
Rayyan dan Zahra keluar dari rumah sakit saat pemuda itu sudah dirawat dengan baik. Pihak rumah sakit langsung saja menghubungi orang tuanya ingin mengabarkan jika pemuda itu saat ini sedang kritis.
Zahra dan Rayyan sudah memasuki taksi saat ini. Mereka berdua duduk berlainan. Jika Zahra di belakang. Rayyan di depan. Zahra semakin terluka dengan penolakan Rayyan. Namun, ia bisa apa??
Dalam kesunyian yang mendera taksi yang mereka tumpangi, tanpa sengaja Rayyan menyenggol tuas tombol untuk bisa menyalakan radio di mobil itu.
Deg!
Jantung keduanya berdegup kencang saat mendengar kan bait lagu sayang saat ini sedang terputar di dalam taksi tumpangan mereka.
Jika dirimu bertanya tentang cinta
Aku pasti punya..
Jika kau butuhkan harta
Aku bisa apa...
Deg!
Deg!
Jantung keduanya bagai terhempas keluar saat mendengar bait pertama lagu itu. Rayyan mengepalkan kedua tangannya.
Jika kau harap kasih yang setia
Akulah orang nya..
Jika kau ingin kan tahta
Aku bisa apa...
Kali ini Zahra tercubit hatinya saat mendengar bait lagu berikutnya. Ia sesegukan saat mengingat seorang pemuda yang sedang terkapar dan kritis saat ini dirumah sakit. Bait lagu itu seperti ucapan nya saat dulu mereka duduk berdua sebelum melakukan kesalahan itu.
__ADS_1
Sekuat kuatnya diriku sayang
Sebisa bisanya aku berjuang
Jika bandingan mu dia yang ber uang
Ku akui cintaku tak kan menang..
Hiks.. hiks.. hiks..
Isakan lirih Zahra begitu terdengar sampai ke telinga Rayyan. Tapi Rayyan tetap memilih diam. Karena bait lagu itu merupakan rasa hati seseorang saat ia mengagumi padanya tadi.
Masih teringat jelas perkataan pemuda itu. Rayyan semakin menghela nafasnya. Sesak sekali.
Ku hanya bisa janjikan yang indah
Dia datang membawa segalanya
Kau kan tetap memilih dia..
Aku bisa apa...
Aku bisa apa...
Deg!
Deg!
Deg!
Bagai di tusuk sembilu tajam ke dua hati mereka. Sangat sakit. Zahra semakin menangis pilu membuat supir taksi itu kelimpungan. Supir taksi itu melirik Rayyan yang hanya diam saja, akhirnya ia pun memilih diam juga sama seperti Rayyan. Dan membiarkan Zahra sesegukan seorang duduk di belakang sana.
Rayyan Hanya bisa diam. Air mata sebagai saksi bahwa mereka begitu terluka saat ini. Sepanjang perjalanan rumah mereka berdua ditemani dengan kesunyian.
__ADS_1
Karena suara alunan merdu yang tadinya menyentuh hati mereka sudah tidak ada lagi. Digantikan dengan lagu 'salah' pula saat ini.
Yang semakin membuat Zahra merasa bersalah. Cukup lima belas menit mereka sudah tiba di kediaman Zahra pagi itu.
Mama Rani dan Papa Reza sedang kelimpungan mencari keberadaan Zahra. Dan saat melihat Zahra pulang berdua dengan Rayyan membuat kedua paruh baya itu bisa bernafas lega.
Sepenggal ingatan ini begitu mengganggu Rayyan di sekolahnya. Begitu juga dengan Zahra. Ia duduk termenung seorang diri dikamar nya setelah ia puas tadi tidur setelah minum obat.
Sakit di pelipisnya tidak sebanding dengan rasa sakit Rayyan untuknya. ''Maafkan aku Kak.. aku tak ingin melakukan ini. Tapi aku terpaksa. Maafkan aku yang begitu melukai mu. Seharusnya kamu boleh tidak menikah dengan ku. Tapi kenapa kamu menerima pernikahan ini? Kenapa kamu menerimanya jika kamu begitu terluka karena kami berdua??'' gumam Zahra dengan tatapan mata kosong.
Ia menatap lurus ke depan dimana ada pohon jambu dan mangga milik nya yang ia tanam dulu saat mereka masih kecil.
Sementara Rayyan duduk termenung seorang diri di tempat mereka selalu berkumpul jika mereka sedang bertiga.
''Jika ada orang mengatakan aku bodoh, ya. Aku bodoh. Aku bodoh karena menerima Zahra di dalam hidupku. Tapi aku bisa apa? Jikalau rasa cintaku lebih besar dibandingkan rasa benci ku kepadanya. Akal ku ingin menolak, tapi hatiku tidak mengizinkan. Aku bisa apa? Cinta ini begitu membuatku terluka. Aku memang menginginkan jika ia menjadi istriku, tapi bagaimana dengan nya? Aku rela mengalah.. asalkan dia bahagia. Aku mencintai nya tapi juga menyayangi sahabatku.''
''Dia tidak bisa bertanggungjawab untuk kehidupan Zahra, maka biarkan aku yang mengambil tanggung jawab ini. Aku rela terluka berulang kali asalkan cintaku bahagia dan adikku tidak merasa bersalah lagi.. Aku menyayangi kalian berdua... Sangat menyayanginya..'' lirih Rayyan dengan bahu berguncang.
Algi yang disuruh sang Mami untuk menyusul Rayyan kebingungan mencari Abang nya itu. ''Ck. Abang! Isshhh.. disini rupanya! Ayo ih pulang! Mami udah ngomel-ngomel dari tadi karena Abang nggak pulang juga. Ayo. Adek bawa motor matic punya Mami. Hihihi.. seru ih bawa motor!'' katanya pada Rayyan yang saat ini tengah melamun.
Plak!
''Astaghfirullah!'' pekik Rayyan begitu terkejut.
Algi cengengesan. ''Hehehe.. maaf Abang. Ayo ih! Mami bilang, kak Dim- ehm sahabat Abang udah sadar. Dan ia ingin bertemu dengan Abang untuk yang terakhir kalinya sebelum ia berangkat ke Jakarta untuk pindah sekolah. Abang dan Kak Zahra disuruh untuk kerumah sakit sekarang. Ayo!'' ajak Algi sembari menarik lengan Rayyan.
''Iya.. Abang pulang. Biar Abang yang nyetir. Takut Abang, kalau kamu yang bawa. Bisa-bisa kita nyungsep ke kali nanti!'' Algi mendelik tak terima.
Sedangkan Rayyan terkekeh-kekeh melihat wajah Algi merengut sebal seperti itu. ''Ayo.. ih! Buruan!!'' seru Rayyan lagi, saat ini ia sudah nangkring di jog belakang. Ia menggerakkan alisnya naik turun menggoda Algi.
Algi melompat girang. ''Aseeekkkk.. hihihi... adek nyupir uhuuyy!!!'' celutuk Algi begitu senang.
Rayyan tertawa. Ia bisa melupakan masalahnya sejenak jika bertemu kedua adiknya yang super kocak itu. Ya, Algiandra dan Kinara.
__ADS_1