
''Jangan panik! tenangkan dirimu! Jangan putuskan sambungan ponsel ini. Papi dan Mami akan kesana! Kamu tenang! Jaga Zahra baik-baik!'' ucap Papi Gilang mencoba untuk menenangkn Rayyan. Ia tidak ingat jangan dulu gimana paniknya Papi Gilang saat tau jika Mami Alisa mau melahirkan.
Mami Alisa mencebik, dengan tangannya terus sibuk memasangkan baju pada tubuh sang suami. ''Hilih! Ngajarin anak kayak begitu? Giliran kamu? Heh! Kamu pun sama seperti Rayyan! Bahkan kamu hampir terkencing di celana gegara aku mau melahirkan!''
Papi Gilang melototkan matanya. ''Mana ada mau terkencing sayang! Yang ada itu mau keluar tai saat itu!'' timpalnya masih dengan tangan sibuk memakai baju dari Mami Alisa.
Buhahahaha...
Semua yang di mobil itu tertawa terbahak mendengar ucapan Papi Gilang. ''Iyalah! Wajah kamu itu pucat kayak mayat hidup! Kaki tiba-tiba Tremor! Kalau nggak ada bang Sama Kamu, aku yakin deh! Saat itu kamu pasti pingsan!''
Buhahahaha...
Terdengar suara gelak tawa lagi dari seberang ponsel. Kedua paruh baya itu sibuk bernostalgia dengan masa lalu. Bukannya mencoba untuk menenangkan sang menantu yang sebentar lagi akan keluar itu anak. Hadeeeuuhh... dasar orang tua absurd! 🤣
Rayyan tertawa bersama dua orang yang ada di depannya saat ini. Zahra pun ikut Terkekeh. Sungguh, ini kenangan terakhir yang akan ia ingat seumur hidupnya.
Dalam keadaan kalut pun kedua orang tua suaminya itu masih bisa membuat lelucon seperti itu.
''Eegghhhh.. eeggghhhh.. egghhh.. eeeegghhh..'' Suara Zahra melenyapkan suara tertawa mereka.
''Astaghfirullah! Kamu mau melahirkan di mobil nak? Jangan! Jangan disini! Sebentar lagi! Lima menit lagi! Tahan dulu!'' kata Bude Yuli. Wanita tua itu pun panik melihat Zahra yang terus menerus mengedan ingin mengeluarkan bayi nya.
Sementara Pak supir semakin cepat ia melajukan mobilnya. Beruntungnya masih jarang mobil yang lewat. Jadi ia bisa bebas membawa mobil itu dengan begitu kencang.
Sementara dua paruh baya di seberang ponsel sana pun ikut panik karena mendengar jika Zahra akan melahirkan di mobil.
''Ayo Pi! Algi! Kinara! hubungi Mama Rani dan Papa Reza! Cepetan! Mana ponsel mu Papi?'''
''Ada di saku celana depan!'' sahutnya.
__ADS_1
Dengan segera ia merogoh saku celana sang suami. Papi Gilang melotot ketika merasakan tangan usil sang istri yang sengaja menyenggol kayu laut miliknya.
''Sayang??''
''Ehehehe.. nggak sengaja atuh Pi! Udah ih!''
''Kamu itu loh.. kan jadi berdiri tegak kayak pohon kelapa??''
Kini gantian mata Mami Alisa yang melotot. ''Apa??'' tanya Papi Gilang mengulum senyum tampan nya.
Bude Yuli dan Pak Supir terkikik-kikik mendengar ucapan pasangan beda usia itu. ''Diem ih! Ini! hubungi nomor mereka! Katakan kalau kak Zahra dibawa kerumah sakit terdekat karena ingin melahirkan! kamu aja dek yang ngomong!'' katanya pada Kinara sbari menyerahkan ponsel sang Papi.
Gadis kecil mirip Annisa itu mengangguk patuh. Sementara sang Abang memutar bola mata malas. Papi Gilang Terkekeh. ''Tadi katanya Abang yang disuruh. Sekarang? Mami gimana sih?! Abang nggak ikut ah!'' celutuknya sedikit kesal kepada sang Mami.
Papi Gilang tertawa. ''Lah... Mami udah keseringan sama adek, bang kalau hubungin Mama Rani. Ya udah deh, Abang aja yang ngomong!'' katanya pada Algi. Rayyan terkekeh, dengan tangan terus mengusap perut Zahra dengan lembut.
''Huffttt.. hufft.. huffftt.. eeeegghhh.. egghhh... egghhh..'' Zahra semakin kuat mengedan.
''Astaghfirullah! Beneran ini cucu kamu mau lahir di taksi Lis!''
Deg!
''Apa?!'' sahut suara di seberang ponsel yang saat ini di pegang Zahra.
''Rayyan!''
''Iya Mi!''
''Buka CD istri kamu. Dan lihat, udah keluar itu kepala atau belum?''
__ADS_1
Deg!
Rayyan terkejut. ''A-apa Mi?? Bu-buka C-cd?? Li-lihat ke-kepala?!'' tanyanya Rayyan dengan wajah terkejut sekaligus panik.
Bude Yuli Terkekeh. ''Iya sayang! Buka CD istri kamu dan lihat! Sudah keluar kepala bayinya atau belum? Sudah sampai mana pak supir??''
''Ini udah masuk pekarangan rumah sakit Bu! Saya hentikan dulu mobilnya!''
''Baik! Bude! Jangan pergi sebelum saya tiba! Saya pun sebentar tiba! Gilang bawa mobilnya seperti orang mabuk! Pusing saya!''
Bude Yuli tertawa. Papi Gilang Terkekeh. ''Katanya tadi kan ngebut? Ya ngebut lah aku bawanya!'' sahutnya pada Mami Alisa.
Kedua anak mereka di belakang Terkekeh-kekeh melihat tingkah laku kedua orang tuanya itu. Lucu menurut mereka.
''Ck! Iya! Tapi nggak kayak orang mabuk gini juga Papi! pusing akunya! Yang Kayak naik kapal laut yang di hempas gelombang aja! Mual perutku!'' keluhnya pada Papi Gilang.
Papi Gilang tertawa. Saking kencangnya saat ini mereka berempat sudah tiba di depan rumah sakit dimana Zahra sedang di tidurkan dibangkar dengan seorang bidan mencoba menyambut bayi Zahra yang sudah keluar kepalanya.
''Astaghfirullah ya Allah.
beneran cucu kita sayang! Masa mau brojol di jalan dan di luar sih?'' ucapnya pada Mami Alisa dan dihadiahi pukulan kecil di lengan kirinya.
Puk.
Papi Gilang terkekeh sambil berlari mengikuti bangkar Zahra dan Rayyan. Mami Alisa gemas melihat suami berondong nya ini.
''Oeeek.. oeekk.. oeekk..''
Suara tangisan bayi pertama Zahra di koridor rumah sakit. Semua yang melihatnya tercengang.
__ADS_1