Janda Kembang Season 2 ( Ternoda )

Janda Kembang Season 2 ( Ternoda )
Pulang ke rumah Zahra


__ADS_3

Entah apa yang Rayyan pikirkan saat ini. Yang jelas hatinya begitu gelisah dan gundah bila mengingat Zahra disana.


''Ayo!'' ajak Mami Alisa lagi pada Rayyan


Rayyan mengangguk patuh. ''Mami duluan, Abang nyusul. Kan belum sholat Maghrib??''


Mami Alisa menghela nafasnya. ''Baiklah. Tenangkan hati dan pikiran mu. Berdoalah sama Allah agar hati kamu tenang. Minta sama Allah, agar hatimu tidak gelisah karena memikirkan hal ini.''


''Iya Mi. Abang sholat dulu. Kalian makan aja duluan. Nanti Abang menyusul!''


''Baiklah, Mami keluar ya?''


''Ya,'' sahutnya tidak bertenaga.


Tubuhnya begitu lesu saat ini. Entah karena apa, Rayyan pun tidak tau. Yang jelas, hatinya gelisah dan gundah saat ini. Karena mimpi Dimas itu seperti firasat buruk untuknya dan Zahra.


Rayyan menuju ke kamar mandi untuk mandi dan berwudhu. Cukup lima belas menit saja, ia sudah selesai. Setelahnya ia mulai melaksanakan sholat Maghrib yang sudah tertinggal lama.


Selesai sholat Rayyan berdoa sebentar untuk menenangkan hatinya yang sedang gelisah dan gundah. Entah kenapa firasatnya tentang mimpi Dimas itu tidak mungkin salah kali ini.


Dirasa cukup, Rayyan pun bergegas mengganti sarungnya dan memakai baju ganti baru. Malam ini ia akan pulang kerumah Zahra. Walau berjarak satu jam lamanya, tapi Rayyan tetap harus pulang kesana.

__ADS_1


Bukan karena merindukan Zahra, tetapi karena hatinya gelisah. Tidak ingin sedikitpun meninggalkan Zahra. Benar atau tidak mimpi itu, Rayyan harus tetap bersama Zahra.


Rayyan turun ke bawah dengan perlahan. Baru setengah undkan tangga saja Rayyan sudah mendengar kedua sikunya yang begitu heboh saat bersama sang Papi.


Rayyan akui. Papinya itu sungguh pria yang lembut dan penuh dengan kasih sayang. Namun, satu kekurangan nya. Kalau bertandang keluarga bersama nya, wajah Papi Gilang tidak pernah enak dipandang. Pastilah datar. Kayak triplek.


Dikira Rayyan tidak cocok sama Sang Papi. Belum lagi, ia pun sama juga. Rayyan terkekeh kala mengingat hal itu.


Ia berjalan turun menuju dimana Keluarga nya sedang berkumpul dan makan bersama walau sesekali Kinara, adik kecil Rayyan selalu saja melengking suaranya ketika sang Abang dan Papi mengganggu nya.


Kedua lelaki beda usia itu memang suka sekali mengganggu Kinara. Rayyan terkekeh melihat nya. Ia menarik kursi dan ikut duduk bersama di meja makan.


''Nggak usah Mi. Abang bisa sendiri. Ini kenapa cemberut gini sih tuan putri Abang?'' godanya pada Kinara.


Kinara bertambah manyun karena melihat sang Papi dan saudara kembarnya mengulum senyum agar tidak tertawa karena nya.


''Adek?? Abang tanya loh..'' tegur Mami Alisa pada Kinara yang masih cemberut itu.


Wajah ayu mirip Annisa itu masih jutek pada ke dua orang yang berada di depannya itu. Rayyan terkekeh, ''Udah.. jangan gitu ah! Sekali Abang pulang, wajah kamu cemberut gitu. Nggak enak banget ngeliatnya!'' Rayyan terkekeh lagi.


Kinara bertambah cemberut. ''Makan dulu Bang. Kamu jadi nginap kan ya?'' tanya Papi Gilang pada Rayyan. Sengaja bertanya, karena beliau sudah tau dari Mami Alisa tadi.

__ADS_1


Rayyan menoleh yang saat ini sedang menyiapkan nasi ke mulutnya dengan tangan. ''Nggak Pi. Abang mau pulang aja kerumah Zahra. Nggak enak banget perasaan nya. Mungkin sampai beberapa bulan ke depan, Abang nggak pulang ya Pi, Mi? Empat bulan lagi Zahra akan melahirkan. Jadi Abang tidak bisa akan sering pulang kesini untuk melihat kalian berdua..'' lirih Rayyan dengan menunduk.


Kedua paruh baya itu tersenyum, ''Pergilah. Jika dengan melihat Zahra hati kamu menjadi tenang. Tapi ingat? Jangan jadikan mimpi itu sebagai patokan bahwa ke depannya akan terjadi sesuatu dengan Zahra. Paham?'' ucap Papi Gilang pada Rayyan dan diangguki oleh nya.


Setelah itu, mereka berlima makan bersama dengan sedikit di bubuhi canda karena Kinara yang terus merengut kepada saudara kembar dan Papi nya itu.


Selesai makan, Rayyan berpamitan kepada kedua orang tuanya dan kedua adik kembarnya. Ia sempat memeluk lama sang Papi dan Mami secara bersamaan.


Kedua orang itu mengusap lembut tubuhnya. ''Sabar.. ikhlaskan apa yang akan terjadi. Karena semua itu sudah menjadi ketetapan Nya. Hidup dan mati seseorang itu cuma milik Allah. Jika memang sudah menjadi kehendak Nya, apapun yang akan kita lakukan itu tidak bisa menghalangi takdirnya. Kita hanya bisa untuk menyemangati dirinya sebelum waktu tiba. Karena kita sendiri pun tidak tau kapan waktu itu akan datang kepada kita. Pesan Mami.. ikhlaskan apapun yang akan terjadi di dalam kehidupan mu, hem?''


Rayyan mengangguk patuh. Ia mengurai pelukannya dan mengecup pipi Papi Gilang hingga membuat pria matang itu melototkan matanya. Rayyan tertawa.


Kemudian beralih pada Mami Alisa. Rayyan mengecup kening wanita yang telah menyusui serta membesarkannya ini.


''Abang pulang.. assalamualaikum..''


''Waalaikum salam..'' sahut keduanya


Rayyan pulang diantar oleh supir seperti permintaan sang Papi. Takut terjadi apa-apa dengan putra sulung nya itu.


Rayyan banyak diam di dalam mobil. Pak supir tidak berani banyak tanya. Karena takut mengganggu Rayyan yang saat ini sedang berwajah sendu tidak seperti biasanya.

__ADS_1


__ADS_2