Janda Kembang Season 2 ( Ternoda )

Janda Kembang Season 2 ( Ternoda )
Kemarahan Rayyan


__ADS_3

Sementara Rayyan semakin gelisah saat ini. Seseorang yang melihat Zahra terjatuh di kamar mandi berlari begitu kencang langsung menuju ke kantin.


Gadis itu berlari tanpa melihat apapun. Di pikiran nya saat ini adalah Zahra yang sedang terjatuh dan terluka karena di dorong begitu kuat oleh kakak kelasnya yang ternyata sekelas dengan Rayyan.


Dian melihat Rayyan sedang gelisah tidak menentu, sambil berlari ia memekik memanggil nama Rayyan hingga membuat penghuni kantin itu terkejut bukan main.


''Kak Rayyaaaaannn!!! Zahra terjatuh di kamar mandiiiiii....'''


Deg!


Rayyan terkejut. Ia yang sedang mondar-mandir tidak jelas berhenti seketika kala mendengar suara sahabat Zahra berlari kencang menemui nya.


''Kak Rayyaaaaannn.. cepetaaaaannn.. kepala Zahara berdarah Kaaakk!!'' pekiknya lagi


''Apa?! Bagaimana bisa?! Pantas aja Zahra tidak kesini! Ayo!!'' katanya pada Dian.


Dian yang masih ngos-ngosan terpaksa berlari lagi mengikuti langkah panjang Rayyan. Semua siswi yang berpapasan dengan Rayyan dan Dian terkejut bukan main.


Kenapa mantan ketua OSIS mereka ini berlari begitu kencang menuju kamar mandi siswi yang berada diujung ruangan kelas Zahra.


Tap.


Tap.


Tap.


Suara hentakan sepatu Rayyan dan Dian menggema di seluruh penjuru kamar mandi itu. Semua siswi yang ada didalam kamar mandi itu yang saat ini sedang menyiksa Zahra dengan cara menginjak tubuh Zahra terkejut bukan main.


Braaakkk..


''Astaghfirullah!!'' pekik mereka karena terkejut.


Deg!


Rayyan mematung di tempat melihat tubuh Zahra dibawa kaki teman sekelas Rayyan ini. ''Astaghfirullah! Zahra! Kak! Darah!!''


Deg!


Rayyan menatap nyalang pada mereka semua. Rahangnya mengetat dengan mata sipitnya menjadi setajam elang. Wajahnya memerah menahan amarah.


Melihat itu mereka menciut. Semuanya mundur tanpa terkecuali. ''Kau..!!''


''Kak Rayyan! Zahra dulu Kak! Zahra terluka!!' pekik Dian begitu cemas saat ini. Seberapa pun bencinya Dian terhadap Zahra, rasa sayangnya mengalahkan segalanya. Dian menangis.

__ADS_1


''Ra! Bangun Ra! Bangun!!'' panggilnya seraya menepuk-nepuk pipi Zahra. Tapi tidak mendapatkan respon dari Zahra.


''Hiks.. hiks.. Kak! Zahra Kak!!!'' pekik Dian


Membuat Rayyan tersadar dari menatap nyalang pada seluruh teman sekelas nya ini. ''Sayang!!''


Deg!


Deg!


Semua yang ada disana mematung mendengar panggilan Rayyan untuk Zahra. Zahra mengerjabkan matanya.


''By...''


Deg!


Deg!


Lagi. Mereka membatu di tempat mendengar sahutan Zahra untuk Rayyan. ''By ..'' panggil Zahra lagi saat ia berusaha mengangkat tangannya untuk menyentuh tangan Rayyan yang menggantung di udara karena ingin memukul pintu.


Rayyan menoleh pada Zahra yang tersenyum walau wajahnya di penuhi dengan dengan darah segar yang terus mengalir di pelipisnya.


Braaakkk..


Braaakkk...


''Udah By..'' lirih Rayyan lagi.


''Kak.. tolong Zahra dulu. Hiks.. baru setelahnya mereka semua. Zahra banyak kehilangan darah Kak..'' bujuk Dian sambil terisak.


Rayyan tetap menatap nyalang pada mereka semua. ''Kalian akan tau akan berhadapan dengan siapa! Tunggu saja!'' kata Rayyan begitu dingin.


Mata elang itu menatap tajam pada ke delapan orang yang berdiri dengan menunduk. Tidak berani menatap Rayyan.


Rayyan sangat menakutkan saat ini. Ia menunduk dan menggendong Zahra ala bridal style. Tapi sebelum itu, ia mengambil ponsel miliknya dan menghubungi Papi Gilang dan Papa Reza untuk datang ke sekolah.


''Hallo Pi, waalaikum salam. Ya, segera datang ke sekolah. Ada masalah dengan Zahra dan beberapa murid lainnya. Hubungi Papa Reza dan Mami Alisa. Ya, sekarang!'' Suara itu terdengar lembut namun terkesan begitu dingin.


Semua teman sekelas Rayyan saling pandang. Mereka sangat tau siapa itu Nyonya Alisa. Pemilik sekolah sekaligus kepala yayasan tempat Rayyan dan Zahra menuntut ilmu.


Rayyan menatap nyalang kepada mereka semua. ''Lihat saja kalian semua! Kalian akan tanggung akibatnya karena telah berani melukai istriku! Kalian pasti akan tanggung akibatnya!'' tegasnya begitu dingin hingga menusuk ke tulang.


Lagi dan lagi, semua teman sekelas Rayyan itu membatu di tempat karena mendengar ucapan Rayyan.

__ADS_1


Dengan segera Rayyan membawa Zahra ke ruang UKS yang tidak berada jauh dari tempat mereka sekarang. Hanya melewati dua ruangan dan mereka tiba disana.


Kak Ria terkejut melihat Zahra terluka. Tapi tidak ingin bertanya karena melihat Dian yang menggelengkan kepalanya.


Zahra segera ditangani. Sementara Rayyan keluar menunggu kedua orang tuanya datang. Sedangkan di jalan, Mami Alisa dan Papi Gilang begitu gelisah sekarang.


Papi Gilang mengendarai mobilnya hingga begitu kencang. Cukup sepuluh menit mereka sudah tiba di sekolah Rayyan dan Zahra. Turun dari mobil mereka bertiga langsung menuju Rayyan yang sudah menunggu mereka di depan UKS.


Tap.


Tap.


Tap.


Suara hentakan sepatu dilantai nan dingin membuat atensi semua orang yang sedang duduk istirahat pun mendadak diam karena melihat sang pemilik sekolah datang dengan berlari. Dari itupun langsung menuju UKS bukan ruang guru seperti biasanya.


Tiba disana, Mami Alisa terkejut melihat kepala Zahra di perban seperti itu. ''Kenapa?? Ada apa? Kok bisa seperti ini??'' tanya Mak Alisa pada tiga orang yang ada disana.


Saat ini Zahra tertidur pulas setelah tadi kak Ria terpaksa membiusnya karena panik ingin mengejar Rayyan yang sedang menahan amarah.


Rayyan melihat sang Mami dengan wajah datar nya. ''Ayo, Mami ikut Abang. Kamu ikut Dian! Kamu saksi dari kejadian ini! Ayo! Mereka sudah menunggu kita diruang guru BK saat ini!'' kata Rayyan.


Dengan segera ia pergi duluan meninggal kan tiga paruh baya yang saling pandang itu. Mami Alisa mengikuti langkah panjang Rayyan yang sudah lebih dulu tiba diruangan BK.


Tiba disana, Pak Husen membatu di tempat. Ia tidak menyangka jika kasus ini langsung Rayyan adukan pada kepala yayasan yaitu Mami Alisa sekaligus pemilik sah dari sekolah itu setelah Pak Wawan Situmorang menjualnya kepada Mami Alisa lima tahun yang lalu.


''B-bu Alisa! Ma-mari masuk!'' katanya pada Mami Alisa.


Mami Alisa menatap datar Kepada delapan orang yang sedang menunduk tidak ingin melihat Rayyan dan kepala yayasan itu.


''Mari Bu, Pak. Silahkan duduk.'' katanya mempersilahkan Mami Alisa untuk duduk.


Mami Alisa duduk tapi matanya menatap tajam pada Pak Husen. Membuat guru BK itu tiba-tiba saja nyalinya menciut. Ia berdehem untuk menghilangkan rasa takut yang sedang menyergap dirinya kini.


''Maaf sebelumnya Bu, ada apa ya Ibu datang kemari?? Ada yang perlu kah?? Biasanya kan kalau datang ibu selalu mengabari kami terlebih dahulu.'' ucapnya takut-takut menatap Mami Alisa.


''Kenapa? Anda tidak suka saya datang ke tempat saya sendiri? Apakah saya datang kesini pun kalian harus tahu, begitu?!''


Deg!


''Bu-bukan begitu Bu!''


''Lantas apa?? Kenapa putri saya sampai terluka seperti itu? Apakah karena ke delapan siswa anda ini Pak Husen?? Jika iya, mereka harus di keluarkan dari sekolah saya!''

__ADS_1


Deg!


Deg!


__ADS_2