ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL

ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL
BAB 33 - LEO LUPA MENJEMPUT LILI?


__ADS_3

Teman-teman apa kabar? Mohon maaf, ya, Author baru sempet up lagi. Beberapa hari yang lalu anak Author sakit dan dilanjut sama Author yang juga kurang sehat. Semoga teman-teman selalu dalam keadaan sehat, ya.


Selamat membaca ...


...----------------...


Apa katanya, sampai jumpa? Apa dia benar-benar menungguku pulang? Kenapa jadi dia yang antusias datang ke rumah Papi?' batin Leo bingung.


Aneh sekali mendengar Lili mengucapkan sampai jumpa, padahal biasanya Lili tak pernah mengatakan seperti itu. Lili biasanya cuek, dan hanya bisa mengajukan banyak pertanyaan, lalu ujung-ujungnya akan memarahinya jika dia pulang terlambat ke rumah.


Leo menggidigkan bahunya dan mencoba mengabaikan keanehan yang dia pikirkan.


***


Petang hari.


Leo masih berada di ruangannya, dia tampaknya sibuk dan melupakan bahwa dia berjanji akan pulang ke rumah untuk menjemput Lili makan malam di rumah orangtuanya. Tangannya lantas terulur pada ponselnya yang ada di sisi laptop yang sedang dilihatnya ketika masuk sebuah panggilan telepon dan tanpa melihat siapa yang menghubunginya dia langsung menjawab panggilan itu.


'Ya, halo,' ucap Leo.


'Halo,' ucap orang itu, sontak Leo dibuat sedikit terkejut. Dia bergegas melihat layar ponselnya dan semakin terkejut ketika melihat kontak Florence lah yang menghubunginya.


'Ehem ... Ya, Flo. Ada apa?' tanya Leo.


'Em ... Apa kamu sibuk?' tanya Florence.


Leo melihat layar laptopnya dan lagi-lagi berdeham.


'Tidak, memangnya ada apa? Aku terkejut kamu meneleponku,' ucap Leo.


'Aku sebenarnya ingin mengatakannya tadi pagi sebelum kamu pergi dari kantorku, tapi entah mengapa aku merasa canggung tadi,' ucap Florence.


Leo mengerutkan dahinya, merasa bingung dengan apa yang Florence katakan.


'Memangnya apa yang ingin kamu katakan? Apa terjadi sesuatu?' tanya Leo.


'Tidak, tapi mungkin akan lebih baik jika kita langsung bertemu. Aku tak enak hati jika mengatakannya di telepon. Apa kamu punya waktu untuk makan malam di luar malam ini?' ucap Florence.


Leo terdiam sejenak. Dia jadi penasaran, apa sebenarnya yang akan Florence katakan padanya? Pikirnya.

__ADS_1


'Ya, mau bertemu di mana?' ucap Leo.


Florence menyebutkan nama sebuah restoran berserta alamatnya.


'Oh ya, aku tahu restoran itu,' ucap Leo.


'Jadi bagaimana? Apa kamu bisa?' tanya Florence.


'Ya, sampai bertemu di sana,' ucap Leo.


'Baiklah, sampai bertemu,' ucap Florence dan telepon itu berakhir.


Leo menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan perlahan. Dia lalu menutup laptopnya dan bangkit dari kursinya. Setelah itu dia mengambil jasnya dan memakainya. Dia kemudian keluar dari ruangannya dan meninggalkan kantor. Dia pergi menuju restoran yang Florence sebutkan tadi.


Sementara itu di sisi lain, tepatnya di rumah. Lili sudah rapi dengan gaun yang sebelumnya dibelikan oleh Leo. Gaun itu sudah lama dibelikan oleh Leo, karena Leo memang senang membelikannya gaun dan barang-barang lainnya. Hanya saja dia belum sempat memakainya. Entah mengapa kali ini dia ingin memakai gaun itu.


Maisy dan pengasuhnya juga sudah selesai bersiap, tinggal menunggu Leo datang menjemput mereka.


Sekali lagi Lili merapikan penampilannya di cermin dan mengambil ponselnya yang sebelumnya ada di depan cermin rias. Dia lantas keluar dari kamar. Dia melihat salah seorang asisten rumah tangga.


"Oh ya ..." Lili sedikit mendekat pada asisten rumah tangga itu.


"Belum, Nyah. Saya belum melihat Tuan," ucap asisten rumah tangga itu.


Lili mengangguk dan meminta asisten itu pergi. Lili lantas mengambil ponselnya dan membukanya. Dia tak melihat ada pesan ataupun panggilan yang menandakan Leo akan segera pulang ke rumah. Lili pun akhirnya menghubungi kontak Leo, panggilan itu masuk tetapi Leo tak menjawabnya.


'Kenapa Leo tak menjawab panggilanku? Apa dia sedang di jalan?' batin Lili.


Lili tiba-tiba merasa tak enak hati, tetapi dia mengalihkan dengan berpikir Leo sedang di jalan karena itu tak mendengar ada panggilan masuk darinya.


Lili pun memutuskan untuk menemui Maisy yang sedang bersama pengasuhnya. Dia bermain dengan Maisy hingga akhirnya tanpa dia sadar waktu berlalu. Dia lantas memperhatikan Maisy yang terlihat mulai mengantuk. Hal itu membuatnya teringat kembali pada Leo. Dia mengambil ponselnya dan melihat waktu telah menunjukan hampir pukul 7 malam.


'Sebenarnya dia jadi pergi ke rumah orangtuanya atau tidak? Kenapa belum juga kembali ke rumah?' batin Lili mulai kesal. Lili tersentak ketika pengasuh memanggilnya.


"Nyah, kapan Tuan akan pulang? Non Maisy sepertinya mengantuk," ucap pengasuh.


Lili menghela napas dan mengetik pesan untuk Leo. Dia menanyakan keberadaan Leo tetapi pesannya hanya ceklis 1. Lili pun dibuat bingung. Dia lalu melihat pengasuh.


"Tuan Sepertinya masih sibuk," ucap Lili.

__ADS_1


"Jadi, kita takan pergi?" tanya pengasuh.


Lili mengembuskan napas berat dan kembali melihat Maisy yang terlihat merem melek layaknya orang yang sudah mengantuk berat.


"Ya, sepertinya takan jadi pergi. Ya sudah, Saya akan menidurkan Maisy dulu," ucap Lili dan membawa Maisy menuju kamarnya.


Pengasuh itu hanya bisa terdiam. Dia sebenarnya melihat kekecewaan Lili saat Lili mengatakan takan jadi pergi. Namun, dia tak berani bertanya mengapa mereka tak jadi pergi? Padahal, sudah sejak sore tadi dia tahu Lili sudah mulai bersiap. Tak di sangka, mereka justru tak jadi pergi karena Leo sibuk.


Di sisi lain, Leo memarkirkan mobilnya di depan sebuah restoran. Dia akhirnya sampai di restoran tempat janji temunya dengan Florence. Dia lantas keluar dari mobil dan menekan tombol unlock ke arah mobilnya. Dia mulai melangkah mendekati pintu restoran.


"Leo!" ucap seseorang, sontak Leo berbalik dan melihat orang itu.


Leo mengerutkan dahinya. Rupanya yang baru saja memanggilnya adalah Florence. Tapi tunggu ...


'Oh, wow ...!' batin Leo seraya memperhatikan penampilan Florence. Pikiran Leo langsung tak fokus karena penampilan Florence.


Gaun putih yang menampakan lekuk tubuh Florence terlihat seksi meski tak menampakan terlalu banyak bagian tubuh Florence. Gaun itu sebenarnya memiliki panjang sedikit di atas siku Florence, tetapi karena modelnya yang sangat ngepres di tubuh Florence membuat bagian-bagian yang membuat pria langsung membayangkan hal-hal sensitif terlihat sangat jelas. Florence tak hanya terlihat cantik, tetapi juga seksi


"Aku khawatir kamu sudah sampai lebih dulu, tapi sepertinya kamu juga baru saja sampai," ucap Florence ketika sampai di depan Leo.


Leo pun mengangkat tangannya sekilas.


"Ya, jalanan ke sini agak macet. Sebenarnya ini cukup dekat dengan kantorku," ucap Leo.


"Ya, aku juga sempat terjebak macet tadi," ucap Florence.


Leo mengangguk dan mempersilakan Florence jalan lebih dulu. Leo lantas berjalan di belakang Florence. Dia memperhatikan punggung langkah Florence.


'Aku tak percaya dia masih sendiri, masa iya dia benar-benar tak menjalin hubungan dengan siapapun setelah putus denganku?' batin Leo bertanya-tanya.


Leo tersenyum ketika Florence tiba-tiba berbalik.


"Kenapa kamu di belakangku? Kita bisa masuk bersama," ucap Florence.


"Ya, tentu saja," ucap Leo dan menghampiri Florence. Mereka akhirnya jalan bersama memasuki restoran.


Sesampainya di salah satu meja, mereka langsung memanggil pelayan dan memesan makan malam. Setelah pelayan itu pergi, Florence mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan menyodorkannya ke hadapan Leo. Leo pun mengerutkan dahinya melihat apa yang ada di tangan Florence.


"Apa ini?" tanya Leo.

__ADS_1


"Ambillah, dan buka saja," ucap Florence seraya tersenyum, membuat Leo semakin bingung.


__ADS_2