
Setelah kesepakatan bersama, bahwa Rayyan akan menikah dengan Zahra nanti siang. Tapi sebelum ijab qobul itu terjadi, Papi Gilang mengajak pulang Rayyan kerumah kedua orangtuanya terlebih dahulu.
Tiba disana, Papi Gilang langsung saja menceritakan hal itu kepada Opa Angga dan Oma Dewi. Mereka berdua terkejut mendapati Jika Zahra calon istri masa depan Rayyan sudah ternoda karena Rayyan sendiri.
Opa Angga dan Oma Dewi begitu shock mendengar nya. Mereka berdua takkan habis pikir dengan Rayyan. Bagaimana mungkin putra sulung Gilang melakukan kesalahan itu pada calon istrinya.
Untuk menghindari jika Rayyan akan terus di tekan, Mami Alisa membawa Rayyan ke kamar atas. Ke kamar Papi Gilang.
Tinggal lah tiga orang disana yang sedang berdiaman satu sama lain. ''Papa sama Mama jangan khawatir, Gilang tau. Putra Gilang tidak akan melakukan kesalahan itu. Aku bisa membacanya. Hanya saja.. hati putraku itu begitu mulia. Ia rela menutup calon istrinya yang sudah dinodai oleh lelaki lain demi melindungi dirinya. Aku tau Putraku seperti apa. Alisa tidak mungkin salah dalam mendidik putraku..'' lirih Papi Gilang dihadapan kedua orang tuanya.
Kedua paruh baya yang sudah lanjut usia itu saling pandang dan menghela nafas bersama. ''Apa langkahmu selanjutnya?'' tanya Opa Angga sambil menatap Papi Gilang.
Papi Gilang menatap kedua paruh baya itu dengan mata berkaca-kaca. ''Aku terpaksa harus menyetujui permintaan Rayyan untuk menikahi Zahra siang ini di kediaman Bang Reza. Tidak akan ada yang tau. Cukup kita sebagai keluarga nya dan juga keluarga bang Reza saja yang tau. Papa sama Mama ikut nanti ya? Rumah kita kan sebelahan??'' pinta Papi Gilang pada Opa Angga dan Mama Dewi.
Kedua orang tua lanjut usia itu menghela nafas panjang. ''Baiklah, kami akan datang. Persiapkan saja acara nya.''
Papi Gilang mengangguk, ''Ya sudah, Gilang harus mengatakan sesuatu dulu pada Rayyan tentang hal ini. Ada hal yang harus ia tau dan tidak boleh ia lakukan!'' kata Papi Gilang.
Opa Angga mengangguk, ''Pergilah! Jelaskan padanya tentang itu. Rayyan harus tau.''
''Ya, Gilang ke atas dulu.''
''Hem,'' sahut Opa Angga.
Kemudian Papi Gilang menaiki tangga dan menuju ke kamar nya yang sekarang ini di tunggui oleh Rayyan dan Mami Alisa.
Tiba disana, ia membuka pintu kamar itu dan melihat dua orang itu sedang menangis. Rayyan bersimpuh di kaki Mami Alisa dengan terus sesegukan.
__ADS_1
Papi Gilang menghela nafasnya. ''Maafkan Abang Mi.. nggak ada niat sedikitpun dihati untuk menodai Zahra.. Abang terpaksa menutupi ini dari kalian semua. Cukuplah kami saja yang tau siapa pelaku itu.. hiks..'' Isak Rayyan lagi.
Mami Alisa tidak menyahut, hatinya begitu sedih mendapati putranya yang ia susui dan ia besarkan dengan penuh rasa cinta berbohong padanya hanya untuk melindungi penjahat yang sudah menodai Zahra.
Papi Gilang mendekati Rayyan dan memeluk putra sulungnya itu. ''Papi... hiks.. maaf.. Abang terpaksa.. maaf Pi..'' Isak Rayyan dalam pelukan Papi Gilang.
Mami Alisa Tidak kuasa untuk menahan rasa sesak di dadanya. Ia menangis sesegukan disana. Papi Gilang pun ikut merangkul nya dengan sayang.
Cup!
Cup!
Papi Gilang mengecup dahi dua orang yang begitu ia sayangi. ''Sudah.. jangan menangis. Papi tau kamu tidak seperti itu. Putra Papi dan Mami Alisa tidak mungkin berani melakukan hal diluar batas yang sudah kami ajarkan selama ini. Tapi berbohong demi menutupi kejahatan orang lain itu salah, nak.. kamu salah karena telah membohongi kami..'' lirih Papi Gilang semakin erat memeluk dua tubuh yang sedang berguncang hebat di dalam pelukannya.
''Hiks.. ma-maaf Pi.. Abang terpaksa.. Abang.. minta maaf.. hiks.. maaf...'' ucapnya lagi sambil terisak.
Mami Alisa semakin sakit hatinya saat mendengar suara isakan Rayyan yang begitu menyayat hati. Papi Gilang bukanlah tak tau seperti apa diri Rayyan.
Butuh waktu setengah jam untuk meredakan rasa sesak di dada dua orang yang begitu Papi Gilang sayangi.
''Sudah??''
Rayyan dan Mami Alisa mengangguk bersamaan. Papi Gilang terkekeh. ''Oke, sekarang dengarkan Papi baik-baik, nak.''
Rayyan dan Mami Alisa menatap serius pada Papi Gilang. ''Kamu, menikah dengan Zahra hanya sebagai bentuk tanggung jawabmu terhadap nya. Kamu berhak menafkahi lahir dan batinnya. Terkhusus untuk batinnya, kamu harus menunda itu sampai sesuatu di dalam diri Zahra itu muncul ke permukaan!''
Rayyan mengernyitkan dahinya, ''Maksud Papi??''
__ADS_1
Mami Alisa tersenyum, ia mengelus lengan putra sambungnya itu. ''Dengarkan dulu apa yang Papi katakan. Setelah itu, Abang boleh bertanya. Hem?'' ucap Mami Alisa membuat Rayyan mengangguk
Papi Gilang melanjutkan kembali ucapan nya. ''Kamu menikahi Zahra hanya untuk menutupi aibnya. Kamu berhak menafkahi lahir nya seperti makan dan pakaian yang ia kenakan. Dan segala sesuatu yang dibutuhkan olehnya nanti.''
Papi Gilang menatap sendu pada putranya itu. Rayyan semakin berdebar menunggu ucapan Papi Gilang selanjutnya.
''...Untuk nafkah batin, kamu tidak bisa memberikannya karena suatu hal!''
Rayyan semakin bingung. Ia menaikkan sebelah alisnya pertanda sedang tidak nyaman dengan ucapan sang Papi. Mami Alisa terkekeh. Papi Gilang pun sama.
''Ck! cepetan ngomongnya Papi! Jangan buat Abang semakin penasaran ih!'' gerutu Rayyan dengan wajah kesal.
Wajah imut itu begitu mirip dengan Papi Gilang ketika ia sedang kesal kepada Mami Alisa waktu ia masih sekolah dulu.
''Iya, Papi jelaskan. Ini mengenai hubungan suami istri. Kamu tidak boleh menyentuhnya sebelum tubuh Zahra menunjukkan reaksi jika ia sedang mengandung benih dari pemuda yang telah menodai nya!''
Deg!
Deg!
Wajah Rayyan begitu terkejut mendengar ucapan Papi Gilang. Ia menatap dalam pada Papi Gilang dan bergantian pada Mami Alisa.
Mami Alisa tersenyum, ''Benar Nak.. kamu tidak boleh menyirami ladang yang bukan milikmu. Karena bisa jadi ladang yang sudah digarap oleh orang lain tidak menutup kemungkinan bisa menghasilkan bukan??''
Deg, deg, deg..
Jantung Rayyan semakin berdegup tak beraturan. Papi Gilang, mengusap kepala Rayyan. ''Kamu bisa menyentuhnya setelah terbukti jika Zahra tidak mengandung benih pemuda itu. Dan jika sampai itu terjadi, kamu tidak boleh menggarap ladang yang bukan menjadi hak mu. Kamu bisa menggarap nya setelah benih itu keluar dan setelah Zahra suci dari nifas, maka kamu harus menikah sekali lagi dengannya. Baru setelahnya, kamu boleh menyentuh istrimu. Tapi tidak untuk sekarang, paham??'' jelas Papi Gilang yang semakin membuat Rayyan tidak bisa bergerak ataupun berkata apa-apa.
__ADS_1
Ia tidak berpikir sampai kesitu. Bahkan tidak pernah terpikir olehnya, jika Zahra suatu saat akan mengandung benih dari pemuda yang telah menodai nya.
Dan ia baru teringat ketika Zahra satu malam bersama pemuda itu. Mereka melakukan hubungan terlarang itu berulang kali disana. Mengingat itu Rayyan tertegun.