
Dirumah Zahra.
''Ya Allah nak! Ini kenapa?? Kenapa berdarah seperti ini?! Zahra kenapa Bang??'' tanya Mama Rani begitu panik saat melihat Zahra di gendong oleh sang Papa dan direbahkan di sofa ruang tamu.
Mami Alisa duduk dikakinya. Dengan segera ia membuka sepatu Zahra. Tapi.. belum lagi Mami Alisa membuka tali sepatu itu, Zahra sudah bangkit dan memegangi tangan Mami Alisa.
''Jangan Mami! Mami tidak boleh melakukan itu. Zahra bisa membuka nya sendiri.'' Katanya membuat semua orang yang ada disana menatap nya dengan bingung.
''Mami hanya ingin membantu mu, Nak.. tidak lebih.'' sahut Mami Alisa dengan wajah sendunya.
Ia merasa bersalah karena telah membuat Zahra di skors. Tapi ia tak punya Kuasa. Semua ini terpaksa ia lakukan agar semuanya mendapatkan hukuman yang sama rata.
''Maafkan Mami, Nak..'' lirih Mami Alisa begitu merasa bersalah kepada nya.
Zahra tersenyum, ''Tak apa Mi... semua ini memang pantas untuk kami dapatkan. Zahra pun salah karena telah melawan mereka. Jika saja Zahra tidak melawan, pastilah saat ini mereka tidak dihukum.'' lirih Zahra dengan menunduk.
Istri Rayyan itu sangat merasa bersalah. Karena dirinya, seluruh guru yang mendapatkan hukumannya.
Mama Rani semakin kebingungan. ''Ini ada apa sih Mbak? Kenapa Zahra? Ada apa?'' tanya Mama Rani kepada Mami Alisa.
Wajah paruh baya nya yang belum begitu tua itu menatap lekat pada Zahra dan Mami Alisa. Mami Alisa tersenyum walau sendu. ''Xahra dan seluruh dewan guru terpaksa Mbak skor, dek. Karena mereka telah menyalahi aturan yang selama ini telah mabk tetap kan dari semenjak Mbak pertama kali membeli sekolah itu. Salah satunya, para teman Rayyan telah membully Zahra hingga menyiksanya sampai terluka seperti ini.''
''Astaghfirullah al'adhim..'' ucap Mama Rani begitu terkejut dengan ucapan Mami Alisa.
''Terus, bagaimana dengan Zahra yang lain. Apakah Mbak Skors juga??''
Mami Alisa mengangguk, ''Ya, Mbak sengaja menskor mereka semua. Mbak harap, kamu bisa mengganti kan salah satu guru di sekolah itu. Sisanya Mbak punya teman yang bisa menghendel masalah ini,'' ucapnya sambil terkekeh kecil.
__ADS_1
Papi Gilang pun ikut terkekeh. ''Kamu ya? Benar-benar diluar dugaan. Bisa-bisa nya kamu menskor seluruh dewan guru. Sekarang 'kan kamu sendiri yang kepayahan??'' ujarnya Papi Gilang masih dengan terkekeh.
Mami Alisa tersenyum, ''Kamu kan tau siapa aku, Pi?? Masa' iya kamu nggak ngerti sih sama keputusan aku?? Berarti kamu belum sepenuhnya mengenal diriku!'' balas Mami Alisa pura-pura jutek kepada Papi Gilang.
Papi Gilang tertawa. Begitu juga dengan Mama Rani. Sedangkan Zahra, ia memejamkan matanya saat merasakan pusing yang begitu melanda dirinya saat ini.
Melihat itu, Papa Reza dengan sigap menghubungi dokter untuk segera ke rumahnya.
''Ayo Nak, Mama dan Mami akan membantu mu untuk bersih-bersih. Papa! Angkat anakmu bawa ke kamar!'' kata Mama Rani kepada Papa Reza.
Papa Reza mengangguk setuju. Dengan segera Zahra di gendong dan dibawa ke kamar untuk diganti pakaian nya yang kotor karena noda darah.
Mengingat noda, Zahra menatap sendu pada baju seragam nya itu. Seragamnya itu ibarat dirinya yang saat ini sudah ternoda. Kalau noda pada baju, masih bisa di bersihkan.
Tapi berbeda pada noda yang tercetak jelas di tubuhnya saat ini. Noda itu tidak akan pernah hilang walau ia mencucinya berulang kali. Ia tidak akan bersih dan sama lagi.
Sekali ternoda maka seumur hidupnya pun ia ternoda. Hanya laki-laki pilihan yang menerima dirinya sudah ternoda.
Ya, hanya pemuda jangkung mirip Papi Gilang itu yang mau menerima dirinya yang sudah ternoda.
Seluruh tubuh Zahra saat ini sedang dibersihkan oleh Mama dan Mami mertua nya. Zahra merasa malu. Tapi harus bagaimana lagi? Tubuhnya tidak memungkinkan untuk bisa membersihkan diri sendiri.
Ini saja dirinya sudah bersandar di dinding. Padahal tubuhnya masih penuh dengan buih sabun. ''Pusing lagi??'' tanya Mami Alisa di sela-sela ia membersihkan tubuh Zahra.
Zahra mengangguk pelan.
Mama Rani bertugas menyiapkan bajunya. Setelah baju itu ia ambil, ia kembali lagi ke kamar mandi. ''Sudah siap, Mbak??'' tanya Mama Rani saat melihat Zahra sudah di keringkan rambut serta tubuhnya oleh Mami Alisa.
__ADS_1
Zahra menitikkan air matanya melihat kasih sayang dua paruh baya ini. ''Lah.. kok nangis?? Udah ih! Jangan cengeng! Ayo kita masuk!'' kata Mami Alisa kepada Zahra.
Zahra semakin tersedu. Papa Reza menjadi kebingungan sendiri karena mendengar suara isakan Zahra yang begitu lirih. ''Sudah siap? Kalau sudah, biar Papa gendong lagi!'' ucap Papa Reza dari sebalik pintu.
Zahra yang masih memeluk dua tubuh paruh baya itu pun mengurai pelukannya. ''Sudah.. kami semua menyayangi dirimu. Sudah, jangan ditangisi yang sudah berlalu. Sekarang, kamu harus hidup untuk masa depan. Tegarkan dirimu. Yakinlah sama Allah, kalau masa depanmu akan lebih baik dari ini. Mami sengaja men Skor kamu. Agar kamu lebih banyak istirahat dan tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Pikirkan tentang dirimu. Dan juga tentang sesuatu yang akan tumbuh di rahimmu nanti!''
Deg!
Deg!
Zahra mendongak, menatap Mami Alisa. ''Tak apa. Mami tau itu. Sudah menjadi kita seorang wanita untuk menjadi ibu. Cepat atau lambat, terjadi atau tidaknya hak ini kepadamu, dengan orang lain atau dengan putra Mami, kamu pasti akan menjadi seorang ibu. Mami bisa merasakan nya. Kamu juga merasakan nya bukan??''
Mama Rani tak sanggup mendengar nya. Ia lebih memilih keluar dan menubruk dada Papa Reza yang berdiri tepat di depan pintu kamar mandi yang saat ini sedang mendengarkan ucapan Mami Alisa.
Papa Reza tertegun.
''Mi...''
''Sudah.. ikhlaskan! Mami senang kalau kamu bisa hamil. Itu artinya, hidupmu sudah lengkap. Pertama ketika kita dilahirkan, kedua ketika menikah, dan ketiga ketika kita akan melahirkan seorang bayi dari rahim kita. Kamu sempurna sayang. Sangat sempurna. Hanya orang terpilih yang mampu menerima ujian ini. Mami harap, kamu tidak kecewa ataupun mengutuk dirimu karena ini. Dan juga ikut menyalahkan takdir karena dirimu ternoda saat kamu masih belia..''
Zahra memeluk lagi Mami Alisa. Ia semakin tersedu. Mami Alisa semakin erat memeluk tubuh ringkih yang bergetar karena menangis itu.
''Sudah sayang, ikhlaskan! Ayo, kita ke kamar. Sebentar lagi Rayyan akan pulang. Kamu tayammum saja ya sholatnya?''
Zahra mengangguk, ia masih betah memeluk tubuh Mami Alisa. Mama kedua setelah Mama Rani yang begitu tulus menyayangi nya.
''Ayo!'' ajaknya lagi.
__ADS_1
Zahra mengangguk. Mereka berdua keluar dari kamar mandi. Disana sudah menunggu Mama Rani, Papa Reza, Papi Gilang dan juga seorang dokter.
Rani dibaringkan diranjang nya dan mulai di periksa oleh dokter tentang lukanya tadi.