Janda Kembang Season 2 ( Ternoda )

Janda Kembang Season 2 ( Ternoda )
Ujian untuknya


__ADS_3

''Maafkan aku Mi.. aku janji. Tidak akan meminta lagi hal itu padanya. Aku salah.. maaf..'' lirih Zahra yang hanya terdengar oleh Mami Alisa saja.


''Ya sudah, masuklah ke kamar. Sholat dan istirahat? Kami tetap disini. Nanti sore hari kamu pulang, ya?''


Zahra mengangguk. ''Ayo Kak,'' Rayyan mengangguk.


Mereka berdua segera berlalu meninggalkan ke empat orang tua itu. Ke empat orang tua itu masih tertegun di tempat nya berdiri.


''Ayo, kita sholat dulu. Biarkan mereka tenang dan istirahat. Kita pun harus istirahat. Ayo Gi!'' ajak Papa Reza pada Papi Gilang.


''Ya,'' sahut Papi Gilang.


Keempat orang itu menuju ke musholla untuk sholat dhuhur. Sementara Zahra dan Rayyan pun saat ini sedang menunaikan ibadah mereka. Setelah selesai, mereka berdua istirahat siang sesuai dengan permintaan kedua orang tuanya tadi.


.

__ADS_1


.


.


Tiga bulan berlalu setelah kejadian itu. Kini Zahra tidak lagi sekolah. Ia hanya mengikuti sekolah dari rumah. Kepala sekolah menyayangkan hal itu. Tapi mereka tidak bisa berbuat apapun, karena semua itu karena keinginan Mami Alisa yang mengatakan kalau Zahra saat ini trauma karena kasus pemukulan itu.


Semua dewan guru merasa bersalah. Mereka ingin menjenguk Zahra, tapi Mami Alisa melarang mereka semua termasuk teman sekelas Zahra.


Kehamilan Zahra sudah berkisar empat bulan penuh saat ini. Zahra tidak merasakan mual ataupun mengidam lagi. Ia sibuk belajar sibuk menikmati kesehariannya bersama Rayyan di masa kehamilan nya itu.


Belum lagi mual muntah yang selalu menyerang nya hingga membuat pemuda itu sering kali pingsan setiap saat karena tidak sanggup menahan puding di kepala nya.


Ia menangis tersedu kala mengingat saudaranya yang jauh darinya saat ini. Biasanya, ia selalu di temani Rayyan kalau sedang sakit seperti itu.


''Abang... hiks.. aku mau bang Rayyan...'' lirihnya sembari bergelimang di balik selimut rumah sakit.

__ADS_1


Saat ini ia begitu tersiksa karena mual muntah nya itu. Tapi ia bisa apa? Kaldu semua ujian hidup itu sedang menimpa nya saat ini. Ibarat kata pepatah.


Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Inilah situasi yang tepat untuknya saat ini. Pemuda itu menangis tersedu kala dirinya begitu menginginkan sesuatu yang dibutuhkan langsung oleh Rayyan.


''Ingin makan telur dadar buatan kamu Bang.. hiks.. lapar...'' lirih nya lagi sambil terisak.


Tubuhnya begitu kurus saat ini. Berulang kali masuk rumah sakit umum dan rumah sakit jiwa karena rasa bersalah nya terhadap Zahra. Karena dengan tega dan menuruti emosi nya ia menodai Zahra. Gadis yang ia cintai dan Rayyan cintai.


''Maafkan aku Bang .. aku khilaf.. maaf.. bang Rayyan... Zahra.. maafkan aku.. ingin makan telur dadar buatan kamu.. hiks.. ya Allah... ampuni aku...'' lirihnya semakin tersedu di balik selimut pasien di rumah sakit itu.


Papa Rian tidak sanggup melihat putra nya itu. Ia begitu tersiksa melihat putranya itu. ''Apa yang harus Papa lakukan nak? Kamu dan Rayyan sudah terikat janji. Papa tidak mungkin mengingkari janji itu. Ya Allah.. jika memang ini ujian untuk putraku. Aku ikhlas.. Jika sakit ini merupakan penebus dosanya, semoga putraku kuat dan sanggup menghadapi nya .. Engkau yang maha pengasih dan maha penyayang ya Robb..'' lirih Papa Rian tidak sanggup melihat keadaan putra nya itu.


Jika Zahra dan Rayyan menikmati hari-hari mereka, maka inilah yang terjadi pada seorang pemuda yang telah menodai Zahra. Dokter sudah mengatakan jika ia mengalami depresi.


Untuk sementara harus dirawat demi kesembuhan dirinya. Belum lagi penyakit yang di deritanya saat ini begitu parah. Tidak berselera makan.

__ADS_1


Ia hanya ingin makan, kalau itu buatan tangan Rayyan untuknya.


__ADS_2