
Rayyan mengantar pemuda itu ke bandara. Rayyan sengaja menungguinya hingga pesawat mereka lepas landas. Setelah dua orang yang begitu dekat dengan Rayyan itu mengudara di atas awan, kini Rayyan pun akan pulang kerumahnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam saat pesawat yang ditumpangi pemuda itu dan Papa nya lepas landas dari bandara Kuala namu.
Kini, Rayyan masih dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Karena motor Papi Gilang masih tertinggal disana. Rayyan memilih tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak sebelum nanti tiba dirumah sakit.
Dua jam kemudian, mobil rental pesanan Pemuda itu kini sudah tiba dirumah sakit. ''Dek, bangun. Kita sudah sampai dirumah sakit sekarang!''
''Hemm.. iya Pak. Terimakasih sudah mengantar saya Pak!''
''Sama-sama Nak. Sesuai perintah tuan Rian tadi. Saya harus membawa kamu kembali sampai diruang sakit ini.''
''Ya, sekali lagi terimakasih banyak. Saya turun. Bapak langsung pulang ya! Jangan kemana-mana lagi. Sudah malam!''
Supir rental itu tersenyum, ''Tentu nak. saya pamit. Assalamualaikum..''
''Waalaikum salam...'' sahut Rayyan.
__ADS_1
Ia masuk ke parkiran motor untuk mengambil motornya yang tertinggal disana. Sebelum pergi, Rayyan sempat berhenti sejenak di pos satpam.
''Terimakasih sudah menjaga motor saya, Pak. Ini ada sedikit rejeki buat keluarga Bapak. Saya pamit, assalamualaikum...''
''Waalaikum salam...'' sahut satpam itu begitu terkejut dengan tingkah Rayyan yang begitu tiba-tiba padanya.
Rayyan membawa kuda besi milik sang Papi itu dengan perlahan. Tubuhnya terasa sangat segar setelah beristirahat sebentar tadi saat di jalan pulang dari bandara ke rumah sakit.
Cukup dua puluh menit saja Rayyan sudah tiba di kediaman Papa Reza. Sebelum masuk kerumah itu, Rayyan lebih dulu masuk kerumah Oma Dewi untuk mengembalikan motor milik sang Papi itu. Kuncinya ia serahkan pada Satpam penjaga.
Kemudian Rayyan masuk kerumah itu dengan mengambil kunci serap dari Pak satpam rumah Papa Reza. Rayyan pulang sudah pukul sepuluh lebih empat puluh lima. Seluruh keluarga sudah terlelap.
Ceklek!
Pintu terbuka, Zahra langsung menuju pintu yang baru terbuka sedikit itu. ''Assalamu'alaikum- astaghfirullah! Sayang!!'' seru Rayyan begitu terkejut saat melihat Zahra malah berdiri di hadapannya dengan memakai baju tidur berwarna putih tapi bercorak bunga mawar.
Dengan rambut panjang terurai sedikit, membuat Rayyan terkejut bukan main. Zahra terkekeh. ''Kamu kenapa kak? Ada yang aneh kah dari diriku??'' tanya nya sembari menggamit tangan Rayyan untuk disalimi secara takzim olehnya.
__ADS_1
Rayyan sedang berusaha meredakan detak jantungnya yang di pompa begitu cepat. Berulang kali menghela nafas.
Huffftt...
Zahra tertawa. Dengan segera ia membawa Rayyan menuju kamar mereka dan ia dudukkan di ranjang. Zahra mengambil air putih dan ia suguhkan pada Rayyan.
Dengan cepat Rayyan menenggak air putih itu hingga tandas. Lagi dan lagi Zahra terkekeh melihat nya. ''Maaf.. kalau aku membuatmu terkejut tadi. hihihi..'' Zahra cekikikan.
Rayyan yang tadinya terkejut bukan main, kini terkekeh melihat tingkah usil Zahra. Ia memeluk tubuh Zahra yang saat ini sedang berdiri menjulang di hadapannya itu.
''Hemmm.. nyamannya...'' lirih Rayyan sembari memejamkan kedua matanya.
Zahra tersenyum, ia mengusap kepala Rayyan dengan sayang. ''Emm.. Kak??''
''Hem,''
''Apakah.. dia sudah pergi??''
__ADS_1
Rayyan membuka matanya tapi tidak melepaskan pelukannya dari tubuh Zahra. ''Sudah. Berbaik hatilah menerimanya kembali jikalau suatu saat ia ingin meminta maaf padamu. Jangan jadi pendendam. Itu tidak baik. Kamu boleh kecewa. Tapi tidak untuk membencinya. Karena dengan kamu memupuk kebencian dihatimu, maka hatimu semakin kotor karena telah memelihara dendam. Maafkan dia seperti Allah memaafkan hambanya. Siapa kita yang tidak bisa memaafkan nya sedang Allah aja maha pemaaf?? Ingat sayang, bagaimana pun pemuda itu tetaplah saudara kita. Kakak tidak menyuruhmu untuk memaafkan nya sekarang. Tapi cobalah. Cobalah pahami dari sisi dirinya yang terluka karena perkataan mu yang begitu melukai harga dirinya. Kamu pernah dengar syair ini, Al fikru ba'da khusran. Annadmu ba'da khusran! Pikir dulu pendapatan sesal kemudian tiada berguna!''
Deg!