Janda Kembang Season 2 ( Ternoda )

Janda Kembang Season 2 ( Ternoda )
Sikap tegas Mami Alisa


__ADS_3

Pak Husen menunduk takut. Ia berdehem untuk mengurangi rasa takut yang sedang menyerang dirinya saat ini.


Ia menoleh pada Mami Alisa dengan tatapan takut, ''Maaf sebelumnya Bu, ada apa ya Ibu datang kemari?? Ada yang perlu kah?? Biasanya kan kalau datang ibu selalu mengabari kami terlebih dahulu.'' ucapnya takut-takut menatap Mami Alisa.


Mami Alisa menatap datar padanya, tapi tatapan itu begitu tajam. Sepeti ingin menguliti dirinya.


''Kenapa? Anda tidak suka saya datang ke tempat saya sendiri? Apakah saya datang kesini pun kalian harus tahu, begitu?!''


Deg!


''Bu-bukan begitu Bu!'' kilah Pak Husen tergagap.


''Lantas apa?? Kenapa putri saya sampai terluka seperti itu? Apakah karena ke delapan siswa anda ini Pak Husen?? Jika iya, mereka harus di keluarkan dari sekolah saya!''


Deg!


Deg!


Pak Husen dan kedelapan teman sekelas Rayyan itu terkejut bukan main. Mereka saling pandang tapi dalam keadaan menunduk. Tidak berani menatap Rayyan yang saat ini begitu dingin menatap mereka semua.


Apalagi tiga paruh baya yang duduk bersama itu. Wajah mereka begitu menakutkan. Mami Alisa semakin menatap tajam pada Pak Husen selaku guru BK di sekolahnya ini.


''Apakah ini tugasmu di sekolah ini, Pak Husen?! Anda membiarkan putri keluarga kami terluka! Ia disiksa dan ditindas tanpa tau alasan yang jelas penyebab terputusnya persahabatan putra saya dan sahabatnya! Apakah anda sebagai guru, tidak bisa mendidik murid anda menjadi baik?! Kenapa?! Kenapa kalian seperti ini! Sekolah ini untuk menuntut ilmu. Bukan untuk saling adu otot!''


''Jika kalian ingin adu otot bukan disini tempat nya! Di depan sekolah ini tersedia tempat latihan karate! seharusnya kalian semua masuk kesana! Bukannya memukul putri saya!'' ucapnya begitu marah kepada delapan murid yang mencoba mengeroyok Zahra.


Ya, saat dalam perjalanan tadi Mami Alisa menghubungi Rayyan lagi untuk bertanya ada apa sebenarnya.


Tanpa menutupi apapun, Rayyan menceritakan apa yang ia lihat kepada Mami Alisa. Membuat tiga paruh baya di dalam mobil itu terkejut bukan main.


Rayyan menjelaskan, jika Zahra di bully karena ia tidak setia kepada Dimas sampai dimana dan dirinya berkelahi sampai Dimas masuk rumah sakit dan saat ini kritis.


Tanpa tau kejadian yang sebenarnya mereka semua menghukum Zahra. Termasuk para guru. Wali kelas Zahra. Ibu Yulita. Semuanya Rayyan jelaskan seperti yang diceritakan padanya saat tadi ia menunggu kedua orang tuanya di depan gerbang.

__ADS_1


Karena lama menunggu, Rayyan akhirnya memanggil ke delapan orang itu untuk menghadap guru BK. Sempat Pak Husen menolak.


Ia mengatakan jika itu memanglah kesalahan Zahra yang sudah berani mendorong mereka terlebih dahulu. Benar, Zahra yang lebih dulu mendorong karena mereka tidak menginginkan Zahra lewat untuk buang air kecil. Begitu kata Dian.


Pak Husen mengatakan pada Rayyan cukup sampai disana saja masalahnya. Tidak perlu memanggil kepala yayasan sekaligus pemilik sekolah mereka.


Rayyan tidak peduli. Perbuatan ke delapan orang itu begitu tega pada Zahra. Setelah di dorong hingga jatuh, Zahra bahkan disiksa dengan cara tubuhnya di injak oleh kaki mereka berdelapan.


Itulah yang membuat Rayyan begitu marah tadi. Sampai-sampai memukul pintu kamar mandi itu, hingga tangan kanannya membiru. Rayyan tak peduli dengan rasa sakitnya. Yang terpenting sekarang, Zahra. Dan juga ke delapan teman sekelas Rayyan itu harus di tegasi.


Dan disini lah Rayyan sekarang. ''Kenapa?! Anda lebih membela yang salah dibanding kebenaran?! Apakah anda bekerja disini untuk itu? Jika itu tujuan anda, maaf! Dengan sangat terpaksa anda harus angkat kaki dari sekolah ini!'' tegas Mami Alisa.


Pak Husen menelan salivanya. Ia menatap Mami Alisa dengan wajah pias. Begitu pucat. Seperti tidak di aliri darah.


Rayyan terkekeh sinis melihat wajah Pak Husen begitu pucat. Papi Gilang menarik sedikit ujung bibirnya. Ia bangga kepada Mami Alisa yang begitu tegas dalam bersikap.


Aku mencintaimu sayangku!


Mami Alisa menoleh, Papi Gilang mengulum senyumnya. Rayyan terkekeh lagi. Sementara Papa Reza menggeleng kan kepalanya.


Deg!


Deg!


''B-bu Alisa?''


''Keluar!'' tegas Mami Alisa lagi.


Semakin membuat Pak Husen ketakutan. ''Keluar kataku!!'' kata Mami Alisa dengan suara naik satu oktaf.


Pak Husen sampai terjingkat kaget karena itu. Ia berdiri namun, kepala nya menggeleng pertanda tidak mau.


''Keluar!!'' serunya lagi begitu dingin.

__ADS_1


Ia semakin muak dengan pemuda sebaya dirinya itu. Matanya menatap tajam pada kedelapan murid sekolahnya itu.


''Saya akan ambil alih semua ini. Panggil semua gitu untuk rapat! Lima belas menit mulai dari sekarang!''


Deg!


Psk Husen berlari luar dengan buru-buru. Ia langsung menuju ke ruang guru untuk mengadakan rapat. Sementara ke delapan murid itu semakin ketakutan.


Mami Alisa menatap Rayyan. Rayyan mengangguk setuju. ''Ayo, ikuti aku!'' kata Rayyan pada teman sekelasnya itu.


Mereka semua mengangguk, tapi tidak berani menatap kepada Mami Alisa dan juga dua paruh baya yang mereka sangat kenal itu siapa.


Mereka berlalu setelah rayayn terlebih dahulu keluar dari ruangan BK itu. Mereka semua menyusul Rayyan menuju aula dimana rapat terbuka akan segera di gelar disana.


Lima belas menit berlalu.


Zahra yang sudah siuman pun segera dibawa keruang rapat. Ia di tuntun oleh Dian dan Kak Ria selaku petugas di ruang UKS.


Zahra masuk keruangan itu. Semua mata menatap nya dengan dingin. Termasuk para guru. Mami Alisa mengepalkan kedua tangannya. Papi Gilang yang tau jika Mami Alisa sedang menahan amarahnya, memegang tangan itu dan menggenggam nya dengan lembut.


''Sabar.. tekan emosimu. Kita yang berkuasa disini. Kita akan putuskan apa yang seharusnya mereka semua dapatkan karena telah melakukan kesalahan karena membiarkan Zahra di bully di sekolah yang kamu pimpin.'' bujuk Papi Gilang menenangkan Mami Alisa yang sedang di kuasai oleh amarah.


Huffftt...


Helaan nafas terdengar dari mulut Kami Alisa. Melihat kedatangan Zahra, Rayyan mendekati nya dan menuntunnya untuk duduk di kursi yang lain.


''Baik, rapat kita mulai! Saya tidak menyangka. Bahwa wali kelas dan murid disini sangat tidak berperikemanusiaan! Tega-teganya kalian menghukum seseorang yang tidak melakukan kesalahan apapun! Sebenarnya apa yang kalian inginkan?! Apakah karena rasa benci kalian ?! Atau karena ada hal lain?''


Semuanya memilih diam. Pak Husen menunduk. Begitu juga dengan dewan guru yang lain.


''Saya memang baru di sekolah ini sebagai pemilik sekolah ini. Tapi selama lebih kurang lima tahun ini, sudah banyak berita yang saya dapatkan. Bahwa kalian para guru sengaja membiarkan semua murid melakukan sesuka hati di sekolah ini. Sekolah ini bukan untuk ajang adu bakat! Tapi untuk menuntut ilmu!''


''Apakah ini yang kalian inginkan?! Kalian ingin sekolah ini menjadi buruk di mata masyarakat karena ulah guru dan juga para siswanya?! Saya benar-benar kecewa! Pantas saja Pak Wawan menyerahkan tugas ini kepada saya. Agar saya bisa mendidik kalian menjadi lebih baik lagi! Ternyata.. bukan siswa penyebab nya. Tapi kalianlah penyebab nya! Guru di sekolah ini!''

__ADS_1


Deg!


Deg!


__ADS_2