
Rasa sakit yang bercampur rasa nikmat itu menyatu dalam darah Zahra. Mereka berdua sadar saat merasakan jika Zahra semakin merunduk karena kesakitan dan suara Zahra seperti ingin mengedan.
Rayyan melepaskan nya dengan wajah basah air mata. ''Sayang? Kamu basah! I-ini..'' ucap nya begitu terkejut ketika melihat dasater yang Zahra pakai sudah basah.
Zahra sedikit mengedan, ''Air ketubanku pecah Kak! Bawa aku kerumah sakit! Bayi kita akan segera lahir!''
Deg!
''Apa?!'' pekik Rayyan begitu terkejut.
Zahra Terkekeh melihat wajah pucat Rayyan. ''Sayang.. suamiku.. imamku.. Cintaku.. ayo! Kita langsung kerumah sakit! Kamu bawa ponsel kan ya? Sssttt.. eeegghh.. Allahu.. eeggghhhh... huufftt... ayo Kak! Anak kita akan segera lahir!'' seru Zahra lagi karena melihat yang terdiam dengan wajah pucat pasi.
''Sayangku!!!''
Rayyan tersentak. ''Hah? Hoh? Ah, i-iya kita kerumah sakit! Tapi kakak cuma bawa uang seratus ribu sayang. Jajak pikir untuk sarapan pagi kita. Ponsel sih kakak bawa.Iya ayo.. kamu sanggup jalan??'' tanya Rayyan pada Zahra yang semakin kuat ingin mengedan.
''Eegghhhh... huufftt... jangan dijalan sayang.. tunggu sampai Mami sampai ke rumah sakit ya?'' katanya sbil mengelus perut buncitnya yang semakin menurun ke bawah. Zahra menarik tangan Rayyan yang masih blank. ''Ayo Kak! Bayi kita mau keluar!!'' serunya lagi.
Rayyan yang terkejut karena mendengar suara lengkingan Zahra secepat kilat menggendong Zahra ala bridal style. Ia berjalan cepat menuju ke jalan raya yang hanya lima meter lagi dari jarak mereka saat ini.
Wajah tampan itu berkeringat dingin. Wajah pucat tetapi masih sangat tampan. Dalam keadaan sakit, Zahra masih bisa menatap wajah sang suami yang akan membawanya pergi suatu saat nanti.
Maafkan semua kesalahanku Kak.. aku sangat mencintai mu.. maafkan aku yang telah ternoda ini. Aku berjanji, dimasa depan nanti. Aku akan menebus semua apa yang telah aku lakukan selama ini. Aku akan akan menemui mu dengan wujud yang baru dan masih suci lahir dan batin. Aku mencintai mu Rayyan Putra Bhaskara.. sangat mencintaimu..
Zahra meringis menahan sakit di perutnya yang semakin terus mendesak ingin keluar. Rayyan semakin berjalan cepat. Tubuh dan pikiran nya begitu panik saat ini.
Ia semakin berjalan cepat bahkan seperti berlari. Zahra masih saja menatap cinta yang akan ia ingat seumur hidupnya. Zahra tersenyum tetapi berbalut sendu.
__ADS_1
Rayyan tiba di tepi jalan raya masih dengan menggendong Zahra. Dari kejauhan terlihat ada sebuah taksi yang sedang lewat. Dengan Rayyan segera berdiri di tengah untuk menghentikan taksi yang berisi kan penumpang itu.
Rayyan tidak bisa berbicara. Mulutnya seperti terkunci. Ingin berbicara tapi mulut sangat erat terkatup. Beruntungnya Rayyan taksi itu berhenti tepat dihadapan mereka.
Supir taksi itu turun tergopoh-gopoh dengan seorang wanita paruh baya pun ikut juga. Mereka berdua mendekati Rayyan yang begitu pucat saat ini.
''Ada apa Nak??'' tanya supir taksi itu.
''Loh? Nak Rayyan?'' Ucapnya pada Rayyan yang kini semakin bergetar tubuhnya
Supir taksi menoleh padanya. ''Ibu kenal pemuda ini?''
Wanita paruh baya itu mengangguk, ''Saya kenal Pak! nak Rayyan? Ini siapa? Dia kenapa? Loh, loh, sedang hamil?? Mau melahirkan??'' tanya nya pada Rayyan.
Sedang yang ditanya tidak menyahut tapi hanya mengangguk saja sebagian jawabnya dari wanita paruh baya yang ia kenal.
''Astaghfirullah! Ayo, ayo! Akan ibu antarkan kamu ke rumah sakit. Setelah ini baru antarkan saya ke tempat tujuan Pak!'' katanya pada supir taksi itu.
Dengan segera iaembuak pintu belakang untuk Rayyan dan Zahra. Setelah kedua pasangan itu masuk, ibu-ibu itu pun masuk di depan di ikuti sang supir juga masuk ke kemudi.
''Rumah sakit terdekat Pak! Ngebut!'' titahnya pada Pak Supir taksi.
''Baik!'' sahutnya.
Dengan cepat ia melakukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Sementara beliau mendiskusikan nama seseorang yang ia tau sebagai Orang tua dari Rayyan.
''Iya Hallo. Assalamualaikum Lis!''
__ADS_1
Deg!
''Mami...'' lirih Rayyan terkejut dengan wanita paruh baya itu menyebut nama sang Mami.
''Iya Bude Yuli? Ada apa? Mau pesan kue kah?'' sahut suara di seberang sana.
Bude Yuli Terkekeh, ''Bukan! Saya ubah panggilan menjadi video call ya?''
''Ada apa Bude? Ada sesuatu yang terjadi??'' sahutnya lagi.
Deg!
Deg!
''Rayyan! Zahra! Papiiiiii!!! Menantu kita mau melahirkan!!!'' serunya dengan suara melengking tinggi.
''Apa sih sayang?? Jangan berisik ah! Malu di dengar tetangga!'' tegur suara yang Rayyan kenal.
Tanpa di duga pemuda yang tadinya berwajah pucat kini terkekeh mendengar ucapan sang Papi. Begitu pun dengan Zahra. Walau meringis dan mengedan, ia tetap bisa mendengar.
''Diem ih! Nih! Aku mau pskdi baju dulu! Eh, udah! Hijab ku? Mana hijabku? dompet ku? Algi!! Kinaraaaa!!! Abang kalian ke rumah sakit!!! Bersiap!!!!'' pekiknya lagi.
Papi Gilang meringis merasakan gendang telinganya mau pecah. Ia berdecak. ''Kamu kebiasaan deh sayang? Tenang atuh! Abang!'' panggil nya pada Rayyan.
''Iya pi!''
''Jangan panik! tenangkan dirimu! Jangan putuskan sambungan ponsel ini. Papi dan Mami akan kesana! Kamu tenang! Jaga Zahra baik-baik!''
__ADS_1
''Hilih! Ngajarin anak kayak begitu? Giliran kamu? Heh! Kami pun sama seperti Rayyan! Bahkan kamu hampir terkencing di celana gegara aku mau melahirkan!''
Buhahahaha...