
Rayyan dan Algi segera bangkit setelah mendengar ucapan Papa Reza. ''Adek pulang dulu ya Bang? Maaf..'' lirih Algi sambil menunduk dan memeluk tubuh kurus Rayyan.
Rayyan tersenyum, ''Tak apa Dek. Pulanglah. Abang mau masuk dulu. Bilang sama Mami. Besok siang Abang baru kesana. Besok Abang minta ijin cepat pulang.'' Kata Rayyan pada Algi.
Algi mengangguk. ''Ya, adek pulang.. assalamualaikum...'' lirih Algi begitu merasa bersalah pada Zahra.
''Waalaikum salam..'' sahut Rayyan.
Algi pun berlalu. Melihat Algi sudah menghilang dengan suara motor matic Mami Alisa, Rayyan masuk kedalam kamar Zahra.
Ceklek.
Pintu terbuka dari luar, terlihat Zahra duduk termenung dengan tatapan mata kosongnya. Ia menatap Rayyan dengan wajah datar nan sendu. Tercubit hati Rayyan melihatnya.
''Sayang...'' panggil Rayyan pada Zahra. Ia mendekati Zahra yang sedang menyender di kepala ranjang.
Zahra menoleh.
Tes.
Tes.
Tes.
''Sssttt.. jangan nangis.. jangan tangisi semua yang telah terjadi. semua ini sudah takdir!'' ucap Rayyan pada Zahra.
Zahra menangis. Lagi, air mata itu jatuh tanpa diminta. ''Hiks.. A-aku pe-pengkhianat Kak! Aku pengkhianat! Hiks.. maafkan aku.. aku menyesal Kak.. aku sangat menyesal..''
''Sudah, kamu bukan pengkhianat tapi aku dan dia lah yang sudah berkhianat padamu!''
Deg!
Zahra mengurai pelukan nya dan melihat Zahra dengan tatapan sendunya. ''Apa maksud kakak??''
Rayan terdiam. Bibirnya terasa Kelu walau Hanya untuk menjawab Zahra. ''Kak Rayyan!''
Deg!
Rayyan menatap Zahra dengan sendu. ''Maaf..''
''Apa?''
__ADS_1
''Maaf Ra...''
''Maksudnya apa sih??'' tamat Zahra semakin kebingungan karena Rayyan meminta maaf padanya.
''Hiks.. kami yang berkhianat padamu. Terutama aku. Selama ini aku berbohong padamu aklau aku setia. Nyatanya tidak. Kami berdua pernihan berkencan dengan beberapa hadis di belakang mu! Dan tanpa sepengetahuan mu! Bukan Kamu Ra! Tapi aku! Akulah pengkhianat dalam hubungan kita! Bahkan sampai saat ini hubungan kami masih berlanjut! Maaf Ra.. maaf...''
Zahra terkekeh kecil. ''Kamu ngawur Kak! Mana ada kamu sepeti itu. Selam yang aku tau, kamu bahkan tidak pernah berbicara dengan gadis mana pun. Jangan berbohong Kak Rayyan! Aku tak suka itu!'' ketus Zahra memalingkan wajah ke arah lain karena Rayyan menatapnya dengan mengiba.
''Ini beneran Ra. Kakak punya buktinya. Semua ini karena bujukannya. Katanya gadis itu sedari dulu udah naksir sama kakak. Jadi kakak sebagai laki-laki punya perasaan agar tidak menyakiti nya tapi yang terjadi malah.. hiks.. kami berdua masih berhubungan bahkan sampai saat ini. Hubungan ini terjadi sejak satu tahun yang lalu. Kami masih pacaran sampai saat ini. Dan bahkan, besok kami mau jalan bersama. Maaf Ra.. maaf... kami masih berlanjut waktu kita sudah menikah. Gadis itu begitu mencintai ku. Aku tak tega untuk membuat nya kecewa dengan cara bicara jujur. Aku masih berhubungan dengan nya Ra.. maaf...'' lirih Rayyan lagi semakin menunduk.
Zahra masih tidak percaya. ''Mana buktinya? Kalau nggak punya bukti aku tidak percaya dengan ucapan mu. Bisa saja kan kamu sengaja untuk menyalahkan dirimu pada ku? padahal yang sebenarnya aku lah pengkhianat pada hubungan kita saat ini.'' Tegas Zahra membuat Rayyan lagi dan lagi menggeleng.
''Beneran Ra.''
''Enggak! aku nggak percaya!'' kekeuh Zahra.
''Baik, jika itu yang kamu inginkan. Maka aku akan memberi bukti padamu. Tapi setelah kamu tau, aku harap kamu tidak kecewa!'' tukas Rayyan dengan wajah datarnya.
Zahra terkejut. Rayyan dengan segera mengambil ponselnya dan mendial nama seorang gadis cantik berhijab dibawah Zahra dengan nama di ponsel itu tertera ''Cinta.
''Assalamu'alaikum, Abang...''
Deg!
Deg!
Zahra membeku mendengar suara lembut itu. ''Abang ngapain? Lagi dirumah siapa itu? Kok beda ya sama kamar Abang??''
Deg!
Deg!
Rayyan terkekeh, saat ini ia duduk dengan membelakangi Zahra. Sementara Zahra masih membeku di tempatnya duduk. ''Abang lagi dirumah temen. Jengukin dia yang sedang sakit. Mau ngomong??''
Wajah disana tiba-tiba mendadak masam. ''Laki-laki atau perempuan?!'' tanya nya dengan ketus.
Rayyan tertawa.
Nyyuuuuttt...
Berdenyut hati Zahra mendengar tawa Rayyan dengan gadis itu. Ia tetap menatap datar pada ponsel yang sedang menunjukkan wajah gadis yang sedang berbicara dengan Rayyan.
__ADS_1
Rayyan dan gadis itu sibuk mengobrol. Sedang Zahra? Ia duduk melamun memikirkan nasib hidupnya. Terlihat jelas sekali Rayyan begitu menyukai gadis itu. Mereka berbicara begitu akrab hingga tidak sadar jika mereka telah membuat seseorang di belakang sana meneteskan air matanya.
Rayyan pemuda dingin itu begitu manis pada gadis cantik dibawahnya itu. Gadis itu begitu lembut dan manja terhadap Rayyan. Membuat Zahra memalingkan wajah nya.
Zahra tergugu ketika Rayyan mengatakan jika ia akan menikahi gadis itu ketika selesai kuliah nanti.
Hancur, remuk menjadi satu. Terluka. Zahra terluka. Air mata itu menetes tanpa ada suara yang keluar dari mulutnya.
''Beginilah rasanya kita menghianati seseorang?? Begini kah sakitnya?? Apakah dulu Dia juga merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan saat ini?? Tapi kenapa? Kenapa terasa sakit saat kita melihatnya secara langsung berkhianat langsung di depan kita?
Padahal hanya melalui sambungan ponsel saja. Bagaimana jika bertemu?? Apakah ini yang dulu dirasakan olehnya saat aku berbicara di depan sahabatnya tanpa menghiraukan nya?? Hiks.. sakit! Hiks sakit! '' bisik hati Zahra menatap nanar pada pasangan yang terus berbicara tanpa mengingat dan melihat keadaannya yang sedang terluka karena di khianati.
''Berkhianat?'' Zahra terkekeh sendiri. Kekehan sinis yang keluar dari mulutnya membuat Rayyan terkejut. Ia baru sadar jika sudah mengabaikan Zahra.
''Ra.. kakak masih ngomong sama cinta. Kamu tak apa kan??'' tanya Rayyan pada Zahra.
Zahra menatap dingin padanya. Tercubit hati Rayyan melihat nya. ''Keluar!''
Deg!
''Ra...''
''Keluar kataku! Aku ingin sendiri! Dan untuk delapan bulan ke depan, pulangkah ke rumah orang tuamu! Kalau nanti kamu sudah tamat, nikahilah gadis itu! Kamu pantas bersama nya! Bukan denganku! Gadis yang sudah ternoda karena ulahku sendiri! Kamu berhak mendapatkan yang layak! PERGI! DAN JANGAN KEMBALI LAGI PADAKU! CUKUP SAMPAI DISINI! AKU SUDAH HANCUR DAN TERLUKA DI SAAT YANG BERSAMAAN!''
''BENAR KATAMU! KALAU AKU PENGKHIANAT! BUKAN KAMU! AKU RELA MENGOBRAL TUBUHKU PADA PRIA YANG SANGAT MENCINTAIKU! PERGILAH! AKU INGIN SENDIRI. AKU TIDAK INGIN MELIHAT WAJAHMU LAGI SAMPAI AKU MATI!!''
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...
''Ra!!!!'' seru Rayyan dengan suara meninggi.
Gadis yang didalam sambungan ponsel itu terkejut. ''Abang! Siapa dia?! Ada apa ini?! Bisa kamu jelaskan?!'' Seru gadis di seberang telepon sana.
''KELUAR KATAKU RAYYAN PUTRA BHASKARA! AKU MENYESAL KARENA TELAH MEMINTA MU UNTUK MENIKAHI KU! AKU MENYESAL! AKU TIDAK INGIN MELIHATMU LAGI! PERGIIIII!! PERGI KAU BERSAMA GADIS PILIHAN MUU!! AKU TUDAK SUDI MENERIMA SUAMI SEPERTIMU!!! AKU KOTOR!!! DIA BERSIH!!! AKU TIDAK PANTAS DENGANMU!! KELUAR KAU RAYYAN PUTRA BHASKARA!!! MULAI HARI INI, KAU BUKAN LAH SUAMI KU LAGI! SETELAH ANAK INI LAHIR, AKU AKAN BERPISAH DARIMU UNTUK SELAMA NYA. SELAMANYA RAYYAN PUTRA BHASKARA! SE LA MA NYA!!!''
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...
Pletak!
Braaakkk...
''Rayyan! Zahra!!!''
__ADS_1