
Florence menatap Leo, tatapan Leo tiba-tiba berubah dan tampak tak senang. Melihat itu membuatnya sedikit cemas, jangan-jangan Leo tak percaya padanya? pikirnya.
"Florence, pertama aku tak mengerti dengan semua yang kamu katakan. Yang kedua, aku masih ingat saat aku menemuimu dan kamu mengatakan bahwa kamu tak pernah mengatakan apapun pada Lili, tapi kenyataannya hari ini kamu mengakuinya sendiri bahwa kamu memang pernah mengatakan ingin merebutku dari Lili, apa sebenarnya yang kamu inginkan, ha?" ucap Leo.
"Ya ampun, Leo. Aku tak menginginkan apapun, aku sudah katakan saat itu aku hanya terlalu kesal pada Lili, karena itu aku bicara omong kosong. Aku benar-benar tak memiliki niat seperti itu, sekarang aku bicara jujur padamu, Lili benar-benar ingin menghancurkanmu," ucap Florence.
"Benarkah begitu? Tapi aku tahu siapa Lili, jika dia ingin menghancurkan-ku tentu saja dia memiliki banyak cara untuk melakukannya dan tak perlu meminta bantuanmu yang sudah jelas Lili sangat tak menyukaimu karena kita pernah memiliki hubungan di masa lalu," ucap Leo.
Ya, bukankah yang Leo katakan benar? Jika Lili ingin menghancurkannya, Lili takkan bersusah payah mencari kesalahannya sedangkan Lili sudah memegang banyak kesalahannya yang bisa digunakan untuk menghancurkannya. Ucapan Florence sama sekali tak masuk akal bagi Leo, apalagi dia tahu bahwa Lili sangat tak suka pada Florence. Lili bahkan sampai marah dan ingin menggugatnya saat tahu dia kembali bertemu dengan Florence jadi tak mungkin Lili akan menemui Florence.
Sementara itu Florence mengusap wajahnya, Leo benar-benar tak percaya padanya membuatnya tak tahu lagi bagaimana caranya untuk meyakinkan Leo bahwa dia sama sekali tak berbohong.
"Leo, bagaimana caranya agar kamu percaya padaku? Aku benar-benar tak berbohong," ucap Florence tampak putus asa seraya duduk di sofa. Dia menutup wajahnya lagi, dan memikirkan cara agar Leo benar-benar percaya padanya.
"Baiklah, anggap saja apa yang kamu katakan benar. Tapi, aku akan memberitahumu dari sekarang. Aku tak tertarik untuk kembali pada masa laluku, aku sudah menikah dan jelas aku memiliki keluarga, karena itu aku akan tetap bersama keluargaku," ucap Leo.
Florence terdiam mendengar ucapan Leo, dia lantas mendongak melihat Leo yang sedang menatapnya.
"Florence, aku yakin kembalinya kita bertemu benar-benar tak disengaja dan aku percaya padamu. Karena itu, aku tak ingin mencari masalah denganmu sekarang. Kamu pernah memintaku untuk menjadi temanmu bukan? Sekarang biar aku katakan, kita takkan pernah berteman," ucap Leo.
"Kenapa, Leo? Aku sama sekali tak ingin melakukan apapun padamu, tapi kenapa sepertinya kamu takut padaku?" ucap Florence.
"Aku bukan takut padamu, tapi jika aku melakukannya, aku akan melukai Lili dan akan menghancurkan perasaannya. Aku benar-benar tak ingin kembali pada masa laluku yang sudah aku tutup setelah aku menikah dengan Lili, aku minta maaf jika kembalinya kita bertemu membuatmu menjadi salah paham," ucap Leo.
Florence mengepalkan tangannya.
"Sebaiknya kamu pergi dari sini," ucap Leo dan akan meninggalkan Florence. Namun, dia kembali melihat Florence ketika Florence memanggilnya.
"Tak masalah jika kamu tak ingin kembali pada masa lalumu, tapi percayalah padaku, Leo. Lili benar-benar wanita licik!" geram Florence.
"Kenapa kamu begitu memaksa?" ucap seseorang, sontak Florence dan Leo melihat ke arah orang itu.
Mereka dibuat terkejut ketika melihat orang itu yang ternyata adalah Lili.
Ya, Lili berada di pintu masuk rumah itu sekarang. Bahkan dia sejak tadi ada di dekat pintu dan mendengar apa yang Leo dan Florence katakan.
Lili kemudian mulai mendekat ke arah Leo dan Florence.
"Syukurlah kamu datang sekarang, lebih baik kamu katakan yang sebenarnya pada Leo tentang tujuanmu menemuiku hari ini," ucap Florence.
__ADS_1
"Apa maksudmu? Kenapa aku harus menemui orang yang ingin menghancurkan pernikahanku?" ucap Lili.
Florence tercengang mendengar Lili bicara seperti itu.
"Aku bahkan tak ingin melihat wajahmu, jadi bagaimana mungkin aku sanggup untuk bicara denganmu?" ucap Lili.
Florence mengepalkan tangannya. Dia benar-benar terkejut dengan ucapan Lili. Entah apa sebenarnya yang terjadi sekarang? Kenapa Lili justru menyangkal kenyataan? Pikirnya terkejut.
"Florence, kamu sendiri yang mengatakan pada Leo bahwa kamu ingin menghancurkan pernikahannya denganku, lalu apa kamu pikir aku akan benar-benar memberikan kesempatan padamu untuk bisa menghancurkannya? Bagaimana jika posisinya terbalik dan kamulah yang ada di posisiku? Apa kamu akan diam saja? Tidak bukan?" ucap Lili.
Florence mengepalkan tangannya semakin erat. Dia tiba-tiba tersadar bahwa Lili sedang mempermainkannya. Dia lantas menghampiri Lili dan mengangkat tangannya untuk melayangkan tamparan ke wajah Lili. Namun, dengan cepat Lili menahan tangan Florence sehingga Florence tak sempat menamparnya.
"Aku tak tahu bagaimana akhirnya kamu bisa bertemu kembali dengan Leo, tapi kamu sudah dengar apa yang Leo katakan bukan? Dia tak tertarik untuk kembali padamu, jadi terima saja kenyataan bahwa kamu takkan pernah mencapai tujuanmu untuk menghancurkan pernikahan kami. Lagipula selama aku masih ada, aku takkan membiarkanmu menghancurkannya dan terlepas bagaimana takdir membuatku menikah dengan Leo, terlepas siapa Leo bagi dirimu di masa lalu, aku harap kamu mengerti dan tidak lagi memiliki niat buruk apapun!" tegas Lili, kemudian melepaskan tangan Florence.
"Kamu benar-benar licik, Lili!" geram Florence.
"Aku licik? Kalau begitu bagaimana denganmu? Kamu tahu Leo suamiku tapi kamu memancingnya untuk datang bersamamu ke acara peresmian kantormu sehingga aku akhirnya melihat kalian bersama? Bukankah itu sangat keterlaluan? Kamu bahkan menahanku ketika aku ingin mengundurkan diri dari perusahaanmu, apa sebenarnya tujuanmu? Bukankah kamu ingin menginjak harga diriku? Aku tentu takkan diam saja, aku sudah berbaik hati untuk melakukan yang semestinya, tapi kamu yang memaksaku melakukan semua ini!" ucap Lili.
"Lili!" Florence berteriak di depan Lili, dia terlihat sangat marah sekarang.
"Aku bersumpah akan membalasmu," ucap Florence.
"Aku mohon pergilah dari sini, Florence!" ucap Leo dengan penuh penekanan.
Florence mengepalkan tangannya, dia lantas menghampiri Leo.
"Aku sangat membencimu, Leo. Bahkan sejak dulu hingga sekarang aku benar-benar sangat membencimu, kenapa kamu menyakitiku untuk yang kedua kalinya, ha? Kenapa kamu sangat keterlaluan?" geram Florence dan mendorong tubuh Leo.
"Aku bahkan tak pernah tahu kita akan bertemu lagi, dan aku bersumpah aku sama sekali tak memiliki niat untuk membuatmu kembali padaku. Aku bicara denganmu hanya karena aku merasa kagum dan lega karena akhirnya kehidupanmu menjadi lebih baik sehingga aku takkan merasa bersalah atas semua yang terjadi padamu di masa lalu," ucap Leo.
"Keterlaluan!"
Plak!
Florence menampar wajah Leo membuat Leo terkejut dan menatap Florence dengan tajam.
"Dasar bodoh, kenapa kamu menamparku?" geram Leo.
"Kamu pantas mendapatkannya dan untukmu, Lili!"
__ADS_1
Florence beralih melihat Lili, dia lantas menunjuk wajah Lili.
"Aku benar-benar tak menyangka di balik wajah lugumu tersimpan kelicikan yang luar biasa. Ingatlah kamu dan aku sama-sama perempuan, kelak kamu akan dipermainkan sama seperti kamu mempermainkanku hari ini!" geram Florence.
"Tak ada yang dipermainkan di sini, justru seharusnya kamu berterima kasih padaku karena aku telah membuatmu mengerti segalanya sehingga kamu tak perlu bekerja keras untuk menghancurkan pernikahanku dengan Leo," ucap Lili.
Florence tersenyum sinis, dia akan mengatakan sesuatu. Namun, Lili justru semakin mendekati Florence.
"Semua ini seharusnya membuatmu sadar bahwa kamu sama sekali tak memiliki kesempatan untuk menghancurkan pernikahanku, jadi berhentilah untuk melakukan apapun karena itu hanya akan berakhir sia-sia. Lebih baik kamu melanjutkan hidupmu," ucap Lili.
Plak!
"Florence!" Leo membentak Florence saat melihat Florence menampar Lili. Namun, Florence mengabaikan Leo dan bergegas pergi dari ruangan itu.
Leo kemudian menghampiri Lili.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Leo seraya menyentuh wajah Lili. Namun, Lili bergegas menghindari Leo. Setelah itu dia menatap Leo dengan mata yang memerah. Dia tampak akan menangis, mungkinkan tamparan Florence tadi begitu menyakitkan?
"Apa sekarang kamu puas? Apa semua yang terjadi barusan bisa membuatmu benar-benar sadar bahwa sekecil apapun api yang coba kamu nyalakan di manapun bisa membakar sekitarnya, bahkan bisa menghancurkan apa saja yang ada disekitarnya hingga menjadi abu?"
Leo terdiam mendengar ucapan Lili.
"Biar aku beritahu padamu, semua yang Florence katakan tadi adalah benar. Aku memang mengatakan semua itu padanya agar dia datang padamu hari ini!" ucap Lili dengan penuh penekanan.
Leo pun terkejut mendengar ucapan Lili.
"Leo, aku tahu aku takkan mampu mencegah siapapun untuk datang dalam hidupmu, tapi seharusnya kamu mengerti bahwa wanita tak sama seperti pria. Jika kamu berpikir kamu tak memberikan harapan apapun pada setiap wanita yang hadir dalam hidupmu, maka ingatlah wanita bukan pria yang bisa dengan mudahnya bermain-main. Wanita selalu mengandalkan perasaan mereka, karena itu meski kamu menganggap tindakanmu atau ucapan yang keluar dari bibirmu hanya sebagai hal yang biasa, wanita bisa melihatnya berbeda," ucap Lili.
Leo kembali terdiam.
"Dan tentang Florence, kamu mungkin bisa mengatakan tak memberikan harapan apapun padanya, tapi sebenarnya kamu tak sadar bukan bahwa dengan terus menemuinya kamu justru sedang menciptakan harapan untuk bisa kembali bersamamu?" ucap Lili.
Leo kembali diam, entah apa yang dia pikirkan setelah mendengar semua ucapan Lili.
"Aku sudah terlalu banyak bicara, sangat keterlaluan jika kamu tak mengerti maksudku. Lebih baik aku pergi sekarang, lagipula sudah tak ada tontonan yang menarik di sini," ucap Lili dan berbalik. Dia pergi menuju pintu.
"Aku mengerti maksudmu!" ucap Leo, sontak Lili terdiam.
Tak lama Leo sampai di hadapan Lili dan Leo tiba-tiba mendorong pintu itu hingga akhirnya pintu itu tertutup. Setelah itu Leo memeluk Lili.
__ADS_1
"Tolong jangan pergi lagi," ucap Leo. Lili pun terdiam.