Janda Kembang Season 2 ( Ternoda )

Janda Kembang Season 2 ( Ternoda )
Ikhlas


__ADS_3

Rayyan tertegun dengan semua ucapan Papi Gilang dan Mami Alisa. ''Jadi.. Abang tidak boleh menyentuhnya, sampai Zahra terbukti tidak hamil karena perbuatan mereka??'' tanya Rayyan untuk memastikan lagi.


Papi Gilang dan Mami Alisa tersenyum dan mengangguk, ''Benar sayang. Kamu tidak boleh menggaulinya. Ingat nak, hubungan suami istri yang dilarang untuk kamu lakukan. Mami tidak yakin jika Zahra tidak akan hamil setelah melakukan hal itu. Belum lagi mereka terkurung disana satu malam bukan? Boleh Mami tanya nak??''


Rayyan menatap Mami Alisa dengan tatapan keheranan. ''Mami ingin tanya apa?'' jawab Rayyan, ia menatap dalam pada Mami Alisa.


Papi Gilang menatap sang istri ia bertanya melalui sorot matanya. Mami Alisa mengangguk.


''Jangan tersinggung dengan ucapan Mami ya?'' katanya lagi pada Rayyan


Rayyan mengangguk setuju, namun tatapan mata itu tidak terputus dari menatap Mami Alisa. ''Ketika kejadian dimana Zahra dinodai oleh pemuda itu, kamu dimana? Apakah kamu juga disana? Kamu lihat semuanya? Apakah kamu tidur diruangan yang sama dengan mereka?? Kenapa kamu tidak pulang saat itu? Kemana kamu? Dan kenapa ketika paginya kalian pulang berdua? Ini yang selalu menjadi pertanyaan Mami. Dari kemarin, pertanyaan ini memenuhi kepala Mami. Jelaskan, agar Kami tidak mencurigai dirimu, hem??''


Rayyan tertegun dengan serentetan pertanyaan dari Mami Alisa padanya. Ia mengingat nya. Semuanya. Bahkan saat pemuda itu memaksa Zahra untuk ikut dengannya karena suatu hal. Dan Rayyan pun mengizinkan.


Padahal waktu itu mereka berdua berjanji akan pulang bersama-sama. Air mata Rayyan menetes lagi saat mengenang hari itu. Mami Alisa mengusap air mata itu dengan lembut.


''Jika tidak sanggup, tidak udah di ceritakan. Nanti saja. Ayo, kita harus bersiap bukan? Ayo Pi, kita-,''


''Waktu itu Abang ingin pulang bersama Zahra bersama-sama karena kami sudah berjanji ingin ke toko buku. Tapi ketika kami berdua berada diparkiran, pemuda itu meminta izin pada Abang untuk membawa Zahra. Katanya ada hal penting yang harus ia pelajari bersama Zahra di perpus. Awalnya Zahra tidak mau. Karena sudah terikat janji sama Abang. Tapi Abang mengatakan, tak apa. Abang bisa menunggu..'' cerita Rayyan pada Mami Alisa dengan Air mata yang beruraian.


Papi Gilang memegang tubuh Rayyan. Rayyan terisak. ''Hiks.. Abang menunggu. Menunggu hingga satu jam lamanya. Karena bosan, Abang kirim pesan dan katanya mereka masih di perpus. Pemuda itu pun mengirimkan buktinya. Abang percaya. Katanya tunggu sebentar lagi.'' Rayyan menyusut air kental yang turun dari hidungnya.

__ADS_1


Mami Alisa memberikan tisu padanya dan ia usap air kental itu dengan segera. ''Hiks.. waktu sebentar lagi katanya berubah menjadi Berjam-jam. Abang gelisah. Waktu sudah semakin sore, tapi pemuda itu dan Zahra tidak keluar juga. Sedang Pak Amir penjaga perpustakaan saja sudah pulang. Abang panik, mencari mereka di seluruh ruangan dan di seluruh sudut sekolah. Hingga masuk waktu Maghrib Abang masih mencari mereka.''


''Entah kenapa, perasaan Abang menjadi tak enak. Tanpa pikir panjang Abang menuju ke markas kami yang ada di belakang sekolah. Tiba disana nihil. Tapi tas Zahra ada disana. Abang panik, Abang mencari dengan memanggil nama Zahra dan pemuda itu di dalam kegelapan sekolah.'' Rayyan semakin gelisah saat menceritakan hal itu.


Mami Alisa dan Papi Gilang pun semakin tidak menentu. Mereka semakin berdebar saja menunggu kelanjutan cerita Rayyan.


''Abang berlari lagi mencari mereka semua. Setiap ruangan Abang intip. dari setiap jendela. Barangkali Zahra dan pemuda itu ada disana. Abang berlari lagi. Tapi ketika Abang melewati taman belakang, Abang menemukan gantungan kunci tas Zahra. Abang ambil, entah kenapa gantungan kunci itu seperti penunjuk untuk Abang saat itu.''


''Abang mengikuti jalan setapak. Hingga Abang menemukan lagi cincin Zahra. Cincin pemberian Abang satu tahun yang lalu saat ia ulang tahun yang ke enam belas tahun. Jantung Abang semakin berdebar tak karuan. Abang sudah berpikir yang macam-macam. Pasti Zahra sedang tidak baik-baik saja.''


Mami Alisa dan Papi Gilang menahan nafasnya. Semakin gelisah. ''Abang ikuti jalan itu dengan langkah semakin cepat. Hingga kaki ini tiba di ujung ruangan dimana gudang sekolah kami berada, kaki Abang berhenti. Abang seperti mendengar jeritan Zahra begitu melengking memanggil nama Abang!''


Deg, deg, deg.


''Astaghfirullah al'dhimm..'' ucap kedua paruh baya itu.


''Hiks.. tiba di depan pintu itu Kaki Abang mematung. Abang berhenti di tempat saat mendengar suara aneh keluar dari gudang itu. Semakin lama semakin mendayu. Suara Zahra pun hilang. Hanya terdengar dengusan nafas seorang pemuda yang sedang menodai Zahra.. hiks.. mereka melakukan nya disana Mami... hiks.. dunia Abang runtuh seketika. Kaki Abang lemas tak berdaya. Abang jatuh terduduk dengan nafas tersengal.''


Dugh..


Dugh..

__ADS_1


Dugh..


''Hiks.. sakit Mami! Sakit! Sakit sekali! Dunia Abang hancur! Zahra. Calon istri Abang dinodai oleh pemuda lain selain Abang calon Suaminya. Abang harus apa Mami?? Hiks.. Abang duduk disitu Sampai pagi. Sedangkan suara di dalam gudang itu masih terdengar hingga pagi. Tapi tidak dengan suara Zahra. Entah apa yang terjadi pada nya Abang pun tak tau..'' Rayyan tersedu.


Mami Alisa dan Papi Gilang pun ikut menangis. Paruh baya itu terisak mendengar cerita Rayyan. ''Abang sadar saat matahari sudah menyinsing. Pukul enam lebih. Pemuda itu keluar dengan wajah begitu ceria. Bibirnya terus menyungging kan senyum manis. Abang tertegun Melihat nya. Dari dalam terdengar suara isakan lirih Zahra. Dari Isak menjadi tersedu. Ia memanggil nama Abang berulang kali. Abang kalap! Tanpa sadar sadar, Abang menghajar pemuda itu hingga dia tidak bisa berkutik. Ia tidak melawan. Ia menerima semuanya. Abang kesal padanya! Sangat kesal! Abang kecewa! Tapi, apa yang harus Abang lakukan saat melihat Zahra hancur seperti itu selain hanya bisa ikhlas?''


''Abang mencoba ikhlas menerima keadaan Zahra yang sudah tidak suci lagi. Hiks.. sakit Mami.. Abang sangat sakit hati. Berulang kali Abang mengumpati diri Abang sendiri yang telah mengizinkan Zahra untuk ikut bersama pemuda itu. Hiks.. Abang yang bersalah disini. Karena Abang lah Zahra sampai seperti itu. Semua ini karena Abang, Mami! Abang! Abang penyebab nya! Hiks.. semua ini karena Abang! Abang pelakunya! Abang pelakunya!'' ucap Rayyan dengan memukul dadanya berulang kali.


Mami Alisa menangis tersedu. Ia memeluk putra nya itu dengan berlinangan air mata. Begitu juga dengan Papi Gilang. Mereka bertiga menangis bersama.


Sedangkan dua paruh baya di depan pintu, mematung mendengar penjelasan Rayyan baru saja. Bagai dihantam paluh Godam, kedua dada itu begitu sesak saat mendengar, jika cucu mereka sangat merasa bersalah karena keadaan Zahra.


Bahkan ia menuduh dirinya sendiri sebagai pelakunya.


💕💕


Masih di bang Rayyan dulu ye? Nanti baru Kak Zahra.


Tenang .. semua itu sudah ada di otak minimalis othor ini! hihihi..


Like dan komen!

__ADS_1


Kalau boleh lempar kembang juga ye? biar othor tambah semangat update cerita ini! Tanpa klean, apalah othor ini.. hiks..


So.. happy reading..


__ADS_2