Janda Kembang Season 2 ( Ternoda )

Janda Kembang Season 2 ( Ternoda )
Pasrah pada Takdir


__ADS_3

''Baiklah, mulai sekarang kalian sudah sah menjadi pasang Suami istri. Seharusnya Kalian belum bisa dinikahkan mengingat kalian berdua yang masih sekolah. Tapi karena satu musabab, itu tidak apa. Kalian sah secara agama tapi belum terdaftar secara hukum. Setelah kalian tamat sekolah nanti, kalian boleh mendaftarkan pernikahan ini ke KUA. Alhamdulillah i robbil 'alamin..'' Pak penghulu membaca doa untuk pernikahan Rayyan dan juga Zahra.


Setelahnya, beliau di suguhkan makan siang bersama para tetua disana. Ada Opa Angga dan Kakek Ali. Beliau selalu setia mendampingi Reza. Bahkan mereka sekeluarga tetap tinggal dirumah itu, walau sesekali harus pulang ke Bogor demi usaha mereka yang ada disana.


Sementara Nenek Saras telah berpulang ke Rahmatullah saat Zahra berusia dua belas tahun. Hanya cukup sampai disana akhir hidupnya. Apalagi yang ia cari? Sementara anak semata wayangnya telah bahagia dengan putra kecilnya.


Beliau menghembuskan nafas terakhirnya di Bogor saat perjalanan pulang ke Medan. Paman Ali yang bersedia selalu menemani nya langsung saja membawa pulang Nenek Saras untuk bisa di makam kan di samping Kakek Alam Syah. Suaminya.


Mami Alisa dan Mama Rani mendekati pengantin baru di usia muda itu. ''Nak??'' panggil Mami Alisa.


Zahra mengurai pelukannya dari pelukan Rayyan. Ia menoleh pada Mami Alisa dan menubruknya.


''Hiks.. Mami.. maaf.. aku tidak sempurna menjadi menantu mu.. maafkan Zahra Mami.. maafkan Zahra.. andai Zahra bisa menjaga diri waktu itu.. pastilah tidak terjadi seperti ini.. hiks .. aku bukan menantu terbaik mu Mami.. aku menantu terburuk yang sudah Ternoda.. maafkan aku Mami.. maaf.. hiks.. maaf.. Maafkan aku Mami.. aku rela mati untuk menebus semua ini.. hiks.. lebih baik aku mati dan dilahirkan kembali dengan jiwa yang baru dan bersih. Tidak seperti sekarang ini.. hiks .. aku kotor Mami.. Zahrani kotor.. sudah tidak suci lagi.. maaf.. maaf Mami.. aku tak sempurna.. hiks .. Maaf..'' racau Zahra begitu menusuk hati Rayyan.


Mami Alisa memeluk Zahra dengan erat. Dua tubuh paruh baya itu saling berguncangan. Papi Gilang dan Papa Reza hanya bisa terdiam. Raut wajah itu begitu datar sekarang.


Sengaja untuk menyembunyikan rasa sakit yang terus mendesak dada mereka berdua. Papi Gilang menghela nafasnya untuk mengurangi rasa sesak di dada.


''Dengar sayang. Kamu tidak kotor. Kamu bersih. Kamu hanya ternoda. Ternoda oleh sesuatu yang tidak kamu inginkan tapi sudah menjadi ketetapan Nya. Karena dengan ini kalian berdua bisa bersatu. Tak ada anak manusia yang dilahirkan ke dunia ini kotor, Nak.. semua nya fitrah. Bersih. Suci. Yang membuat seseorang disebut kotor itu karena perbuatan nya. Perbuatannya yang salah. Kamu tidak salah sayang.. kamu hanya korban disini. Percayalah, tidak ada seorang pun anak manusia yang menginginkan dirinya ternoda sama seperti yang kamu alami. Kamu suci nak .. kamu bersih.. jangan bersedih. Kami sekeluarga menerima mu, hem??'' jelas Mami Alisa panjang lebar yang semakin membuat hati Zahra menciut.

__ADS_1


''Maaf Mami.. maafkan Zahra.. tapi Zahra sudah pasrah pada takdir. Zahra ingin pergi dari muka bumi ini dan terlahir kembali di kehidupan yang baru. Walau bukan dari rahim Mama, tapi Zahra tetap akan dilahirkan dari rahim seseorang yang tepat.


Zahra percaya. Karena apapun yang sudah menjadi ketetapan Nya merupakan keputusan mutlak! Zahra hanya bisa meminta kepada Allah.. agar Kak Rayyan bisa bangga memiliki istri seperti Zahra. Walau harus dengan cara mati dulu, dan terlahir kembali ke dunia ini dengan wujud yang berbeda. Tapi tetap menjadi diri seorang Zahrani Putri Alamsyah.


Sampai saat itu tiba, Zahra akan pasrah pada takdir. Aku hanya malu dengan pandangan masyarakat tentang diriku. Yang mungkin menurut mereka, aku ini sangat hina. Siapa yang mau berteman dengan gadis belas pemerkosa*n?? Tidak ada Mami.. semuanya sama. Mereka tetap menuduh seorang wanita yang bersalah.


Padahal kenyataannya, para lelaki lah yang bersalah. Tetapi kesalahan yang seperti itu selalu di tujukan kepada kaum wanita yang mendapatkan pelece Han. Aku pasrah. Aku pasrah pada takdir. Aku hanya menunggu hingga waktu itu tiba.


Sampai dimana waktu itu tiba, aku akan tetap menemani hari-hari Kak Rayyan suamiku. Suamiku Tercinta. Suami yang begitu baik yang menerima diriku yang sudah ternoda ini.. Maafkan aku Mami.. Aku pasrah akan keputusan takdir!'''


''Sudah, jangan menangis. Hari ini hari bahagianya dan putra Mami. Jangan menangis. Mulai sekarang, kamu harus tertawa jangan menangis lagi, hem? Kami percaya padamu, nak.. Mami percaya. Tak apa. Ikhlaskan! Biarkan semua yang terjadi ini menjadi masa lalu mu. Masa depanmu, ada bersama putra Mami. Ar Rayyan Putra Bhaskara. Paham??'' Kata Mami Alisa terdengar begitu tegas namun lembut.


''Mama!!''


''Sudah.. jangan menangis. Benar seperti kata Mami mertuamu. Beliau lebih dulu menjalani pernikahan. Beliau lebih tau tentang semua ini. Terimakasih Mbak.. kamu menerima putriku yang sudah tidak suci lagi. Maafkan aku yang gagal mendidik putriku hingga putriku melakukan kesalahan seperti ini. Maafkan aku Mbak.. hiks.. maaf..'' Isak Mama Rani


Mami Alisa memeluk dua orang itu. ''Sudah.. jangan disesali. Semua ini memang sudah menjadi ketetapan nya. Ikhlaskan! Takdir ini memang di tetapkan untuk Zahra sebagai ujian hidupnya. Allah tidak akan menguji suatu kaum, diatas kemampuan mereka. Ingat??''


Mama Rani mengangguk dan semakin tersedu. Begitu juga dengan Zahra. Tubuhnya semakin berguncang di dalam pelukan dua paruh baya yang saling menyayangi seperti adik dan kakak itu.

__ADS_1


''Ayo, kita makan dulu. Semua orang sedang menunggu kita. Ayo!'' ajak Mami Alisa mencoba menghilangkan rasa sedih itu.


''Nak.. ayo. Kamu juga harus makan. Makan, walau sedikit? hem?'' ucap Mami Alisa pada Zahra.


Zahra mengangguk setuju. Ia mengikuti langkah paruh baya itu dan duduk bersama. Rayyan ikut duduk bersama Zahra.


Gadis kecil itu dengan sigap melayani Rayyan. Semua yang ada disana tersenyum. ''Ya Allah .. jagalah hubungan mereka selalu.. jangan pisahkan mereka.. entah kenapa. Firasat ku mengatakan, jika akan terjadi sesuatu dengan Zahra. Tapi apa??''' bisik hati Mami Alisa. Mata paruh baya itu terus menatap kedua anak yang baru saja menikah itu. Papi Gilang memegang kedua tangannya untuk menguatkan. Mami Alisa tersenyum.


Mama Rani menatap sendu pada putri keduanya itu. ''Apapun yang terjadi sekarang ini pada putriku. Aku hanya bisa pasrah pada takdir. Takdir yang akan menentukan kehidupan Zahra kelak. Ya Allah ya Robbi.. aku ikhlas dan pasrah akan keputusan takdir yang telah Engkau tetapkan. Apapun. AKu ikhlas. Karena aku tau, semua ini memanglah sudah menjadi takdir Zahra. Putriku. Aku pasrah akan keputusan Mu ya Robb..'' gumam hati Mama Rani.


Mata tua itu tidak lepas dari memperhatikan Zahra dan Rayyan yang saling terkekeh bersama karena makanan mereka selalu saja sama.


Papa Reza mengusap bahu Mama Rani untuk menguatkannya. Mama Rani tersenyum, walau air mata mengalir membasahi pipi paruh bayanya yang belum terlalu tua.


💕💕💕


Kita akan masuk flashback kejadian mereka ye?


Tetap setia menunggu! 😉

__ADS_1


Like dan komen selalu othor tunggu! 😘


__ADS_2