
Leo melajukan mobilnya menuju sebuah klub. Begitu sampai di depan klub, Leo mengambil ponselnya dan menghubungi kontak Hans. Hans adalah teman Leo saat SMA. Namun, sampai saat ini hubungannya terjalin baik, bahkan sangat baik. Pria seusia dengan Leo itu juga salah satu orang yang menyebabkan Leo sampai menghamili Lili sebelum pernikahan terjadi.
'Halo,' ucap Hans.
'Aku di tempat biasa, temani aku,' ucap Leo.
'Oh, tumben sekali. Ada apa?' tanya Hans.
'Ke sini saja, aku benar-benar suntuk. Aku butuh teman,' ucap Leo.
'Baiklah, aku akan ke sana,' ucap Hans.
'Ya.' Leo mengakhiri telepon itu dan keluar dari mobil. Dia pun memasuki klub lebih dulu.
Begitu sampai di depan bar, seperti biasanya wanita-wanita penghibur di sana menghampirinya. Namun, dia mengabaikan wanita-wanita itu. Dia justru bicara dengan bartender di sana.
"Hei!" teriak Leo seraya beranjak dari kursi bar ketika seorang wanita menyentuh bahunya. Leo melihat wanita itu yang terlihat terkejut melihat dirinya berteriak.
"Bisa jaga tanganmu tidak, ha? B*engsek sekali menyentuhku, apa tanganmu bersih?" geram Leo seraya menatap nyalang wanita itu.
"Leo tenanglah," ucap bartender, bartender itu bernama Rian. Dia sudah cukup lama mengenal Leo.
"Si*lan, dia menyentuhku!" kesal Leo seraya mengusap bahunya berulang kali seakan dia ingin membersihkan jejak wanita sentuhan wanita itu yang ada di kemeja yang dia kenakan.
Wanita itu yang begitu ketakutan pun bergegas meninggalkan Leo.
"Ada apa denganmu? Kenapa kamu emosional sekali malam ini?" ucap Rian.
"Dia lancang sekali, bagaimana aku tidak emosi?" kesal Leo.
"Baiklah, sudah jangan marah-marah lagi. Di mana Hans? Tumben sekali dia tak datang bersamamu," ucap Rian.
Leo mengabaikan pertanyaan Rian dan justru pergi meninggalkan meja bar. Dia bergegas menuju toilet. Di dalam toilet, dia masih saja menggerutu tentang sikap wanita penghibur tadi. Dia benar-benar merasa tak nyaman. Dia pun mencuci tangannya karena sempat menyentuh bahunya yang disentuh oleh wanita itu.
'Benar-benar kurang ajar, tangannya bekas menyentuh apa aku bahkan tak tahu!' batin Leo kesal.
Selesai membersihkan tangannya, Leo pun kembali ke meja bar. Di sana, Rian memberikan minuman pada Leo.
"Apa ini?" tanya Leo.
"Coba saja, aku membuatkannya untukmu agar perasaanmu jauh lebih baik, setidaknya tensi darahmu akan turun," ucap Rian. Leo pun memutar bola matanya.
__ADS_1
'Apa dia pikir aku darah tinggi?' batin Leo. Leo pun mengambil minuman itu dan mencobanya. Rupanya, minuman itu cukup menyegarkan dan sepertinya tak memiliki kadar alkohol yang tinggi.
Selang beberapa menit, seseorang menepuk bahu Leo.
"Apa lagi?" kesal Leo dan lagi-lagi beranjak dari kursinya. Dia berbalik untuk memaki orang yang sudah berani menyentuhnya, dia pikir yang menyentuhnya adalah seorang wanita penghibur lagi. Namun, begitu dia berbalik dia terdiam.
"Ada apa denganmu?" tanya orang itu yang tak lain adalah Hans.
Ya, akhirnya Hans sampai di klub itu.
"Kupikir wanita di sini," ucap Leo dan kembali duduk di kursinya.
Hans pun melihat ke sekelilingnya. Wanita mana yang Leo maksud? Pikirnya. Hans lantas duduk di samping Leo.
"Apa ada wanita yang menggodamu?" tanya Hans, kemudian terkekeh.
Leo memutar bola matanya.
"Kenapa harus dianggap? Abaikan saja mereka," ucap Hans.
"Bukan hanya mendekatiku, tapi bahkan menyentuhku. Menjengkelkan sekali, dia pikir dia siapa?" kesal Leo.
"Baiklah, kenapa kamu ke sini? Bagaimana kabar Lili?" tanya Hans.
"Baiklah, jika kamu tak ingin cerita. Tapi, aku rasa aku tahu kenapa kamu datang ke sini," ucap Hans.
"Aku tak bisa tidur, karena itu aku datang ke sini," ucap Leo.
"Tidur di jam seperti ini? Rasanya memang tak mungkin bagimu, kecuali Lili membuatmu kesal," ucap Hans.
Leo menoleh pada Hans dan Hans tersenyum. Hans menepuk bahu Leo.
"Seperti tak tahu wanita saja, mereka memang begitu. Kenapa diambil pusing? Mereka juga akan baik kembali," ucap Hans.
'Baik kembali apanya? Dia bicara seakan dia tahu bagaimana hidup dengan seorang wanita yang sama sekali tak ada manis-manisnya. Ingin mengajaknya pergi berdua saja begitu sulit, tak pernah bisa diajak kompromi!' batin Leo kesal.
"Oh, ya. Maisy bagaimana? Aku sudah lama tak melihatnya," ucap Hans
Leo pun terlihat malas membahas Maisy.
"Dia pasti sudah bisa melakukan banyak hal, ya," ucap Hans.
__ADS_1
"Ya," ucap Leo.
"Dia pasti semakin lucu, aku ingat saat terakhir kali bertemu dengannya. Dia sangat cantik dan menggemaskan, dia benar-benar mirip sekali denganmu," ucap Hans.
"Benarkah?" tanya Leo seraya mengerutkan dahinya.
Hans mengangguk.
"Apa kamu tak pernah memperhatikannya? Berfoto saja berdua dengan Maisy, bandingkan seberapa besar tingkat kemiripanmu dengan Maisy. Sepertinya, Maisy takut tak diakui olehmu," ucap Hans kemudian terkekeh.
Leo pun terdiam sejenak. Dia lalu mengambil ponselnya dan mencari foto Maisy di galeri fotonya. Sebenarnya, sangat mudah menemukan foto Maisy. Ada cukup banyak foto Maisy di galeri ponselnya, hanya saja dia jarang sekali membuka galeri ponselnya. Dia menggunakan ponselnya hanya jika dia butuh melakukan panggilan ataupun seseorang menghubunginya.
Hans diam-diam melirik ke layar ponsel Leo.
"Apa itu Maisy?" tanya Hans.
Leo mengangguk.
"Coba aku lihat," ucap Hans dan Leo memberikan ponselnya pada Hans. Hans pun melihat foto Maisy yang sedang tersenyum seraya bergantian melihat Leo.
"Dia mirip sekali denganmu. Mata, hidung, bibir, bahkan saat dia tersenyum seperti ini, dia dan dirimu bagai pinang di belah dua," ucap Hans.
Leo pun kembali mengambil ponselnya dan kembali memperhatikan Maisy. Sebenarnya, bukan hanya Hans saja mengatakan seperti itu, melainkan orangtuanya pun mengatakan seperti itu. Maisy sangat mirip dengannya saat bayi dulu. Namun, dia tak pernah memperhatikannya dengan begitu detail. Dia juga jarang sekali melihat foto masa kecilnya.
Leo jadi teringat saat dia memasuki kamar hotel tadi, dia sempat melihat Maisy yang sudah tertidur di temani pengasuhnya. Jika dia tak salah ingat, Maisy tidur seraya mengisap ibu jarinya.
"Ngomong-ngomong ..." Leo menghentikan ucapannya sejenak, dan menyimpan ponselnya ke dalam saku celanannya.
"Sudah malam," ucap Leo seraya melihat jam tangannya.
Hans mengerutkan dahinya.
"Ayok pulang," ucap Leo seraya menepuk bahu Hans.
"Pulang? Aku bahkan baru sampai," ucap Hans sedikit terkejut. Yang benar saja, mungkin belum 10 menit dia duduk di depan bar, kenapa Leo justru mengajaknya pulang?
"Jadi, kamu masih akan tinggal di sini? Sendirian?" tanya Leo.
"Apa kamu benar-benar akan pulang? Bukannya kamu yang memintaku datang?" ucap Hans tak habis pikir. Leo benar-benar kebiasaan, senang sekali meninggalkan temannya padahal Leo lah yang memintanya untuk datang.
"Ya, aku akan pulang," ucap Leo dan sebelum Hans sempat mengatakan sesuatu, Leo justru menjauh dengan cepat.
__ADS_1
'Dia benar-benar, tahu begitu aku takan ke sini!' batin Hans kesal.