
Selesai dengan sarapan paginya, Rayyan segera bergegas untuk berangkat ke sekolah. Sebelum nya ia pamit dulu pada Mama Rani dan Papa Reza. Tidak lupa dengan adik ipar super rusuhnya itu.
''Abang pergi dulu ya Pa, Ma. Assalamualaikum..''
''Waalaikum salam..'' sahut Papa Reza dan Mama Rani bersamaan.
Rayyan pergi dengan membawa motor matic milik Zahra. Lebih cepat katanya. Setelah Rayyan pergi yang di antarkan Zahra sampai di depan pintu, kini ke empat adiknya langsung saja menarik Zahra menuju ke kamarnya.
''Ayo! Kakak harus jelasin sesuatu sama kami! Ayo!'' ucap Kenan begitu serius dengan ucapannya.
Bukannya marah Zahra malah tertawa-tawa karena kelakuan ke empat adiknya itu. ''Duduk Kak! Sekarang jelaskan! Kok bisa sih? Bukannya Bang Rayyan itu pemuda baik ya? Kok bisa kakak di .. di.. heleh! payah amat sih lidah ini ngomongnya?!'' gerutu Kenan pada dirinya sendiri.
Zahra tertawa. Keanu terkekeh. Sedangkan Kenta ia lebih memilih berbaring di ranjang milik Zahra dan Rayyan. ''Hemmm... harumnya.... pantas saja Kakak mau sama bang Rayyan! Wong bang Rayyan itu pemuda tampan sejuta pesona dan begitu wangiiiii... kalau udah besar nanti, Abang mau kayak bang Rayyan lah. Biar banyak yang suka sama Abang!'' celutuk Kenta dan mendapatkan toyoran di kepalanya oleh Kenan.
Kezia tertawa terbahak. ''Abang! Ishhh... puyeng nih kepalaku!'' sungut Kenta tidak terima.
Kenan memutar bola mata malas. ''Habisnya kamu itu ngomong kok kayak gitu! Doa itu yang baik-baik! bukan berdoa semoga kamu banyak di kejar perempuan! Ck! Dasar play boy! Udah keliatan banget nih bibitnya!''
__ADS_1
''Mana ada! Abang iya! Sok tebar pesona!'' balas Kenta tidak terima dengan ucapan Kenan.
Zahra semakin tertawa-tawa melihat tingkah absurd adiknya itu. Tapi tidak dengan Kezia. Gadis kecil yang belum genap dua belas tahun itu menatap Zahra dengan insten.
''Kamu kenapa Dek?'' tanya Keanu karena melihat Kezia menatap nanar pada Zahra tidak berkedip.
Kezia tidak menyahuti. Ia masih saja sibuk menatap Zahra yang saat ini juga sedang menatap nya. ''Kamu ingin tanya apa? Kalau bisa dan tidak melenceng dari pembahasan kita, maka akan kakak jawab. Ayo, kamu ingin tanya apa??'' tanya Zahra pada Kezia.
Kezia masih saja diam. Ia menoleh pada Keanu, Kenan, dan Kenta. Setelah nya nya ia tersenyum. ''Hehehe.. nggak ada kak. Nggak ada yang ingin adek tanyakan. Adek hanya penasaran saja. Apakah ada lagi kira-kira di dunia ini sama seperti babang ivar tamvan untuk menjadi suami adek kelak??''
Kenan melototkan matanya. ''Ck. Dasar kamu Dek! Abang kirain ada apa tadi! Mana pandangan mata itu begitu serius lagi natap kakak kayak begitu!'' sungut Kenan tidak terima dengan ucapan Kezia.
Kezia menggeleng pelan. ''Nanti saja. Kalau Abang udah keluar baru adek tanya sama Kakak!''' bisik Kezia dalam hati.
Zahra mengangguk setuju. Lama mereka bercengkrama di dalam kamar Zahra. Hingga ketiga adik laki-laki nya itu tertidur dengan memeluk erat tubuh Zahra. Sementara Kezia ia lebih memilih tidur dibawah bersama Keanu di Ambal beludru milik Zahra.
Mereka terlelap sampai Rayyan pulang dari sekolahnya. ''Assalamu'alaikum.. lah? Kok sepi? Kemana tuh bocah biang rusuh?'' ucap Rayyan sambil terkekeh kecil.
__ADS_1
Ia masuk ke dalam rumah langsung menuju kamarnya dan Zahra.
Ceklek.
''Astaghfirullah! Hemm.. ternyata mereka senyap karena sedang tertidur toh? hihihi ..'' Rayyan terkikik geli saat melihat Kenan begitu posesif terhadap Kakaknya.
Ia tidur dengan membelit seluruh tubuh Zahra. Beruntung nya, perut Zahra tidak tertimpa oleh kaki Kenan. Sementara Kenta, ia tidur seperti kerbau lasak. Kakinya sudah mengenai wajah Kenan.
Lain lagi Keanu. Ia membelit adik kecilnya hingga berulang kali Kezia merengek karena berat di timpa tubuh tegap Keanu. Rayyan terkekeh melihat kelakuan adik iparnya itu.
Karena merasa gerah, Rayyan memilik masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri sebelum bergabung dengan Zahra.
Cukup lima belas menit Rayyan bersih-bersih. Setelahnya ia mendekati Zahra dan mengecup kening itu sekilas. Sebelum ia pun ikut bergabung dan tidur di bawah di Ambal beludru milik Zahra yang sengaja ia bentang dimana sewaktu-waktu Rayyan ingin tidur di bawah.
Sementara Zahra, merasakan Rayyan sudah pulang karena tadi kecupan singkat nya. Zahra melongok ke bawah. Ia tersenyum. Ia pun turun dengan perlahan dan ikut bergabung dengan Rayyan.
Merasakan kehadiran Zahra yang ikut bergabung dalam dekapannya Rayyan terkekeh. ''Tidurlah. Kakak pun ngantuk! Satu harian terus saja ngerjain tugas. Hoaammm...'' Rayyan menguap.
__ADS_1
Mata itu tersisa lima Watt lagi untuk terbuka. Zahra tidak mendengar kan ucapan Rayyan lagi. Baginya ingin tidur dalam dekapan hangat Rayyan itu yang dua butuhkan saat ini.