnya tak begitu tercium olehnya, ternyata begitu Florence duduk di sisinya, aroma itu seakan begitu kuat menembus indera penciumannya.


Leo lantas mengambil cangkir kopinya dan Florence menahan tangan Leo. Sontak saja Leo menoleh pada Florence, dia terkejut karena tiba-tiba Florence menyentuhnya.


"Maaf, kopinya masih panas. Jangan diminum dulu," ucap Florence tampak canggung.


"Oh ya, aku lupa. Kamu baru membuatnya," ucap Leo dan meletakan kopi itu kembali di atas meja.


"Ngomong-ngomong, kantormu lumayan," ucap Leo kemudian tersenyum. Entah apa yang akan dia bicarakan dengan Florence, apakah dia salah telah menerima tawaran Florence untuk minum kopi lebih dulu? Sekarang, dia jadi seperti orang bodoh karena tak tahu harus berbuat apa. Rasanya benar-benar canggung.


"Em ... Ya, lumayan. Sebenarnya, aku menyewa tempat ini," ucap Florence.


"Oh, kupikir bangunan ini milikmu," ucap Leo.


"Tidak, tapi sebenarnya minggu depan sudah mulai pindah ke kantor baruku. Aku baru memindahkan beberapa barang di sini ke kantor yang baru," ucap Florence. Leo kembali diam. Sepertinya, dia tak memiliki topik pembicaraan.


"Aku membangun rumahku cukup dekat dengan rumahku, jadi aku bisa pergi bekerja tanpa menempuh perjalanan jauh. Hanya cukup jalan kaki," ucap Florence, kemudian tersenyum.


"Oh, begitu," ucap Leo.


"Ya. Jika kamu tak keberatan, aku ingin mengundangmu ke acara syukurannya nanti," ucap Florence.


"Tentu saja, kalau begitu kamu bisa menyimpan kontakku," ucap Leo seraya tersenyum.


Florence terdiam sejenak, baru saja dia akan meminta nomor ponsel Leo, tak disangka Leo justru menawarkannya lebih dulu. Florence pun mengambil ponselnya dan menyodorkannya pada Leo.


"Ketik saja sendiri," ucap Florence.


"Ya," ucap Leo dan mengambil ponsel Florence. Dia lantas menyimpan nomornya di kontak Florence dan mengembalikan ponsel Florence.


Tak lama, ponsel Leo berdering dan Leo mengambil ponselnya. Ada panggilan dari kontak baru.


"Itu kontakku," Florence, sontak Leo melihat Florence.

__ADS_1


"Kupikir siapa, kalau begitu aku akan menyimpannya," ucap Leo dan menyimpan kontak Florence dengan hanya memberi nama inisialnya saja. F, Leo menyimpan kontak Florence dengan satu huruf itu saja.


"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi ke kantor sekarang," ucap Leo dan bangkit dari sofa.


"Tapi kopimu?" ucap Florence, dan Leo pun mengambil kopi itu lalu menyesapnya sedikit. Dia harus menahan rasa panas karena tak enak hati tak meminum kopi yang sudah dibuatkan oleh Florence.


Melihat itu, Florence pun bangkit dari sofa dan bergegas mengambil tissue.


"Apa kamu sudah gila? Kenapa langsung meminumnya?" tanya Florence seraya memberikan tissue itu pada Leo.


"Yang penting aku meminumnya 'kan?" ucap Leo kemudian tersenyum seraya menyeka bibirnya dengan tissue yang Florence berikan.


"Astaga, tak perlu seperti itu juga. Aku hanya bertanya saja," ucap Florence, dan Leo pun terkekeh.


"Terima kasih kopinya, aku akan pergi sekarang," ucap Leo dan melangkah menuju pintu. Sebelum benar-benar keluar dari kantor Florence, Florence memanggil Leo sehingga Leo pun kembali melihat Florence.


"Terima kasih sudah mau repot-repot mengantarkan ponselku ke sini," ucap Florence.


"Tak masalah," ucap Leo dan benar-benar keluar dari kantor Florence.


Setelah itu, dia pergi ke dapur dan meletakan cangkir itu di wastafel. Dia lantas duduk sebenarnya di sebuah kursi dan mengambil ponselnya. Dia melihat kontak Leo dan tersenyum kecil.


"Dia ganti nomor," ucap Florence.


Ya, sebenarnya setelah keduanya putus hubungan, Florence tak pernah melupakan kontak Leo. Meski dia telah menghapusnya tetapi kontak Leo yang lama terekam di kepalanya. Setelah melihat kontak Leo yang baru saja Leo simpan di ponselnya, dia langsung mengenali bahwa kontak itu berbeda dengan yang sebelumnya.


'Sebenarnya aku tak menyangka Leo akan benar-benar memberikan nomor ponselnya padaku. Meski aku tak tahu apa yang ada di pikirannya saat dia menyimpan nomornya di ponselku tapi seharusnya dia tak melakukannya 'kan? Apa dia sebenarnya tak bahagia dengan pernikahannya? Mereka menikah karena kecelakaan, seharusnya Leo tak benar-benar mencintai istrinya 'kan?' batin Florence penasaran.


***


Waktu berlalu, sesampainya di kantor, Leo mendapatkan panggilan masuk dari Lili. Leo pun menjawab panggilan Lili.


'Ya,' ucap Leo.


'Jam berapa kamu akan pulang?' tanya Lili, Leo pun mengerutkan dahinya. Dia baru saja sampai di ruangannya, bahkan dia belum duduk sama sekali. Rasanya sangat aneh mendengar Lili menanyakan kapan dia pulang, sedangkan sekitar 1 jam yang lalu dia meninggalkan rumah.

__ADS_1


'Kenapa memangnya? Aku baru sampai di kantor,' ucap Leo.


'Baru sampai? Aku pikir kamu sampai dari tadi, bukankah perjalanan dari rumah tak sampai 1 jam?' ucap Lili.


Leo menyentuh tengkuknya dan menarik napasnya dalam-dalam. Setelah itu, dia mengembuskannya dengan perlahan.


'Aku mampir sebentar membeli secangkir kopi,' ucap Leo.


'Maksudmu?' tanya Lili.


'Ya, aku ke kafe dulu tadi. Aku memesan kopi di sana, lalu aku pergi ke kantor,' ucap Leo berbohong. Andaikan Lili tahu, bahwa sebenarnya kopi yang dia minum adalah kopi yang dibuatkan oleh wanita dari masa lalunya, Lili pasti akan marah padanya.


'Baiklah, kalau begitu kamu akan pulang jam berapa?' tanya Lili.


'Aku belum tahu,' ucap Leo.


'Apa kamu takan datang ke rumah Papi?' tanya Lili, Leo pun terdiam sejenak. Mendengar ucapan Lili, dia tiba-tiba teringat kemarin siang sang papi mengundangnya makan malam.


'Oh, aku hampir melupakannya,' ucap Leo seraya mengusap wajahnya.


'Jadi bagaimana? Apa kamu benar-benar takan datang?' tanya Lili.


'Datang, kalau begitu aku akan pulang cepat ke rumah,' ucap Leo.


'Baiklah, kalau begitu aku akan bersiap sebelum kamu sampai di rumah,' ucap Lili.


'Hem ...' gumam Leo dan tak mengatakan apapun lagi.


'Ya sudah, sampai jumpa nanti sore,' ucap Lili dan Leo pun terdiam selama beberapa detik. Setelah itu, dia melihat layar ponselnya dan baru sadar bahwa telepon itu sudah berakhir.


'Apa katanya, sampai jumpa? Apa dia benar-benar menungguku pulang? Kenapa jadi dia yang antusias datang ke rumah Papi?' batin Leo bingung.


Aneh sekali mendengar Lili mengucapkan sampai jumpa, padahal biasanya Lili tak pernah mengatakan seperti itu. Lili biasanya cuek, dan hanya bisa mengajukan banyak pertanyaan, lalu ujung-ujungnya akan memarahinya jika dia pulang terlambat ke rumah.


Apalagi, seperti waktu itu saat Lili mencium aroma parfum Sisil di pakaiannya. Benar-benar membuatnya malas karena Lili selalu menyambutnya dengan buruk saat dia kembali ke rumah setelah seharian lelah bekerja. Namun, entah mengapa kali ini Leo merasa sikap Lili berbeda. Bahkan nada bicara Lili saat mengatakan sampai jumpa di rumah tadi terdengar menyenangkan di telinga Leo.

__ADS_1


__ADS_2