
Rayyan masuk ke kamar Dimas dengan langkah gontai. Wajah sendu itu melirik Dimas yang sudah terlelap di dalam tidurnya. Ia mengambil handuk yang tersampir di pintu kamar Dimas dan segera masuk ke kamar mandi.
Mendengar suara gemericik air di kamar mandi, Dimas membuka matanya. Sedari tadi ia tidak tidur. Tetapi hanya memejamkan mata saja. Ia menghela nafasnya berulang kali.
''Maaf Abang... aku tidak ingin bersedih lagi. Cukup sampai disini. Aku akan berusaha sembuh untuk dirimu. Aku akan menjadi seseorang seperti yang kamu mau. Kamu ingin aku jadi dokter kan? Maka akan aku penuhi. Dulu, kamu pernah berkata seperti itu padaku. Kalau kamu seorang pengusaha maka aku seorang Dokter. Karena ketika kamu sakit atau keluarga mu yang sakit, maka aku yang akan mengobati kalian semua. Aku berjanji. Aku akan berusaha sembuh. Semua ini ku lakukan untukmu Bang.. sahabat sekaligus saudara untukku,'' gumam Dimas sedikit lirih.
Tapi Rayyan yang baru saja keluar dari kamar mandi mendengar nya. Ia tersenyum walau sendu. Rayyan mendekati Dimas yang sedang bergumam lirih selalu menyebutkan sayang padanya.
''Aku sayang sama Abang.. aku tak punya saudara bang.. hiks.. aku sayang sama Abang.. maaf.. karena ku.. calon istrimu ku rebut dan.. dan.. hiks.. hiks..'' Dimas tersedu.
__ADS_1
Sentuhan lembut dan dingin menyentuh kepala Dimas. Ia tersentak. Dengan segera Dimas mengusap wajahnya. Dan berbalik. Ia tersenyum.
''Abang udah mandi? Maaf..'' lirih nya sambil menunduk.
Grep!
Rayyan menarik Dimas ke dalam pelukan nya dan mengusap lembut surai hitam Dimas. ''Sssttt.. udah. Jangan menangis lagi. Jangan cengeng! Kamu laki-laki loh Dek.. harus kuat dan tegar! Kamu harus bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Jangan lagi berbuat kesalahan seperti dulu. Abang sayang sama kamu. Sangat sayang! Sedari kecil kita tumbuh bersama dan kamu sudah Abang anggap adik Abang sendiri. Dengar??'' tanya Rayyan yang masih memeluk erat tubuh Dimas
''Udah.. ah! Jangan ngomong gitu. Setiap manusia itu punya kesalahan. Baik besar maupun kecil tergantung dari si pembuat itu sendiri yang mau berubah atau tidak. Kamu tidak hina. Hanya melakukan kesalahan. Kesalahan kamu dimaafkan. Kami semua sudah memaafkan kamu Dek. Termasuk..''
__ADS_1
''Benarkah??'' potong Dimas dengan mata berbinar senang
Rayyan terkekeh. ''Benar adikku yang tampan dan sangat baik... kamu itu sudah kami maafkan. Tapi kamu harus berjanji, kamu harus berubah menjadi lebih baik lagi. Dan kesalahan itu cukup pada satu orang gadis saja. Cukup dia sendiri yang merasakan hal yang tidak terpuji itu. Kamu paham?''
Dimas mengangguk dengan bibir terus menyungging kan senyum manis. Rayyan tertawa melihat sang adik yang sudah kembali ceria tidak seperti tadi lagi.
''Ya sudah, mandi dan kita sholat berjamaah. Kamu nggak lupa sama sholat kan Dek??''
Dimas mengangguk. ''Mana mungkin aku lupa Bang! Itu ibadah kita yang utama. Aku bertahan pun karena itu. Jika bukan karena selalu mengingat Allah, mungkin saat ini aku sudah benar-benar tidak waras seperti dugaan dokter. Tungguin ya? Sepuluh menit!'' kata Dimas pada Rayyan sembari berlari menuju kamar mandi dengan tergesa.
__ADS_1
Rayyan tertawa. ''Semoga kamu akan tetap seperti ini Dek. Kalau suatu saat kamu kambuh lagi, Abang tidak bisa berbuat apapun. Karena keinginan untuk sembuh itu ada pada dirimu sendiri. Abang hanya bertugas memberi semangat untukmu.'' Lirih Rayyan dengan mata menatap dalam pada pintu kamar mandi di yang tertutup itu.