
Empat bulan setelah Rayyan terakhir kali menjenguk Dimas, kini ia sedang berjalan-jalan pagi bersama Zahra di sekitaran komplek perumahan mereka.
Rayyan sesekali mengelus perut Zahra yang semakin membuncit di balik dasternya. Tidak ada yang tau kalau Zahra sedang hamil saat ini. Karena yang mereka tau kalau Zahra sedang mengalami stress karena kejadian di sekolah mereka sembilan bulan yang lalu.
Sejak hari itu pun Zahra tidak pernah keluar rumah lagi. terkecuali disaat subuh hari. Dimana-mana orang enak bergelung dalam selimut tetapi dua insan ini sedang jalan pagi begitu kata dokter kandungan Zahra saat ia cek terakhir kali tiga Minggu yang lalu.
Dan hari ini mereka berdua sedang berjalan pagi bersama sambil bergandengan tangan. Suasana komplek pun terasa sunyi. Seperti masih malam saja. Padahal sudah hampir jam enam pagi.
''Sayang?'' panggil Rayyan pada Zahra.
Zahra tidak menyahuti. Ia sedang mencoba meredakan rasa sakit yang terus menerus mulas sedari tadi.
''Sayang, kamu kenapa? Kok pucat gini? Perutnya sakit?'' tanya Rayyan lagi pada Zahra.
Zahra tidak menyahuti. Ia menoleh pada Rayyan dan menatap nya dalam. Mata cantik itu berkaca-kaca melihat Rayyan. Tangan Rayyan yang masih berada di pundak dan perutnya, Zahra pegang erat-erat.
''Kak.. dengarkan aku! Ssssttt.. huuufffttt... huuufffttt.. Allahummma sholli 'ala Muhammad! Jika terjadi sesuatu denganku dan kedua bayiku, aku harap kamu tidak menyalahkan dirimu ya Kak?''
Deg!
Rayyan terkejut dengan ucapan Zahra.
''Aku harap kamu bisa mengerti jika yang akan terjadi merupakan ketetapan takdir untukku. Allah... huufftt.. huffftt.. huffftt.. kamu harus bisa jaga dirimu baik-baik! Ingat pesanku! Aku akan kembali lagi setelah ini. Persiapkan dirimu!''
__ADS_1
Deg!
Deg!
''Apa maksudmu??''
Zahra tersenyum tetapi meringis. Di sela-sela rasa sakitnya ia masih bisa berbicara dengan Rayyan. Sedang Rayyan saat ini tubuhnya semakin bergetar.
Bukan ia tidak tau apa maksud ucapan Zahra. Ucapan yang sama seperti empat bulan yang lalu saat ia pulang dari menjenguk Dimas. Mulai saat itu Zahra semakin bertingkah laku aneh.
Tetapi Rayyan mencoba memahami itu. Belum lagi, dua hari yang lalu Rayyan bermimpi kalau tiang rumah tengah mereka, rumah Mama Rani dan Papa Reza itu tiba-tiba saja patah sendiri dan saling berbalas tanpa tau apa penyebab nya.
Belum lagi, Rayyan mendapat kabar kalau Dimas disana pun kembali kambuh. Ia pun bermimpi yang sama. Aneh sih. Tapi inilah kenyataan nya untuk mereka berdua.
Bukan hari ini saja Zahra merasakan sakit seperti ini. Tetapi sudah tiga hari. Mulas, normal lagi. Hingga berulang kali. Zahra tidak mengatakan apapun pada Rayyan karena takut cinta nya itu panik seperti saat ini.
Zahra tau kalau Rayyan tidak lah bodoh dalam hal wanita melahirkan. Ia sudah lebih dulu tau saat Mami Alisa menjelaskan nya bahkan dihadapan Zahra saat itu.
Dan kini, ia sedang menghadapi nya.
''Kak.. aku akan kembali dalam wujud yang baru tetapi kamu tidak akan tau tentang diriku. Aku hadir kembali ke dalam wujud seorang gadis cantik yang selama ini selalu menemani mu. Kami! Dua tubuh satu jiwa! Aku akan kembali kepada mu untuk menyempurnakan kisah cinta kita yang sudah ternoda karena diriku ini. Aku akan kembali untuk melanjutkan nya bersama mu. Selama hari itu tiba.. aku harap kamu bersabar ya Kak? Aku mencintai mu suamiku! Sekarang ataupun nanti. Kamu segalanya untuk ku. Bersabar lah dengan kejadian yang akan terjadi. Ikhlaskan! Karena memang takdirku dengan mu hanya sampai disini. Tapi untuk dimasa depan, aku akan kembali dalam wujud yang baru. Wujud yang akan menyempurnakan cinta kita berdua,''
''Jika sekarang aku ternoda, maka nantinya kamu akan mendapatkan diriku suci lahir dan batin. Bersabarlah Kak.. aku mencintaimu Rayyan Putra Bhaskara! Sangat mencintai mu! Cup!''
__ADS_1
Zahra kecup untuk terakhir kali putik ranum milik Rayyan yang sudah menjadi candu untuknya selama sembilan bulan ini.
Rayyan tidak bisa berkata. Seketika pikiran nya blank. Tidak tau harus menjawab apa. Sementara Zahra di saat di Landa rasa sakit yang terus menyiksa perut bagian bawahnya ia masih saja mengecup putik ranum milik Rayyan.
Sedang yang di kecup bertatapan kosong. Hati dan pikiran berkelana entah kemana. Ia tersadar saat Zahra menggigit bibir bawahnya hingga ia tersentak. Tapi tidak melepaskan pagutan itu.
Rayyan semakin memperdalam pagutan itu dengan cuaca pagi hari. Dimana matahari yang sedang naik-naik nya. Pukul enam tiga puluh.
Masih dalam pagutan mesra di pinggir jalan, Zahra merasakan sesuatu merembes di balik baju batik miliknya. Ia ingin melepaskan diri, tapi Rayyan tidak mengizinkan. Rayyan malah menahan tengkuknya membuat pagutan itu semakin dalam.
Rasa sakit yang bercampur rasa nikmat itu menyatu dalam darah Zahra. Mereka berdua sadar saat merasakan jika Zahra semakin merunduk karena kesakitan dan suara Zahra seperti ingin mengedan.
Rayyan melepaskan nya dengan wajah basah air mata. ''Sayang? Kamu basah! I-ini..''
''Air ketubanku pecah Kak! Bawa aku kerumah sakit! Bayi kita akan segera lahir!''
''Apa?!''
💕💕💕💕
Berapa bab lagi end ya?
Pantengin terus! 😁
__ADS_1