
Selesai dengan memandikan, kini jenazah Zahra akan dikafani. Selesai dengan dikafankan baru kemudian giliran keluarga untuk pertemuan terakhir sebelum dibawa ke tempat peristirahatan terakhir almarhumah Zahra.
Seluruh keluarga menangis tersedu saat ingin mencium wajah Zahra yang sudah memucat dan putih berseri itu.
Ya, wajah Zahra putih berseri. Tetapi terlihat sendu. Mungkin sedih karena meninggalkan Cinta dan juga kedua anak kembarnya.
Kini tiba giliran Rayyan untuk mencium terakhir jenazah Zahra. Rayyan di papah Bang Raga dan Papi Gilang untuk bisa berjalan. Seluruh tulang di tubuhnya serasa patah saat itu juga ketika melihat pujaan hatinya pergi setelah melahirkan ke-dua anaknya.
Rayyan berulang kali menghela nafas. Tetapi tetap saja air mata itu jatuh berjatuhan. Ia tersedu sambil mencium pipi Zahra. Rayyan seperti melihat bayangan Zahra tersenyum padanya ketika ia bangkit.
Tepat di depan pintu ruma terlihat Zahra tersenyum manis dan mengangguk padanya. Tanpa sadar bibir itu memanggil nama Zahra hingga berulang kali.
''Zahra...''
''Zahraaaaa... sayang...''
''Jangan pergiiiii... tetap disini! Kamu mau kemana?'' tanya Rayyan pada bayangan putih yang kini berada di hadapan nya.
Semua yang melihat itu keheranan. Bagaimana mungkin ada Zahra di depan pintu sedang jenazahnya saja ada di depan Rayyan saat ini.
Rayyan mengulurkan tangannya untuk mengambil tangan Zahra. Zahra tersenyum padanya. Tangan mereka berdua saling bersentuhan. Rayyan bisa merasakan nya.
Rayyan tersenyum walau air mata beruraian. Zahra masih saja tersenyum padanya. Ia mendekati Rayyan dan memeluknya.
Nyeeeesss...
__ADS_1
Sejuk sekali. Dingin. Dan tenang. Sangat nyaman. Itulah yang Rayyan rasakan. Ia memejamkan kedua matanya ketika mendengar bisikan lembut nan lirih seperti hembusan angin di telinga nya.
''Aku pergi untuk kembali sayangku.. bersabarlah. Kita pasti akan bersatu kembali di masa depan nanti. Jangan bersedih dan jangan menyalahkan dirimu. Semua ini sudah menjadi keputusan takdir. Aku harap kamu bisa mengerti. Ingat suami ku, imamku, hidupku, dan... Cintaku...''
Deg!
''Cinta...'' lirih Rayyan dalam mata terpejam.
Zahra tersenyum, ''Ya, Cintamu. Tunggu aku kembali. Sampai saat itu tiba, bertahanlah. Aku akan kembali lagi ke dunia ini untuk menyatukan dan menyempurnakan cinta kita berdua yang sudah ternoda karena diriku. Sampai saat itu tiba, aku harap kamu tidak berpindah ke lain hati Suamiku... kamu segalanya untukku sekarang ataupun nanti. Aku akan datang kepadamu dalam wujud yang baru. Bersabarlah menungguku. Untuk sekarang, aku harus pergi. Tempatku bukan disini. Cinta sedang menungguku. Tunggu aku kembali.. selamat tinggal sayang .. tunggu aku di masa depan. Cup!'''
Nyeeeesss...
''Cinta...'' lirih Rayyan lagi, semua yang ada disana tertegun. Termasuk Papi Gilang dan Mami Alisa.
Wajah yang tadinya berseri kini kembali sendu. Bahkan sangat sendu. ''Kuat nak. Kami bersama mu. Ikhlaskan kepergian nya. Zahra bukan jodohmu. Takdirnya cukup sampai disini. Ayo, kita harus menyolatkan jenazahnya sebelum dibawa ke tempat peristirahatan terakhir nya. Ayo, berwudhu dulu. Kamu yang jadi imam!''
Deg!
Rayyan menoleh pada Mami Alisa. Beliau mengangguk dan tersenyum walau sendu. Rayyan pun pasrah. Inilah terakhir kalinya ia melihat Zahra. Dan memberikan doa terbaik sebelum ia di kuburkan.
Banyak para pelayat yang menyolatkan Zahra hingga lebih dari empat puluh orang di dalam ruangan mushola rumah mereka yang lebar itu.
Rayyan bertindak sebagai imam. Ia ingin menangis. Tetapi di tahan. Suara itu bergetar ketika ia mengangkat takbir pertama.
Takbir kedua pun begitu tetapi tetap khusyuk. Hingga takbir terakhir Rayyan meneteskan air matanya. Begitu pun dengan yang lain.
__ADS_1
''Assalamu'alaikum warahmatullahi..'' Rayyan menoleh ke kanan dan ke kiri. Setelahnya baru ia berdoa.
Selesai dengan menyolatkan kini jenazah Zahra di bawa keluar untuk di masukkan ke dalam ambulan. Rayyan ikut di dalamnya.
Ada Zidan, dan ketiga adik Zahra di dalam mobil itu. Mereka semua menemani Zahra yang sudah terbujur kaku berbalut kain putih dan juga tandu mayat dari mesjid di tutupi dengan kain berwarna hijau serta Bunga melati yang sudah berangkai diatasnya.
Cukup lima belas menit mobil mereka kini sudah tiba di pemakaman umum keluarga Bhaskara. Yaitu wakaf khusus keturunan keluarga Bhaskara.
Sudah ada Eyang Rayyan disana. Yaitu eyang Adam Bhaskara dan Eyang Diana. Melihat itu Rayyan semakin tersedu. Setiap sebulan sekali Rayyan sekali ziarah ke makam mereka bersama sang Papi.
Dan kini, Rayyan sendirilah yang membawa jenazah istri nya kesini untuk ia kuburkan disana bersama mereka.
Banyak orang yang memikul tandu jenazah Zahra. Sudah menunggu Papi Gilang dan Algi disana. Mereka disana pun sama seperti Rayyan.
Berduka.
Itulah yang mereka rasakan saat ini. Jenazah Zahra dikeluarkan dari tandu mayat dan segera di kuburkan. Rayyan sudah menunggu dibawah sana untuk mengadzani Zahra untuk yang terakhir kalinya.
Rayyan, Zidan, Papa Reza serta Papi Gilang bersama mengubur kan Zahra setelah semua ikatan tali pada kafan itu dibuka.
Suara lantunan adzan dari Rayyan begitu menyayat hati. Sungguh, kepergian seseorang yang begitu kita cintai meninggalkan luka yang begitu dalam.
Apalagi Rayyan yang memang selalu Zahra ingatkan tentang kepergiannya.
Jenazah Zahra di tutupi dengan papan. Setelah nya baru ditutupi dengan tanah. Mereka berempat melakukan hal itu hingga selesai. Rayyan termenung melihat gundukan tanah yang ber nama Zahrani Putri Ar Reza disana.
__ADS_1