ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL

ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL
PART 69 - MENGINGINKAN KETENANGAN


__ADS_3

Setelah mendengar ucapan Leo, Lili tiba-tiba tersenyum kecil. Sepertinya dia mengerti apa yang Leo maksud.


Ya, pasti kembang api yang Leo maksud adalah dirinya yang sering marah-marah sebelumnya.


"Bisakah kamu menungguku di luar? Aku akan berpakaian dulu," ucap Lili.


"Baiklah, aku akan menunggumu," ucap Leo dan pergi menuju pintu. Sebelum keluar dari kamar dia kembali melihat Lili, Lili yang melihat Leo pun merasa bingung karena Leo hanya tersenyum dan setelah itu keluar dari kamar.


Lili lantas menggidigkan bahunya dan bergegas memakai pakaiannya. Setelah selesai, dia keluar dari kamar dan menghampiri Leo yang sedang berada di ruang keluarga bersama Maisy.


Leo yang menyadari kedatangan Lili tentu saja langsung bangkit dari posisinya, dia lantas menghampiri Lili.


"Apa kamu sudah selesai?" tanya Leo.


Lili tak menjawab pertanyaan Leo, sebaliknya dia justru melihat ke sekelilingnya.


"Aku lupa mengatakan sesuatu padamu," ucap Lili begitu kembali menatap Leo.


"Apa itu?" tanya Leo.


"Aku tak ingin keluar dari rumah ini," ucap Lili.


Leo yang mendengar ucapan Lili merasa bingung sekaligus terkejut. Apakah Lili berubah pikiran dan enggan kembali ke rumah mereka? Pikirnya.


"Leo, aku telah memikirkan ini sebelum aku memutuskan untuk kembali denganmu. Hanya saja aku sengaja tak menuliskannya di berkas kesepakatan itu karena aku ingin mengatakannya secara langsung padamu," ucap Lili.


"Jadi apa maksudmu tak ingin keluar dari rumah ini? Bukankah kamu sudah setuju untuk kembali ke rumah bersamaku?" ucap Leo bingung sekaligus penasaran dengan alasan Lili.


"Aku ingin hidup tenang setelah ini," ucap Lili.


Leo terdiam semakin bingung, apa mungkin rumah yang sebelumnya mereka tempati dianggap membawa keburukan bagi Lili sehingga Lili sebenarnya merasa tak nyaman? Namun, mengapa selama ini Lili tak pernah mengatakannya padanya? Padahal, jika Lili mengatakannya sejak awal, dia bisa saja dengan mudah membeli rumah yang lain yang bisa membuat Lili tinggal dengan nyaman.


"Jadi rumah itu membuatmu tak tenang?" tanya Lili.


"Sebelumnya aku merasa senang tinggal di sana, tapi rumah itu sudah bukan rumah lagi sekarang dan seharusnya kamu tahu apa penyebabnya," ucap Lili.


Leo terdiam, dia semakin bingung dengan ucapan Lili. Dia sama sekali tak tahu apa yang Lili maksud dan itu membuatnya penasaran dengan alasan Lili yang sebenarnya.

__ADS_1


"Aku merasa semenjak orang asing menginjakkan kaki di rumah itu, rumah itu bukan rumah yang akan membawa ketenangan lagi bagi keluarga kita. Tentu aku ingin keluarga kita hidup dengan tenang tanpa ada gangguan orang asing manapun," ucap Lili.


Leo lagi-lagi terdiam, dia tampaknya mulai mengerti alasan Lili tak ingin tinggal di rumah itu lagi. Apa mungkin Lili khawatir Florence akan datang lagi ke rumah itu? Leo yakin, orang asing yang Lili maksud adalah Florence karena selain Florence tak pernah ada orang asing lainnya yang datang ke rumah itu.


"Itu adalah keinginanku, tapi tentu aku takkan memaksamu. Hanya saja, aku tetap takkan kembali ke rumah itu, jadi keputusannya ada di tanganmu sekarang. Pindah ke rumah ini bersamaku, atau --"


Lili tak melanjutkan ucapannya ketika Leo tiba-tiba meraih bahunya dan merangkulnya.


"Kenapa tidak? Kita akan pindah ke rumah ini," ucap Leo seraya tersenyum.


"Kamu tak keberatan?" tanya Lili.


Leo menggelengkan kepalanya.


"Aku mengerti maksudmu, dan aku yang menyebabkan orang asing memasuki rumah itu. Selain dirimu, tentu aku juga ingin hidup dengan tenang," ucap Leo seraya tersenyum.


Lili tersenyum. Sejujurnya dia terkejut karena semudah itu membuat Leo setuju untuk meninggalkan rumah pertama mereka. Padahal, rumah itu adalah rumah yang sebagian besar dibangun sesuai keinginan Leo dan Lili tahu tak semudah itu membuat Leo merasa nyaman tinggal di suatu tempat.


Lili juga tak yakin Leo akan benar-benar nyaman tinggal di rumah yang baru. Namun, tentu saja Lili takkan mengatakan apapun sekarang. Lili akan menghargai Leo karena Leo sudah memahami keinginannya yang tak ingin lagi tinggal di rumah yang telah didatangi wanita yang membuatnya geram akhir-akhir ini yaitu Florence.


Lili tersenyum seraya mengangguk. Dia akhirnya menunjukan semua yang ada di rumah itu pada Leo.


Sementara itu di sisi lain, tepatnya di kediaman orangtua Leo.


Clara sejak pagi terlihat tak tenang, jelas sekali dia memikirkan nasib pernikahan anaknya. Sejak pagi dia bahkan hanya berdiam diri di kamar dan terus memegangi ponselnya karena berharap akan mendapatkan kabar dari anak atau menantunya yang akan memberitahu dirinya bahwa mereka telah kembali bersama.


"Apa yang terjadi padamu? Kenapa sejak tadi berada di kamar terus?" tanya Bram yang baru saja memasuki kamar.


"Aku sedang malas keluar," ucap Clara yang enggan melihat Bram.


Bram menghela napas. Dia sebenarnya mengerti mengapa Clara terlihat tak bersemangat sekarang.


"Mereka akan baik-baik saja," ucap Bram, sontak Clara melihat Bram.


"Siapa yang akan menjamin itu? Bukankah seperti katamu, kita tak berhak ikut campur? Jadi bagaimana kita akan tahu apa yang terjadi dengan mereka sekarang? Mereka bahkan tak menghubungiku sama sekali," ucap Clara.


"Aku yang akan menjaminnya," ucap Bram.

__ADS_1


"Oh ayolah ..." Clara memutar bola matanya dengan malas, Bram seperti paranormal saja yang bisa tahu apa yang akan terjadi di masa depan.


"Aku khawatir pada cucuku. Untuk Leo, aku tak peduli dengannya!" ucap Clara masih terdengar kesal.


"Ya, itu hal yang wajar. Kamu sedang marah sekarang," ucap Clara.


"Jangan membela anakmu, Bram!" kesal Clara.


"Siapa yang membela? Aku mencoba menenangkanmu karena aku khawatir kesehatanmu terganggu jika kamu terlalu khawatir seperti ini. Mungkin saja sekarang mereka sudah baik-baik saja 'kan? Mereka mungkin sedang duduk bersama dan bicara baik-baik," ucap Bram.


'Ya, aku harap begitu,' batin Clara.


Bram menghampiri Clara, dia duduk di sisi Clara.


"Aku percaya pada Leo dan Lili, mereka pasti bisa mengatasi masalah mereka. Bukankah tak ada pernikahan yang berjalan dengan mulus? Lihat saja kita, berapa banyak hal yang telah kita lewati? Jikapun mereka berpisah, mungkin memang itu yang terbaik bagi Lili. Lili mungkin akan mendapatkan pria yang bisa mencintainya dengan tulus dan dia mungkin akan lebih bahagia," ucap Bram.


"Sungguh? Kenapa kamu bicara enteng sekali? Apa kamu pikir wanita bisa dengan mudah percaya dengan pria lagi setelah disakiti hatinya? Yang benar saja!" kesal Clara.


Bram akan mengatakan sesuatu. Namun, Clara tiba-tiba bangkit dari posisinya. Dia menatap Bram dengan penuh kekecewaan.


"Aku takkan semarah ini jika anakku belum menikah, tapi dia telah menikah dan aku sangat marah sekarang. Aku sangat kecewa, pria macam apa yang tega mengkhianati wanita yang telah melahirkan anaknya? Apakah pria itu masih pantas diberi hati? Kamu memang benar, sebaiknya Lili memang berpisah saja dengan Leo. Dengan begitu Leo mungkin akan memahami bahwa pernikahan itu bukan hal yang bisa dipermainkan!" kesal Clara dan meninggalkan Bram.


Bram menahan napasnya sejenak, setelah itu mengembuskannya dengan berat. Clara tak tahu, selain Clara, tentu saja dirinya juga sebenarnya kecewa pada Leo. Namun, meskipun dia marah pada Leo, apa yang bisa dia lakukan? Sudah benar dia tak ikut campur ke dalam masalah Leo dan Lili.


Di sisi lain, tepatnya di kantor Florence.


Florence memanggil Lysa ke ruangannya. Begitu Lysa sampai di ruangannya, dia meminta Lysa untuk pergi ke sebuah hotel untuk meninjau lokasi yang akan dipakai untuk sebuah acara dari klien barunya.


"Maaf, Bu. Kenapa saya? Bukankah seharusnya Lili yang pergi?" tanya Lysa.


Florence yang sedang mencatat sesuatu di sebuah buku tiba-tiba langsung terdiam mendengar nama Lili disebut.


"Saat saya menjadi asisten Anda, Anda menyerahkan semua pekerjaan pada saya, tapi sekarang saya bukan asisten Anda lagi dan pekerjaan saya sekarang adalah apa yang seharusnya Lili kerjakan sejak dia memasuki perusahaan ini," ucap Lysa.


Florence menekan pulpen di atas bukunya, dia lantas menatap Lysa.


"Apa kamu ingin melihat seperti apa marahnya singa yang sedang tidur?" tanya Florence di tengah tatapannya yang tiba-tiba berubah marah pada Lysa.

__ADS_1


__ADS_2