Janda Kembang Season 2 ( Ternoda )

Janda Kembang Season 2 ( Ternoda )
Masih menjadi Praduga


__ADS_3

''Semua itu rahasia Allah Bang. Cuma Allah yang tau. Kita sebagai manusia biasa hanya bisa pasrah akan ketetapan nya. Jika Zahra mendapatkan ujian seperti itu, berarti memang itulah goresan takdirnya. Adakah kira-kira di dunia ada wanita yang rela dinodai sebelum mereka menikah??'' tanya Papi Gilang pada Papa Reza.


''Ada. Jika mereka saling mencintai. Akan tetapi.. itu tetap lah salah. Di dunia sudah salah dan Allah apalagi. Berbeda dengan Zahra. Putri kita itu ternoda dan dinodai oleh orang yang kita tidak tau apa dasar dari lelaki itu menodainya. Atas dasar cinta kah? Atau ada hal lain? Sehingga ia nekad menodai Zahra yang notabene nya begitu dekat dengannya selama ini!''


Deg!


''Siapa Gi? Abang merasa.. jika kamu tau sesuatu? Apa itu benar??''


Deg!


Deg!


Jantung Papi Gilang bergemuruh hebat. Ia menatap datar pada Papa Reza yang sedang menatap nya saat ini.


''Mati aku! Kenapa pula aku kasi clue nya sama bang Reza? Aduhh.. dasar mulut! Bisa-bisa nya keceplosan! Hadeeeuuhh...'' gerutu Papi Gilang dalam hati.


Ia gelisah saat ini. Namun, gestur tubuhnya begitu tenang saat ini. Papa Reza sulit mencari arti kata-kata dari Papi Gilang. ''Jawab Gi?? Apakah kamu tau sesuatu? Jawab yang jujur Gi! Abang butuh jawaban mu!'' tegas Papa Reza pada Papi Gilang.


Papi Gilang menatap nya kemudian tersenyum, Papa Reza menaikkan sebelah alisnya pertanda sedang kebingungan. ''Abang itu kenapa? Kok sampai separno itu sih tentang pelaku pelecehan Zahra??'' Ucap Papi Gilang sambil terkekeh kecil.

__ADS_1


''Dengar Bang! Itu cuma praduga ku saja! Tidak lebih. Aku pun tidak tau siapa pemuda itu. Yang jelas kedua anak kita begitu melindungi nya. Apakah pemuda itu dekat dengan kita, cuma Rayyan dan Zahra yang tau. Aku hanya menebaknya Bang!'' lanjut Papi Gilang lagi.


Yang akhirnya membuat Papa Reza menghela nafasnya. ''Hah. Gara-gara pelaku itu hingga membuat aku selalu curiga kepada siapapun. Dan hal sekecil apapun yang menyangkut dengan Zahra sangat sensitif sekarang ini GI. Entah siapa pemuda ini. Yang jelas, semua ini berkaitan dengan kita.'' imbuh Papa Reza membuat Papi Gilang mengangguk pasti dengan wajah penuh keyakinan.


Hampir saja!


Papi Gilang mengenal nafas sedikit pelan. Dokter Ridwan menelisik kedua orang yang sedang berada di depannya ini.


''Kenapa aku merasa jika tuan Gilang mengetahui sesuatu? Apakah dia tau pelaku nya? Lantas, kenapa dia menutupi hal ini? Apakah karena Zahra? Atau??'' bisik hati dokter Ridwan.


Mata itu tidak putus dari melihat dua orang paruh baya beda usia yang saat ini ada dihadapan nya.


Mereka bertiga berkelana di dalam setiap pikiran masing-masing. Tetapi akar pikiran mereka itu satu. Yaitu Zahra, Rayyan dan pemuda yang telah menodai Zahra.


Sementara di dalam kamar Zahra, saat ini gadis itu sedang terlelap. Mami Alisa dan Mama Rani segera keluar. Setelah memastikan Zahra minum obat dan tidur setelah merasa dirinya begitu mengantuk.


Dua paruh baya itu beda usia itu keluar dari kamar Zahra. Mami Alisa mendekati Papi Gilang dan duduk disampingnya.


''Zahra sudah tidur??'' tanya Papi Gilang

__ADS_1


''Sudah, butuh waktu untuk kami menenangkan nya. Gimana dengan Zahra? Apakah betul positif?'' tanya Mami Alisa tepat sasaran.


Seakan tau apa yang menjadi pembahasan para pria saat ini. Papi Gilang terkekeh, ''Kamu kenapa sih? Kok pikiran kita itu selalu nyambung dan selalu tepat sasaran??'' tanya Papi Gilang sembari menggoda Mami Alisa.


Plaak..


''Sayang! Ishhh...'' Mami Alisa mencebik.


''Lagi serius-serius nya malah kamu bercanda! nggak lucu Papi! Aku itu nanya nya serius! Reza. Gimana? Apa benar Zahra positif??'' tanya Mami Alisa pada Papi Reza.


Papa Reza menghela nafasnya. ''Masih praduga aja sih. Kalau memang iya, kita harus bersiap dengan kemungkinan terburuk nya. Jika itu sampai terjadi Zahra harus home schooling saja di rumah.''


''Tapi.. apa Zahra akan mau nanti. Maksudku, apakah Zahra mau menerima bayi yang ada di dalam kandungan nya sementara dirinya masih sekolah? Masih ada satu tahun lebih lagi untuk ia menuntut ilmu.'' Kata Dokter Ridwan


Semuanya mengangguk setuju. ''Kita lihat saja seperti apa kedepannya. Untuk sekarang, biarkan ia sekolah dulu. Sampai dimana ia sudah tidak sanggup dan perutnya membesar. Aku tau Zahra seperti apa. Ia pasti sudah memikirkan hal ini. Hanya dia yang bisa memutuskan segala sesuatunya. Sedangkan kita hanya bisa mengingatkan dan tetap selalu mendukungnya. Itu sudah cukup untuk perkembangan psikis nya yang terganggu gara-gara hal ini.'' Ucap Mama Rani menenangkan Mami Alisa dan juga semua orang yang ada disana.


Ya, biarkan seperti air mengalir. Kemana pun ia membawa Zahra disanalah ia nanti berlabuh. Di muara yang sama. Tetapi jika Zahra menentang arus, yang ada Zahra akan kesakitan nantinya.


Jangan kan menentang arus, sekarang ini saja ia sudah begitu terluka dengan kejadian itu.

__ADS_1


__ADS_2