
"Setelah aku perhatikan, ada sesuatu yang berbeda denganmu," ucap Leo seraya menyentuh dagunya seakan dia sedang memikirkan sesuatu.
Sisil pun memperhatikan dirinya sendiri. Entah apa yang berbeda darinya? Pikir Sisil bingung.
Baru saja Sisil akan mengatakan sesuatu, Leo mengangkat 1 tangannya seakan dia ingin mengingatkan Sisil untuk tidak mengatakan apapun.
"Dulu kamu memang menarik, tapi sekarang kamu bukan seleraku lagi, maaf," ucap Leo, sontak Sisil tercengang.
Dia terkejut mendengar apa yang Leo katakan. Saking terkejutnya, dia bahkan seperti orang bodoh dan bengong di tempatnya. Hingga Leo menutup pintu ruangan itu dan akhirnya suara dari pintu itulah yang menyadarkan Sisil dari rasa terkejutnya.
Jantungnya berdegup cepat ketika ucapan Leo kembali terngiang di telinganya. Dia pun meraih tasnya dengan perasaan kesal luar biasa. Setelah itu dia meninggalkan ruangan itu.
Sementara itu, Leo kini berada di toilet. Dia sedang buang air kecil. Selesai buang air kecil, dia menghubungi salah satu orang kantor dan meminta orang kantor untuk datang menemuinya di hotel tersebut. Dia akan membicarakan tentang persiapan pesta yang dia janjikan pada Mr. Jacob besok malam.
Begitu membahas pesta itu dengan orang yang Leo panggil, Leo meminta pesta itu diadakan di hotel milik keluarganya. Dia juga meminta agar pesta itu di adakan secara tertutup karena tak ada orang luar yang akan diundang. Pesta itu hanya untuk memperkenalkan Mr. Jacob pada semua petinggi di perusahaan Sasongko.
Meeting itupun selesai hingga hampir pukul 11 malam. Semua yang Leo katakan dicatat oleh orang itu agar tak ada satupun yang terlewat.
Setelah itu, Leo meninggalkan hotel dan kembali ke rumah.
***
Begitu sampai di depan pintu pagar rumah, Leo terkejut karena Lili yang membuka pintu pagar. Dia pun melajukan mobilnya dan berhenti di garasi. Dia lantas keluar dari mobil dan melihat Lili yang sedang mengunci pintu pagar.
Leo lalu pergi ke pos satpam, di sana tak ada orang.
"Ke mana orang-orang? Kenapa kamu yang membuka pintu?" tanya Leo bingung.
Leo pikir, Lili sudah tidur karena waktu sudah menunjukan lewat tengah malam.
"Mereka sudah tidur," ucap Lili.
"Tidur? Lalu Aji?" tanya Leo.
Aji adalah security di kediaman Leo. Saat Leo melihat ke pos satpam tadi, Leo tak melihat keberadaan Aji.
"Aji mendadak dihubungi keluarganya, anaknya sakit dan harus segera ke Rumah Sakit," ucap Lili.
"Yang lain? Apa tidur semua? Telinganya tersumpal?" tanya Leo seraya menunjukan raut wajah tak senang.
"Mereka sedang beristirahat, kebetulan aku dengar suara klaksonmu," ucap Lili.
__ADS_1
"Yang benar saja, suruh mereka semua ke THT. Tidur atau mati?" ucap Leo dan berjalan menuju pintu.
Lili pun menghela napas. Leo pasti sangat lelah karena itu menjadi sangat sensitif. Padahal, apa bedanya siapa yang membukakan pintu pagar? Bukankah yang terpenting akhirnya dia bisa masuk?
Begitu sampai di kamar, Leo meminta Lili menyiapkan air hangat untuknya. Dia ingin mandi sebelum tidur. Lili pun melakukan apa yang Leo minta.
Selesai mandi dan berpakaian, Leo keluar dari ruang ganti dan melihat Lili menghampirinya. Lili lalu menyodorkan secangkir minuman hangat padanya.
"Besok aku akan pulang malam," ucap Leo.
"Oh ya? Ada apalagi?" tanya Lili.
"Aku mengadakan pesta untuk merayakan kerja sama dengan klien yang aku temui malam ini," ucap Leo.
"Jadi, kamu berhasil bekerjasama dengan mereka?" tanya Lili.
Leo mengangguk dan tersenyum penuh bangga.
"Tentu saja," ucap Leo. Senyuman tak lepas dari bibirnya. Akhirnya dia takan dikirim lagi ke kantor cabang. Dia telah membuat prestasi di perusahaan, dia berharap setelah ini papinya memberikan suatu penghargaan atas prestasinya. Kabar itu pasti akan sangat cepat sampai ke telinga papinya.
Lili tersenyum, dia ikut senang mendengar apa yang Leo katakan. Namun, apakah Leo takan mengundangnya ke pesta itu? Pikirnya. Dia memperhatikan Leo yang meletakan cangkir di atas meja. Leo lalu berbalik dan kembali melihatnya.
"Aku lelah sekali, aku akan tidur. Kamu juga tidur," ucap Leo dan pergi ke tempat tidur.
Lili pun naik ke tempat tidur dan kembali memperhatikan Leo. Leo tiba-tiba menoleh padanya, membuatnya sedikit terkejut.
"Kenapa kamu memperhatikanku?" tanya Leo.
"Apa? Aku biasa saja," ucap Lili dan mulai merebahkan tubuhnya.
"Kamu bohong, Lili. Apa kamu sedang berpikir, kenapa aku tak mengajakmu ke pesta itu?" tanya Leo.
Lili tercengang, bagaimana bisa Leo tahu apa yang dia pikirkan?
"Karena ini bukan pesta besar, khusus untuk dirimu, aku akan mengajakmu ke pesta besar saja," ucap Leo dan memejamkan matanya.
Lili menarik napas dalam-dalam dan mengembsukannya dengan perlahan.
'Aku justru berpikir pesta nanti adalah untuk merayakan pencapaian besarnya, tapi dia justru berpikir lain,' batin Lili.
Lili menarik selimut dan mengganti lampu kamar dengan lampu tidur.
__ADS_1
'Terserah saja, aku lebih baik tidur,' batin Lili.
***
Ke esokan harinya.
Pagi-pagi sekali Leo bangun dan menghubungi orang yang semalam dia hubungi.
'Bagaimana persiapannya, apakah sudah ketemu event organizer yang bisa bekerja dadakan?' ucap Leo.
'Sudah, Pak Leo. Kebetulan dia kenalan Saya,' ucap orang itu.
'Baguslah, sebelum ke kantor Saya akan ke hotel dulu. Saya akan melihat seperti apa persiapannya. Tolong kamu kabari orang EO-nya, Saya ingin bertemu dengannya,' ucap Leo.
'Baik, Pak. Saya akan mengabarinya,' ucap orang itu dan telepon berakhir.
Leo samar-samar mendengar suara dari arah ruang ganti. Suara itu terdengar seperti suara Maisy yang sedang tertawa. Dia pun beranjak dari tempat tidur dan pergi menuju ruang ganti. Tak ada siapapun di sana, tetapi suara tawa Maisy semakin terdengar. Dia lantas pergi menuju kamar mandi dan melihat Maisy yang sedang mandi dengan dibantu oleh Lili.
Leo pun tersenyum. Entah ada apa dengannya akhir-akhir ini, dia jadi sering tersenyum melihat Maisy. Apalagi semakin dia memperhatikan Maisy, Maisy semakin terlihat cantik dan menggemaskan.
"Papi," ucap Maisy ketika menyadari keberadaan Leo.
"Ya?" ucap Leo menanggapi panggilan Maisy. Sontak saja Lili yang sebelumnya memunggungi Leo langsung melihat ke arah Leo.
"Kupikir kamu belum bangun," ucap Lili.
"Aku baru bangun, kenapa mandi pagi-pagi sekali?" ucap Leo.
"Dia p*p jadi aku sekalian memandikannya," ucap Lili.
Leo mengangguk dan memasuki kamar mandi, dia membasuh wajahnya di sana.
"Papi!" ucap Maisy lagi dan Leo yang wajahnya terdapat banyak sabun sontak saja menoleh pada Maisy.
Maisy pun terkekeh, membuat Lili ikut terkekeh.
"Seperti hantu," ucap Lili.
Leo pun mencoba menakuti Lili membuat Maisy tertawa geli. Leo pun jadi ikut tertawa.
"Maisy tertawa seperti sedang melihat badut," ucap Lili.
__ADS_1
Leo pun memutar bola matanya dan mencolek pipi Lili dengan bisa yang ada di wajahnya. Sontak saja Lili menatap Leo dengan tajam tetapi Maisy justru terus tertawa. Anak itu sepertinya bahagia sekali melihat orangtuanya bercanda.