
Sementara para orang tua beristirahat, Zahra dan Rayyan masih saling menangis. ''Huuffttt.. maaf kak.. aku salah.. hiks.. maaf.. aku membenci dirimu yang terlalu dekat dengannya. Sedang denganku tidak. Hiks .. aku nggak suka...'' lirihnya sambil terisak.
Rayyan tersenyum, ''Tak apa sayang. Hanya saja.. kakak bicara apa adanya. Cinta begitu mirip denganmu. Apakah cinta reinkarnasi dirimu? Eh, tapi mana mungkin. Kamu aja masih hidup. Reinkarnasi itu merupakan sesuatu yang terjadi pada seseorang yang sudah mati belum tuntas atau belum kesampaian makanya ia kembali ke dunia ini. Lah kamu?'' ujar Rayyan sambil Terkekeh-kekeh.
Ia menjadi geli sendiri dengan pemikiran nya itu. Sedangkan Zahra tertegun dengan ucapan Rayyan. Itu menatap dalam pada pujaan hatinya itu.
''Ada apa ini? Kenapa bisa sepupunya bisa mirip denganku? Seberapa mirip? Hingga ia mengira jika sepupunya itu adalah aku?? Kenapa begitu cepat terjadi? Sedang aku masih hidup? Ada apa dengan takdir ku??''' bisiknya dalam hati.
Zahra menatap dalam pada Rayyan, begitu pun Rayyan. Entah siapa yang memulainya kini kedua putik merah jambu itu sudah menyatu untuk pertama kalinya.
__ADS_1
Khusus untuk Rayyan tidak dengan Zahra. Matanya terpejam menikmati sentuhan lembut sang pujaan hati. Namun, ia tersentak saat sekilas bayangan dimana dirinya di kecup dan di bumbui oleh pemuda lain bukan suaminya.
Tubuh Zahra bergetar hebat dengan mata terpejam. Rayyan tau itu. Bukannya berhenti, ia semakin kuat melumaaat memaguut dan mengecup putik merah jambu yang dulu sangat ingin ia sentuh. Tapi tak bisa karena takut akan dosa.
Sementara Zahra tubuhnya semakin berkeringat dingin. Bayangan dimana dirinya di kejar, di paksa, di koyak hingga ke dasar yang terdalam membuat air matanya menetes di sela-sela ciuman pertama kali nya untuk Rayyan.
Dirasa cukup, Rayyan melepaskan nya. Tubuh Zahra masih bergetar karena takut. Rayyan mengusap bekas salivanya di putik ranum milik Zahra. Zahra masih saja memejamkan kedua matanya.
Rayyan mengusap surai hitam Zahra yang tertutup hijab hitam instan Zahra. ''Sssttt.. tak apa. Kamu harus terbiasa, hem? Karena ini adalah terapi untukmu. Terapi untuk mengurangi rasa takut mu terhadap kejadian kelam itu. Kakak yang akan menjadi terapi untukmu. Mulai hari ini. Maaf.. jika tadi kakak melukai hatimu. Kakak tidak mencintai nya sayang. Cuma kamu. Tak ada yang lain. Dia hanya saudara sepupu untukku dan ku anggap Adik. Mengenai ucapan itu.. maaf.. itu hanya untuk menyenangi hatinya saja. Padahal saat ini Cinta masihlah SMP kelas satu. Sedang Kakak? Udah SMA sayang. Dia adik kecil yang manis. Sama seperti mu. Tapi cintaku hanya untukmu. Satu untuk selamanya. Cinta sekarang sampai mati tetap dirimu. Tak ada yang lain..'' lirih Rayyan di telinga Zahra yang tertutup hijab.
__ADS_1
Zahra semakin terisak. Ia semakin erat memeluk tubuh kurus Rayyan yang belum berapa berisi sama seperti Papi Gilang dulu saat SMA.
Papi Gilang mengatakan jika ingin tubuh sixpack seperti tubuhnya, maka Rayyan harus tamat SMA dulu. Baru setelahnya Papi Gilang akan mengajari nya.
Rayyan Terkekeh memikirkan hal itu. Tubuh Zahra semakin terguncang hebat saat Rayyan mengecup kepalanya yang tertutup hijab.
''Kakak sayang banget sama kamu sayang. Sangat, sangat menyayangi mu sekarang ataupun nanti.'' ucapnya sambil membawa tubuh Zahra untuk dibawa ke ranjang.
Saat ini kamar mereka begitu berantakan. Rayyan berinisiatif ingin membersihkan kamar mereka setelah Zahra tidur nanti. Untuk sekarang, ia harus membuat Zahra tertidur dulu di dalam pelukan nya.
__ADS_1
Baru setelahnya ia membersihkan kamar mereka yang berantakan. Mereka berdua tertidur dengan pulas hingga waktu Maghrib tiba.