
Keesokan harinya.
Setelah sholat Jum'at Rayyan segera pergi menuju kerumah sakit menggunakan motor milik Papi Gilang yang ia bilang dari rumah Oma Dewi.
''Oma, Abang pakai dulu ya? Mau kerumah sakit jenguk teman yang sedang sakit,'' ucap Rayyan pada Oma Dewi.
Wanita lansia itu mengangguk, ''Tentu. Hati-hati di jalan ya? Jangan ngebut! Jaga keselamatan!'' peringat Oma Dewi pada cucu sulungnya itu dengan mata menyipit tajam.
Rayyan terkekeh kecil. ''Tentu Oma ku yang cantiiiikk...'' ledek Rayyan pada Oma Dewi.
''Kamu! Hadeeeuuhh.. ya sudah, pergilah!''
''Assalamu'alaikum, Oma..''
''Waalaikum salam..'' sahut Oma Dewi dengan senyum terus tersungging di bibir tipis nan sudah tua itu.
Sembari membawa motor kenangan Papi Gilang dulu, Rayyan terkekeh kecil saat mengenang cerita sang Papi padanya saat pertama kali melihat Mami Alisa dulu.
''Ck. Papi sangat beruntung mendapatkan Mami. Apakah aku juga akan seberuntung Papi? Memilki istri walau sangat terpaut usia jauh namun, mereka saling mencintai. Akankah aku bisa begitu dengan Zahra?'' gumam Rayyan sesekali melihat ke jalan seberang sana.
Karena tumdh sakit yang datangi sudah terlihat. Rayyan hanya perlu memutar dari tugu di depan sana dan langsung menuju kerumah sakit.
Tiba disana, Rayyan terlebih dahulu memarkirkan motornya dan menuju keruang seseorang yang telah menghancurkan hidup Zahra dan juga dirinya.
__ADS_1
Tiba di depan pintu yang pernah ia datangi dengan Zahra dulu, Rayyan berdiri mematung saat mendengar suara seseorang menangis begitu menyayat hati.
Ia menghela nafasnya sebelum masuk keruangan itu.
Ceklek.
Suara pintu terbuka dari luar. Rayyan masuk dengan langkah berat. Seseorang yang sedang menangis tersedu itu menoleh.
Deg!
''Brooo...'' lirihnya dengan bibir bergetar dan mata sembab karena menangis terlalu lama.
Rayyan mendekatinya dan duduk dihadapan pemuda sebaya dirinya itu. ''Apa kabar mu? Sudah membaik?'' tanya Rayan dengan wajah dinginnya.
''Kenapa kamu sangat ingin menemuinya? Bukankah kamu sudah puas mendapatkan nya? dan sekarang aku yang menggantikan posisi mu! Tapi.. tak apa. Aku ikhlas. Sangat, sangat ikhlas! Tidak seperti mu! Memberi tapi meminta balasan! Mencintai tapi merusaknya! Cih!'' ucap Rayyan begitu kesal kepada sahabat baiknya ini.
Pemuda itu tertunduk. Lagi dan lagi tubuh itu bergetar. Ia tersedu lagi. ''Ma-maaf hiks Ray.. aku memang hiks pantas kamu marahi. Hiks.. aku memang hiks buruk.. tapi.. hiks aku sangat mencintainya.. hiks.. aku salah.. hiks.. aku khilaf.. maafkan aku Bang.. maafkan aku Bang Rayyan.. maaf.. hiks..'' isaknya semakin tersedu.
Tubuh kurus nan jangkung setinggi Rayyan itu semakin berguncang parah, Rayyan menoleh ke arah lain untuk tidak melihat wajah sembab nya.
Ia mengusap kasar air mata yang mengalir di pipi mulusnya. ''Sekarang kamu baru menyesal Bro! Bagaimana ketika kamu menodainya? Tidakkah kamu berpikir bahwa yang kamu lakukan itu akan berakibat fatal pada kehidupan nya??''
''Hiks.. hiks..''
__ADS_1
''Jika kamu mencintai nya, jangan merusaknya! Lepaskan dia! Ikhlas kan! Karena dengan mengikhlaskan nya maka kita sudah berada di posisi yang tinggi saat mencintai Seseorang!''
Ia menoleh pada Rayyan. ''Aku tidak sekuat mu, Bang. Aku lemah. Aku rapuh. Aku penyakitan. Hiks. Aku tau aku salah. Aku minta maaf. Aku tau permintaan maaf ku ini tidak berguna lagi sekarang, tapi aku tetap harus meminta maaf. Terutama padamu. Maafkan aku Bang.. maafkan adik brengsek mu ini. Maafkan adik sialan mu ini! Hiks.. aku sangat, sangat mencintai nya Bang. Sejak pertama kali bertemu dengan nya. Apakah salah Bang??''
Rayyan mengepalkan kedua tangannya. Sakit yang tak terkira saat ada pemuda lain selain dirinya yang mencintai Zahra begitu dalam. Ingin sekali ia mengalah, tapi itu akan melukai Zahra.
Rayyan menekan seluruh amarah dan sesak di dalam dada disaat yang bersamaan. Ia menatap datar namun, sendu kepada sahabat yang sudah di anggap saudara oleh nya.
''Kamu tidak salah jika mencintai nya. Sama sepertiku. Tapi apa yang telah kamu lakukan itu begitu menghancurkan dirinya. Kamu merusaknya Bro! Kamu merusaknya! Kamu mengambil masa depan yang seharusnya menjadi milikku! Kamu rampas dengan paksa darinya! Aku bisa apa, jika semua ini sudah terjadi? Kalaulah dari awal kamu jujur padaku, aku lebih memilih mundur Bro!'' ucap Rayyan dengan bibir bergetar.
Pemuda itu tersedu. ''Aku nggak bisa melukai mu, Bang! Aku sayang sama kamu! kamu saudaraku! Sedari kecil kita tumbuh bersama! Mami mu Mami ku juga! Aku mengalah untukmu Bang! Tapi rasa cinta ini begitu menyiksa diriku hingga membuatku salah jalan. Aku menyesal Bang! Sangat menyesal! Apa yang harus aku lakukan agar kalian berdua bisa memaafkan ku??''
Rayyan menatap datar padanya. Wajah itu pun sembab karena menangis. Seseorang diluar sana mematung di depan pintu karena mendengar ucapan mereka berdua.
Ia jatuh terduduk di lantai tepat di depan pintu yang terbuka sedikit itu. ''Bang??'' panggilnya
''Jika kamu ingin kami berdua memaafkan mu. Pergi dari kehidupan ku untuk selamanya! Jangan pernah kembali kesini! Menghilang lah agar Zahra tidak terluka saat melihatmu kembali. Dan... cukup sudah sampai disini! hubungan kita, antara kamu dan aku bukanlah lagi saudara. Kita berdua orang asing! Pergi dan enyahlah dari muka bumi ini! Kamu sanggup??''
''Bang!!''
''Itu hukuman yang pantas untuk seorang pengkhianat dan perusak seperti mu!''
Ddduuaaarrrrrr...
__ADS_1