
''Dek.. udah.. nggak enak di dengar Zahra dan yang lainnya nanti,'' ucap Rayyan sengaja menyuruh Algi untuk diam.
''Adek nggak peduli! Semua ini untuk Abang. Adek membela Abang! Benar kan yang adek bilang? Jika suatu saat ada hal buruk terjadi dengan kak Zahra, pasti Abang lah yang menutup aibnya!'' tukas Algi berapi-api.
''Abang tidak usah menutupinya. Abang lihat saja sendiri seperti apa kelakuan mereka! Abang terluka saat itu! Sementara dia bersenang-senang satu malam dengan pemuda itu! Itukah yang dinamakan cinta sejati Bang Rayyan Putra Bhaskara?? Apa itu namanya jika bukan berkhianat? Ingat Abang. Kak Zahra itu pengkhianat! PENGKHIANAT!!''
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...
Zahra tersentak mendengar ucapan Algi pada Rayyan. Kepalanya mendadaj pusing, dadanya sesak hingga sulit bernafas. Tubuhnya bergetar hebat.
Pandangan matanya mendadak gelap dan jatuh ke lantai dan menyentuh ubin yang begitu dingin walau cuacaac sedang terikat saat ini.
Brrruukkk...
Rayyan dan Algi terkejut mendengar suara benda jatuh di belakang mereka.
Deg!
''Zahraaaaa!!!'' pekik Rayyan dengan segera berlari untuk mendekati Zahra yang sudah terjatuh dengan wajah yang begitu dingin.
__ADS_1
Algi mematung melihat Zahra seperti itu. ''Bang??'' panggil Algi pada Rayyan.
Rayyan tak peduli. Ia panik setengah mati melihat Zahra jatuh tak sadarkan diri. ''Sayang! Bangun! Mama!!!! Papa!!!'' pekik Rayyan begitu laut memanggil kedua orang tua Zahra.
Mama Rani yang sedang dikamar melayani Pap Reza terkejut. Paruh baya itu langsung saja mendorong tubuh Papi Reza saat mendengar suara sang menantu memekik begitu kuat memanggil namanya.
''Sayang! Isshh.. kok di dorong sih?! Kamu mau kemana-,'' ucapan Papa Reza berhenti saat Mama Rani menutup papa Reza dengan sebelah tangan.
Sedang tangan satu lagi sedang memakai baju daster. Ia mengambil hijab instan nya dan berlalu keluar. Papa Reza menggeleng kepala nya melihat Mama Rani ngacir keluar.
''Hadeeuuuhh... kasian amat lu tong?? Di tinggalin lagi sayang-sayang nya! Ck! Awas kamu! Setelah ini akan lebih berat lagi hukumannya untuk kamu! Tunggu saja!'' ketus mau begitu kesal.
Walaupun begitu ia tetap keluar mengejar Mama Ranai yang sudah duluan berlari meninggalkan nya.
Tap.
Tap.
Tap.
__ADS_1
Papa Reza berlari begitu kencang menuju Mana Rani dan Zahra. Ia terkejut begitu melihat putri nya sudah jatuh tak berdaya dan terkulai dipangkuan Rayyan.
Dengan Rayyan yang sudah menangis. ''Ra. Bangun. Hiks. Ma! Kita bawa masuk! Papa!'' panggilnya saat melihat Papa Reza datang.
''Ayo, kita bawa masuk dulu. Tubuhnya panas. Kayak ya adek demam deh Pa? Apa Zidan juga demam? Ck. Putra kamu itu begitu sudah di atur! Hobinya kok jadi penyanyi sih?!'' Omel Mama Rani sambil mengikuti Papa Reza yang menggendong Zahra menuju kamarnya di kamar tamu.
''Pa-,''
''Disini saja nak. Kamu dan Zahra tidak boleh tidur bersama. Takutnya terjadi sesuatu diantara kalian! Kamu menikahi untuk mengambil tanggung jawab yang seharusnya di pukul oleh pemuda itu. Kamu cukup diam dikamar sebelah ya? Dengarkan omongan Mama, nak?'' pinta Mama Rani begitu mengiba.
Rayyan tertunduk lesu. Zahra dibawa masuk ke kamar tamu dimana Zahra tidur dua malam ini.
Sedang Algi masih berdiri mematung melihat Abang nya begitu terluka dengan penolakan Mama Rani. ''Bang.. maafkan adek.. maaf bang.. adek nggak maksud...'' lirih Algi dengan suara bergetar menahan tangisnya saat melihat Rayyan yang semakin tersedu duduk sendiri diruang tamu.
''Tidak. Ini bukan salahmu. Semua ini sudah menjadi ketetapan Nya.. memang inilah yang harus Abang tanggung. Duduk sini. Temani Abang. Kabari Mami agar Mami tidak menunggu mu.'' Katanya pada Algi.
Algi mengangguk, dengan segera tangan kurus Algi mengambil ponsel dan mendial nomor Mami Alisa.
Algi berbicara sebentar yang disambut dengan kepanikan Mami Alisa disana. Rayyan mengusap air matanya saat melihat Papa Reza keluar dengan wajah sendunya dan ia mendekati Rayyan.
__ADS_1
''Masuklah. Zahra ingin bicara denganmu. Mama dan Papa akan istirahat di kamar. Sebaiknya Algi pulang. Sudah sore. Besok saja kerumah sakit, hem?'' ucap Papa Reza pada Rayyan dan Algi.
Rayyan mengangguk begitu pun dengan Algi. Kedua pemuda sedarah itu pun pergi ke tujuan masing-masing.