
Mereka berdua berjalan beriringan dengan Rayyan yang menuntun Dimas menuju kamarnya. Tiba di kamarnya sudah ada seorang perawat yang menunggu mereka berdua.
''Kamu boleh keluar. Kalau nanti saya butuh sesuatu, akan saya panggil,'' ucap Rayyan pada perawat yang tadi ingin menyuntikkan Dimas dengan obat penenang.
Perawat itu mengangguk dan tersenyum, ''Baik tuan muda. Saya keluar dulu.''
''Hem,'' sahut Rayyan. Ia menuntun Dimas untuk duduk di ranjangnya dan bersandar di kepala ranjang.
''Makanlah. Habiskan. Baru setelah ini kamu cerita. Ada apa dengan mu!''
Dimas mengangguk setuju. Rayyan menyuapi Dimas dengan telaten. Mata Dimas tidak pernah putus menatap Rayyan. Rayyan tersenyum menatap adik kecil yang dulu pernah menangis karena dirinya pernah pulang ke Aceh ikut bersama Mami Alisa dan Papi Gilang untuk berlibur.
Mata satu itu mengembun. ''Abang jangan pergi ... hiks..'' lirihnya dengan terisak.
Rayyan menyeka air mata itu. ''Abang tidak akan kemana pun. Abang akan tetap disini. Makanlah dulu, habiskan! Apakah kamu sudah kenyang??''
Dimas mengangguk, ''Sudah. Aku ingin cerita sama Abang. Tapi Abang janji jangan ngomong pada siapa pun! Abang harus berjanji!''
Rayyan menatap serius pada Dimas. ''Baik. Abang berjanji dan tidak akan mengatakan kepada siapa pun!''
Dimas mengangguk. ''Aku nggak tau apa yang terjadi dengan diriku. Tapi aku selalu melihatmu menangis saat Zahra pergi meninggalkan mu!''
Deg!
Deg!
__ADS_1
''Maksudmu?'' tanya Rayyan sedikit terkejut.
Dimas mendekati Rayyan dan memegang tangan Rayyan begitu erat tetapi gemetar. ''Aku seperti mendapatkan firasat buruk untukmu dan Zahra, Bang. Dokter bilang, gejala mual dan muntah yang aku alami itu karena ke.. ke.. apa sih? Lupa aku!'' gerutu Dimas sambil mencebik kesal pada ingatan nya.
Rayyan yang sedang serius kini terkekeh. ''Ke apa Dek? Coba di ingat dulu.''
''Ini lagi di ingat Abang! Emm.. emm.. aha!'' pekik Dimas lumayan keras membuat Rayyan terjingkat kaget.
''Astaghfirullah! Kamu Mas!'' tegur Rayyan pada Dimas.
''Hehehe.. maaf Bang. Baru ingat aku!''
Rayyan mencebik kesal. ''Kebiasaan!'' ketus Rayyan.
Deg!
Deg!
Rayyan terkejut. ''Kenapa Bang? Kenapa Abang terkejut begitu? Apa... terjadi sesuatu dengan Zahra?'' lirih Dimas seperti suara desauan angin lalu.
Rayyan masih tetap menatap serius pada Dimas. ''Maksud kamu, kamu sedang mengalami yang namanya mengidam begitu??''
Dimas mengangguk. ''Bener Bang. Aku sempat membantah. Tapi dokter tetap yakin dengan diagnosa nya. Ini aneh bagiku. Kalaupun ada seperti itu kan hanya terjadi pada orang yang sedang hamil? Apa Zahra hamil??''
Deg!
__ADS_1
Deg!
''Eh, itu mana mungkin terjadi. Secara kan aku ini sudah di vonis mandul??''
Deg, deg, deg..
Lagi dan lagi jantung Rayyan berdegup tidak karuan saat mendengar ucapan Dimas. ''Bang??'' panggil Dimas, tapi Rayyan tetap diam.
Ia sedang melamun. Melamunkan keadaan Zahra dan Dimas yang begitu berkesinambungan. ''Abang!!'' sentak Dimas sekaligus mengguncang tubuh Rayyan.
Membuat pemuda tampan mirip Papi Gilang itu terjungkal ke belakang saking terkejutnya. Dimas melongo. Setelah nya ia tertawa terbahak bahak melihat wajah Rayyan yang begitu terkejut karena sentakannya baru saja.
Rayyan merengut kesal. ''Kamu Dek! Kaget Abang! Ishhh..'' gerutu Rayyan dengan segera duduk kembali.
Dimas masih saja tertawa. ''Diem ih! Kalau nggak, Abang keluar nih!'' ancam Rayyan pada Dimas.
Membuat Dimas berhenti tertawa. ''Baiklah. Dengarkan lagi ceritaku Bang. Ini menyangkut mimpi ku terhadap mu. Setiap malam aku selalu memimpikan mu kalau kamu itu sering menangis diatas gundukan tanah yang bertaburan bunga. Di tanah itu terpasang sebuah nisan bernama Zahrani Putri Alamsyah..''
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...
''Apa?! Astaghfirullah al'adhim!! kamu ngomong apa sih Mas?! Jangan mendoakan yang tidak baik! Abang nggak suka!'' tukas Rayyan begitu marah pada Dimas.
Dimas tersenyum kecut. ''Bahkan Abang pun tidak percaya padaku. Lantas aku harus ngomong pada siapa lagi?? Apakah harus ada bukti dulu baru Abang percaya??'' lirih Dimas dengan sendu.
Rayyan tergugu. Ia tidak tau harus bicara apa lagi saat ini. Cerita Dimas ini begitu membuat nya shock setengah mati.
__ADS_1