
''Sampai saat itu terjadi, maka aku akan menjauh darimu. Aku akan menghindar berdekatan dengan mu. Aku yakin, kamu pun tau akan hal ini. Mami sama Papi pasti sudah memberitahu kan nya kepadamu. Hiks.. ya Allah.. ampuni aku...'' Isak Zahra dengan berlinangan air mata.
Lagi dan lagi air mata itu masuk ke piringnya. Zahra makan dengan berlinangan air mata. Itulah yang terjadi saat ini. Jam sudah menunjukkan pukul satu malam. Pada saat inilah, ia merasakan lapar.
Sejak dimana ia ternoda, Zahra tidak pernah mau lagi makan di meja makan bersama keluarga nya. Ia lebih memilih menghindar. Dan sekarang ada Rayyan. Zahra pun akan melakukan hal yang sama kepada Rayyan. Suami sah. Eh, bukan. Hanya sebatas suami penutup aib dirinya. Suami pengganti untuk orang yang telah menodai nya.
Selesai makan, Zahra mencuci piring nya hingga bersih. Setelahnya ia kembali ke kamar sebelah. Tapi sebelum membuka kamar nya, ia kembali ke kamar miliknya yang sedang di tempati oleh Rayyan.
Zahra membuka pintu kamarnya dengan sangat pelan. Zahra melangkahkan kakinya menuju ranjang yang ada Rayyan disana.
Bibir itu tertarik sedikit ketika melihat posisi Rayyan saat tidur begitu kacau bila sendirian. Tapi tidak jika bersamanya. Zahra terkekeh namun, kekehan di bibir tipis yang telah ternoda itu seketika surut saat menyadari jika dirinya tidak pantas untuk Rayyan.
Ia berbalik dan menuju meja belajarnya. Ia mengambilkan tas, buku, alat tulis dan keperluan lainnya untuk ulangan besok. Begitu juga dengan seragamnya.
Selagi perut itu belum terlihat membuncit, maka ia akan terus sekolah. Setelahnya, biarlah takdir dan nasib yang menentukan dirinya.
Selsai dengan peralatan sekolah, Zahra berbalik dan menghadap Rayyan lagi. Ingin sekali ia mengecup pipi yang selama ini begitu dingin namun, sangat menjaganya. Zahra tidak berani.
Tes.
Tes.
Untuk kesekian kalinya, Zahra meneteskan lagi buliran bening yang keluar tanpa di pinta dari sudut matanya. Ia berbalik dengan mengusap kasar air matanya dan keluar dari kamar Rayyan.
__ADS_1
Sedangkan Rayyan yang terjaga saat suara berisik dari meja belajar milik Zahra terbangun. Ia menatap punggung ringkih yang tadi siang baru ia nikahi.
Tubuh yang begitu ingin ia dekap saat tidur namun, sang pemilik lebih memilih menghindar darinya. Rayyan menggigit bibirnya agar isakannya itu tidak terdengar oleh Zahra.
Setelah Zahra keluar dan masuk ke kamar terdengar dari pintu yang tertutup walau pelan, Rayyan tersedu. Ia sangat sedih mendapati kenyataan jika Zahra pun sudah tau, jika dirinya tidak boleh di sentuh.
Rayyan memukul dadanya begitu kuat hingga terdengar seperti suara gebukan. Ia terisak dengan tubuh berguncang di kesunyian malam.
Begitu juga dengan Zahra. Tubuh itu luruh kelantai saat menyadari jika Rayyan tau, kalau dirinya datang ke kamar mereka hanya untuk mengambil seragam, serta buku-buku untuk keperluan ulangan besok.
''Ra... hiks.. hiks.. sakiiiiiittt... hiks.. Ma.. mi...'' Isak Rayyan begitu terluka.
''Maafkan aku Kak... maaf.. hiks.. hiks.. aku tak pantas bersama mu.. huhuhu...'' Zahra tersedu seorang diri di kamar depan.
Pernikahan terpaksa itu pun terjadi demi menutupi aibnya sang pujaan hati. Rayyan ikhlas menerimanya. Tapi hatinya sakit saat menyadari jika Zahra menghindar dari nya karena merasa tidak pantas tidur bersamanya.
Begitu juga dengan Zahra. Gadis kecil itu begitu mencintai sosok Rayyan yang terkenal dingin namun tegas dalam bersikap. Ingin sekali memeluk tubuh itu walau hanya untuk menghirup aroma tubuhnya.
Aroma tubuh yang begitu Zahra inginkan saat ini. Aroma tubuh yang sama saat dirinya di nodai di gudang di belakang sekolah mereka. Wangi tubuh yang sangat sama. Kadang Zahra sempat salah dalam menebak.
Jika ternyata ada pemuda lain yang sama gestur tubuhnya seperti Rayyan. Bahkan harum tubuhnya pun sama seperti Rayyan. Inilah yang Zahra sesalkan.
Ia terlena dengan wangi tubuh orang yang telah menodai nya. Tanpa tau, jika pemuda itu bukanlah Rayyan. Dan saat ia sadar, semua itu telah terjadi.
__ADS_1
Hanya tersisa rasa sakit, terluka dan kecewa terhadap orang yang selama ini selalu memperhatikan nya dalam segala hal. Tidak seperti Rayyan. Selalu dingin dan terkesan cuek.
Dan ternyata baru Zahra sadari, jika sikap cuek Rayyan dan dingin terhadap nya semata-mata untuk melindungi dirinya agar tidak tersentuh sebelum halal. Zahra menyesal kenapa ia selalu kesal jika Rayyan tidak memperhatikan nya.
''Hiks.. aku salah Kak.. aku pikir kamu sengaja menjauh dari ku karena kamu tidak menyukai ku? Berbeda sekali dengan nya! Hiks.. aku terkecoh dengan perhatian yang ia berikan untukku! Ternyata.. itu semua bulshit! Bohong! Kamu mengatakan cinta padaku? Tapi apa yang telah kamu lakukan padaku itu bukanlah cinta melainkan nafsu! Hiks.. jika kamu mencintai diriku, kamu tidak akan merusak ku seperti ini! Hiks.. kecewa aku pernah mengenal mu, Kak! Seumur hidupku. Aku sangat membencinya mu! Karena mu, aku harus berada di posisi yang sulit saat ini! Mencintai tapi tidak bisa memiliki! Hiks. Semua itu karena mu! Jahat! Kau jahat padaku! Sampai kapanpun aku tidak akan memaafkan mu! Sampai matipun!''
Ddduuaaarrr...
Suara petir menggelegar diluar rumah Zahra. Seakan menjawab setiap ucapan Zahra yang begitu pilu.
Sementara nan jauh disana, seseorang terus mengingau memanggil nama Zahra dan Rayyan berulang kali. Sang Papa yang saat ini sedang ketiduran tidak menyadari nya.
''Zahra.. Ray.. maafkan aku.. aku minta maaf... kembali.. jangan pergi.. ku mohon.. jangan.. Ray... Ra... tunggu.. tunggu..'' lirihnya dengan keringat terus bercucuran di dahi mulusnya.
Zahra semakin tersedu kala mengingat dirinya yang begitu bodoh menerima perhatian dari pemuda lain saat dirinya begitu kesal karena di cuekin oleh Rayyan.
Sedangkan Rayyan saat ini ia sedang sholat. Bersimpuh di sajadah dan memohon ampun atas dosanya yang tidak bisa membuat sang istri merasa bahagia dan nyaman menikah dengan nya.
Penyebab dari kehancuran Zahra pun karena dirinya. Karena dirinya lah yang mengizinkan Zahra untuk menemani pemuda itu ke perpustakaan. Jika saja ia tidak mengizinkan nya, maka Zahra tidak akan ternoda seperti itu.
Rayyan merutuki dirinya yang begitu bodoh. Tidak mengerti dari gelagat dan bahasa tubuh dari pemuda itu.
Sekarang untuk apa lagi menyesalinya. Toh, semuanya sudah terjadi. Yang bisa di perbuat sekarang ialah.. mencoba merengkuh Zahra walau Zahra menolak dan menghindar dari nya.
__ADS_1
Membawa Zahra kembali seperti dulu saat dimana semua kejadian buruk ini belum menimpa mereka bertiga.