Janda Kembang Season 2 ( Ternoda )

Janda Kembang Season 2 ( Ternoda )
Berangkat ke Jakarta


__ADS_3

Pagi ini di rumah Zahra, Rayyan terkejut bukan main saat mendapat kan kabar kalau sahabat baiknya sedang berada dirumah sakit sudah empat bulan lamanya.


''Apa?! Astaghfirullah! Lalu, bagaimana dengannya Pa?! Apa yang terjadi?! Kenapa?!'' pekik Rayyan begitu terkejut.


Zahra yang sedang menyiapkan bekal untuk Rayyan pun terkejut bukan main mendengar suara lengkingan Rayyan. Ia berlari tergopoh-gopoh untuk masuk ke kamar mereka. Dengan perut yang semakin membesar membuat langkah Zahra agak melambat.


''Ada apa Kak?? Kenapa?!'' tanya Zahra begitu terkejut.


Rayyan tidak menyahuti. Ia tetap fokus mendengar ponsel yang saat ini berada di telinganya. Ia hanya melirik sekilas pada Zahra yang saat ini sedang panik menunggu jawaban darinya.


Melihat Zahra panik, Rayyan mendekati dirinya. Ia mengusap kepala Zahra dan mengusap perut buncit Zahra yang sangat membesar sekarang. Walau baru memasuki lima bulan.


''Astaghfirullahal'adhimm.. baik Pa. Abang akan kesana. Hari ini juga. Katakan padanya. Abang akan kesana. Tapi Abang harus izin dulu sama keluarga ya? Takutnya nggak di izinin pula nanti. Baik, akan segera Abang kabarkan kalau jadi ke Jakarta! Iya Pa. Iya.. waalaikum salam.. astaghfirullah al'adhim... adikku...'' lirih Rayyan dengan memeluk erat tubuh Zahra.


Zahra yang dipeluk pun merasakan ketenangan kembali. Rayyan tidak berkata apapun. Jantungnya saat ini masih berdetak tak karuan. Masih terkejut dengan berita yang baru saja ia dapat pagi ini.

__ADS_1


Dirasa cukup. Rayyan melepaskan pelukannya dari tubuh Zahra. Ia menatap Zahra dengan dalam. Zahra bingung. ''Ada apa Kak? Bicara saja. Jika ini demi kepentingan adikmu, pergilah. Aku tak apa. Katakan padanya, aku juga menyayangi nya..'' lirih Zahra dengan dada yang begitu sesak.


Zahra tau siapa yang dimaksud adik oleh Rayyan tadi. Dan Zahra pun dapat mendengar sekilas kalau itu Suara Papa Rian yang sedang menangis.


Zahra terisak. Ia memeluk erat tubuh Rayyan. ''Maaf sayang.. bagaimana pun dia adikku. Kakak harus menemuinya. Saat ini dia sangat membutuhkan ku. Dia sakit Ra..'' ucap Rayyan semakin erat memeluk tubuh chubby Zahra.


Walau terhalang dengan perut buncit Zahra, tetapi Rayyan tetap memeluk nya dengan erat. ''Pergilah Kak. Kalau udah sampai, jangan lupa kabari aku disini ya? Titip salam untuknya. Katakan padanya, kalau aku sudah memaafkan nya. Dan untuk bayi kita.. tolong rahasia kan darinya. Biarlah cukup kita saja yang tau jangan dirinya. Aku takut, kalau hanya akan memberikan harapan palsu untuknya nanti. Kalaupun suatu saat dia tau, berarti memang sudah waktunya dia tau tentang kedua anaknya ini. Dia hanya Papa mereka. Bukan bernasab padanya. Kamu paham kan Kak?'' tanya Zahra pada Rayyan.


Rayyan tersenyum dan mengangguk. ''Tentu sayang. Hari ini juga Kakak akan ke Jakarta. Kakak akan hubungin Mami sama Papi dulu. Mana tau mereka bisa mengantar. Tapi kalau tidak, kakak akan pergi sendiri. Kakak bersiap dulu ingin ke sekolah. Kamu udah sarapan?''


''Ya sudah. Ayo kita makan. Biar jagoan dan Tuan putriku ini tidak kelaparan!''


''Eh? Jagoan? Tuan Putri? Darimana kamu tau kalau anak kita sepasang Kak?''


Rayan tersenyum, Cup. Ia mengecup sekilas kening Zahra. ''Ada deh.. Kakak tidak akan salah kok. Kakak yakin itu!'' Katanya sambil berlalu dan menggandeng tangan Zahra menuju ke dapur untuk sarapan pagi.

__ADS_1


Mereka sarapan pagi bersama. Rayyan meminta izin ingin ke Jakarta dengan alasan adiknya sedang di Jakarta saat ini.


Sempat kedua orang tua itu bertanya, adik nya yang mana. Rayyan menjawab jika Algi lah yang sedang ke Jakarta mengikuti acara sekolahnya.


Papa Reza dan Mama Rani mengizinkan. Rayan pun bisa bernafas lega. Rayyan dan Zahra saling lirik dan tersenyum.


Selesai sarapan ia menghubungi Papi Gilang dan Mami Alisa ingin mengabarkan perihal itu. Mereka terkejut bukan main. Hari itu juga mereka berdua akan menemani Rayyan ke rumah sakit yang ada di Jakarta.


Namun, sebelum itu. Rayyan meminta izin kepada sekolah untuk empat hari tidak masuk karena ada hal mendesak ia harus ke Jakarta bersama kedua orang tuanya. Pihak sekolah pun mengizinkan.


Dan disinilah Rayyan saat ini. Setelah selesai dengan segala urusannya, Rayyan dan kedua orang tuanya sedang berada di bandara Kuala namu Medan untuk berangkat ke Jakarta. Demi menemui sahabat sekaligus yang sudah dianggap adik olehnya.


Sepanjang perjalanan di dalam pesawat Rayyan tidak bisa tenang. Ia tidak bisa tidur. Papi Gilang dan Mami Alisa berusaha untuk menenangkan nya. Tapi Rayyan tetap cemas.


Seperti apapun dirinya dan kesalahan nya. Rayyan tetap menyayanginya. Bahkan sangat menyayangi nya. Umur mereka hanya terpaut bulan saja.

__ADS_1


Sesakit dan sejarah apapun Rayyan padanya, rasa sayang Rayyan padanya mengalahkan rasa benci dan marahnya pada pemuda yang sudah ia anggap adik itu.


__ADS_2