
Tok, tok, tok..
''Nak.. sudah Maghrib. Bangun dulu. Sudah bangun kah? Papa tunggu kalian si mushola loh..'' seru Mama Rani dari luar pintu kamar Zahra.
Rayyan dan Zahra tersentak dari tidurnya. ''Ehm.. sudah Maghrib ya? Hah? Astaghfirullah!! bolong ashar nya sayang!'' seru Rayyan dengan panik.
Ia bangun dengan segera setelah menyampir handuk dengan terburu-buru. Zahra terkekeh melihat kelakuan Rayyan. ''Aku bahagia hidup bersama mu Kak.. tapi aku merasa diri ini tidak pantas untukmu. Aku kotor. Aku rusak karena diriku sendiri. Aku harap kamu bisa mengerti kenapa aku selalu menolak mu. Aku ingin.. saat kita bertemu lagi nanti di kelahiran berikutnya aku masih suci dan layak untuk menjadi sitrimu. Walaupun nanti aku harus masuk ke tubuh orang lain.. tak apa. Aku ikhlas. Yang penting aku bisa menyelesaikan tugas ku sebelum aku pergi untuk selamanya darimu. Sampai waktu itu tiba. Aku ingin egois memiliki dirimu seutuhnya untukku. Aku sangat mencintaimu Kak.. sangat.. walau ku tau kamu menerima ku apa adanya. Tapi.. hiks.. ada disisi lain dari diri ini yang membuat ku kecewa karena tidak utuh menjadi milikmu. Hiks.. aku kotor.. aku hina..'' bisiknya dalam hati.
Zahra bangkit dan mengusap kasar air mata yang berjatuhan di kedua pipinya. Ia mengambil handuk dan baju gantinya untuk mandi di kamar sebelah agar tidak mengganggu Rayyan yang sedang bersih-bersih.
Cukup lima belas menit Rayayn mandi, ia keluar.
Deg!
"Sudah bersih?? Siapa yang membersihkan nya? Pasti Zahra," gumamnya sambil mengambil baju dari dalam lemari dan memakainya.
Setelah selesai ia segera menuju ke Mushola dalam rumah Zahra. Tidak terlihat Zahra disana. Rayyan sholat dengan khusyuk. Selesai sholat ia berlalu ke meja makan, Rayyan bernafas lega saat melihat Zahra juga sudah ada disana.
"Duduk, Nak." Titah Mama Rani.
"Iya Ma," sahut Rayyan dengan segera duduk di sebelah Zahra yang kini sedang menuangkan nasi beserta lauk pauknya ke dalam piring Rayyan.
__ADS_1
"Makanlah," Rayyan tersenyum, "Terimakasih. Kamu juga makan ya?" kata Rayyan pada Zahra sembari menarik lembut tangan Zahra.
Zahra tidak bisa menolak. Padahal saat ini ia sudah menyiapkan nadinya di kamar. Zahra ingin makan sendiri dan tidak ingin bergabung dengan seluruh keluarga nya.
"Ayo, kita makan. Kalau kamu nggak makan, maka Kakak pun tidak akan makan!" tegas Rayyan sambil menatap Zahra dengan lembut.
Zahra mengangguk patuh. Ia ingin mengambil nasi untuk dirinya sendiri. Tapi Rayyan melarang nya. "Sepiring berdua!" katanya lagi.
Zahra menghela nafas pasrah. Berdebat pun percuma. Ia sangat tau watak Rayyan seperti apa. Mama Rani tersenyum melihatnya. "Oh ya nak, besok pagi Kalimalang berdua harus ke rumah sakit. Tadi Mami kamu menelepon Mama untuk mengabarkan hal ini. Sahabat kamu katanya udah sadar dari kemarin. Dan dia ingin bertemu dengan kalian berdua." Ucap Mama Rani membuat tanahnya Zahra yang sedang menyiapkan nasi keuluynay mengatung di udara.
Rayyan pun demikian. Ia menoleh pada Zahra. Zahra mengangguk walau menunduk. Rayyan tersenyum. "Iya Ma, besok kami akan ke rumah sakit sehabis jum'at.''
''Aku sudah selesai. Aku duluan Kak. Mau belajar kisi-kisi soal ujian untuk besok.'' Potong Zahra sebelum Mama Rani melanjutkan ucapan nya.
Mama Rani tertegun melihat sang putri berlalu tanpa pamit padanya dan Papa Reza. Papa Reza menghela nafasnya. ''Sudah, lanjutkan makan mu. Karena ke empat anakmu yang lain akan pulang besok. Bersiaplah mendengar Huru hara dirumah ini!'' celutuk Papa Reza yang diangguki dengan kekehan kecil Paman Ali.
Rayyan tersenyum saja. Selesai makan, Rayyan masuk dengan memabwa sepiring nasi untuk Zahra.
Ceklek.
Pintu terbuka, terlihat Zahra sedang duduk di meja belajarnya. Zahra tidak sadar jika Rayyan sudah masuk ke kamar mereka. Sempat tertegun melihat Zahra tidak memakai hijabnya.
__ADS_1
Hampir seminggu mereka menikah namun, Zahra tidak pernah sekalipun menunjukkan surai hitam lurusnya pada Rayyan. Rayyan berkala. perlahan mendekati Zahra yang sedang sibuk menghafal kisi-kisi ujian untuk Minggu depan.
Zahra masih sibuk dengan bukunya saat Rayyan memeluk tubuhnya dari belakang. Wajah Rayyan bersembunyi di detik leher Zahra yang terbuka.
Deg!
''Kak Rayyan!'' panggil Zahra karena terkejut. Ingin berbalik tapi Rayyan mengunci pergerakan nya.
''Hem, kamu pergi belum selesai makan loh.. makan ya? Kakak bawa makan malam kita kesini. Kakak pun belum kenyang makan,'' imbuhnya masih dengan memeluk erat tubuh Zahra.
Nyaman sekali.
Itulah yang Rayyan rasakan saat ini. Begitu pun dengan Zahra. ''Besok, jadi kita ketimdh sakit kak? Apa tak apa?? A-aku nggak usah ikut ya?'' katanya dengan tubuh bergetar.
Rayyan memeluknya semakin erat. ''Ksmu tidak akan kesana besok. Biar kakak saja. Kamu di rumah. Ini perintah!'' tegas Rayyan.
Zahra mengurai pelukan Rayyan dan berbalik menghadap Rayyan yang kini sudah berdiri menjulang di hadapannya. Lagi, mata itu berkaca-kaca.
''Sssssttt.. udah. Jangan menangis. Tidak kah kering air mata mu karena menangis terus??'' tanya Rayyan sambil mengusap air mata yang sudah menetes di pipi Zahra.
Zahra tidak menyahut namun, tubuh ringkih itu dengan segera memeluk tubuh kurus Rayyan.
__ADS_1