Janda Kembang Season 2 ( Ternoda )

Janda Kembang Season 2 ( Ternoda )
Kedatangan Rayyan


__ADS_3

Dua jam sudah berada di udara. Dan saat ini Rayyan sudah berada di bandara Halim Perdanakusuma Jakarta.


Disana sudah ada Papa Rian yang menunggu mereka bertiga. Melihat kedatangan tiga orang itu, Papa Rian langsung berlari dan memeluk erat tubuh Rayyan dihadapan kedua orang tuanya.


Papi Gilang dan Mami Alisa tersenyum haru. ''Assalamu'alaikum Bang Rian!'' sapa Papi Gilang


''Waalaikum salam Gilang, Alisa.. hehehe.. maaf. Hiks.. aku terharu kalau kalian akhirnya mau datang.. putraku...'' lirihnya sambil menunduk.


''Ayo, kita temui Adikmu. Ia sangat ingin makan dari tanganmu. Sudah tiga bulan ini ia tidak bisa makan karena tidak berselera makan. Lambung nya kumat. Ia hanya ingin makan telur dadar buatan mu nak..'' lanjut Papa Rian lagi.


''Baik, ayo!'' ajak Rayyan pada Papi Rian.


Mereka berempat masuki mobil Papa Rian yang disupiri oleh beliau sendiri untuk menuju kediaman Papa Rian. ''Bukan nya dirumah sakit ya Pa?'' tanya Rayyan pada Papa Rian.


Papa Rian menggeleng, ''Tidak nak. Ia ingin pulang karena sangat ingin menemui mu. Berulang kali ia memanggil dan menyebut namamu. Disetiao tidur dan sadarnya hanay kamu yang ia panggil. Hiks.. ia sering kali mengigau meminta maaf padamu dan Zahra. Hiks.. Papa tidak sanggup melihat nya.. aaaaa...'' Papi Rian tersedu sbil mengendarai mobilnya.


Papi Gilang khawatir. ''Hentiakn mobilnya bang. Biar aku yang menyetir. Bahaya kalau kamu yang menyetir dalam keadaan seperti ini.'' Katanya pada Papa Rian.


Dalam keadaan tersedu Papa Rian mengangguk, ia menepikan mobilnya dan mundur ke belakang bersama Rayyan sedangkan Mami Alsa masuk ke depan berpindah posisi.


Taulah seperti apa Papi Gilang kan ya? Posesif! Kalau menyangkut permaisuri nya. Hihihi..


Mobil melaju lagi fneh kecepatan sedang dengan Papi Gilang yang membawanya. Kini Papa Rian berada Papa Rian di belakang. Sambil tersedu ia terus bercerita kalau putranya sanagt terkuak dan sangat menginginkan Rayyan di sampingnya.


Jangan salah kira kenapa ia sangat ingin bersama Rayyan ketika sakit. Karena sedari kecil mereka berumur enam tahun, mereka sellau bersama. Pertama kali bertemu dengan nya Rayyan langsung saja menyukainya.

__ADS_1


Menyukai dalam artian jika ia memiliki teman bermain saat dikantornya Papi Gilang dan disaat dirumah. Mereka sudah seperti saudara sedari kecil. Tumbuh bersama dan sekolah pun di tempat yang sama. Bahkan mereka satu kelas dan satu bangku. Banyak yang bilang kalau mereka ini sepaket. Hadeeeuuhh..


Dimana ada Rayyan disitu ada dia. Begitu pun sebaliknya. Dimana ada dia disitu pun ada Rayyan. Seluruh sekolah tidak heran lagi akan hal itu.


Maka dari itu ketika berita itu terdengar, Zahra lah yang tertuduh karena menyebabkan pertikaian di dua sahabat rasa saudara itu.


Cukup satu jam lebih berkendara membelah jalanan Jakarta yang lumayan padat, kini mereka sudah tiba di kediaman Papa Rian. Dari kejauhan sudah terdengar suara nya meraung-raung memanggil Rayyan.


Rayyan terkejut. Belum lagi mobil masuk ke dalam masih berdiri di gerbang, Rayyan keluar dari mobil dan berlari mendekati nya yang ingin di suntikkan obat penenang karena sudah satu jam lamanya mengamuk memanggil nama Rayyan.


Rayyan berlari dengan cepat dan dengan kasar mendorong pintu gerbang rumah Papa Rian membuat tiga orang di dalam mobil itu terkejut.


Braaakkk..


''Aaaarrrgghhtt.. bang Rayyaaaaannn!!! Aaaaaaaaaa... ngggak!!! nggak mau!!! Mau bang Rayyaaaaannn... aaaaa... abaaaaaaaaaangggg....'' pekik nya hingga membuat Rayyan semakin teriris melihat nya.


Plaaakkk..


''Hentikan!! Jangan suntik adikku dengan obat itu! Kamu ingin membunuhnya huh?!''


Deg!


Deg!


Deg!

__ADS_1


Ia yang sedang mengamuk berhenti seketika mendengar suara lengkingan Rayyan yang begitu keras hingga membuat perawat wanita itu terkejut. Jarum suntik itu jatuh ke bawah.


''Jangan sekali-kali anda menyuntikkan obat itu di tubuh adikku!'' katanya lagi pada perawat yang saat ini sedang menatapnya tidak berkedip.


''Bang Ray?? Kamu datang??'' tanya nya dengan senyum terbit di bibir tipis yang semakin kurus saat ini.


Rayyan masih menatap tajam pada perawat itu. Ia berbalik dan melihat Rayyan. ''Abang!! Abang datang?? Hiks.. Abang datang? Huh?! Abang!!'' serunya sembari berlari mendekati Rayyan yang saat ini berjarak lima meter dari tempatnya saat ini.


Rayyan menoleh Kala mendengar suara nya. Rayyan tersenyum dengan merentangkan kedua tangannya. ''Adukku...'' ucapnya.


Membuat perawat itu terkejut bukan main. Ia berlari dan..


Grep!


''Hiks.. Abang datang! Hiks.. Abang datang! Abang datang!'' serunya masih dengan memeluk erat Rayyan.


Rayyan tertawa tapi ada air mata mengalir disana. ''Hiks.. Abang datang! Aku lapar Bang! ingin makan! Ingin makan dadar telur buatan Abang! Hiks.. lapar...'' lirihnya dengan mata terpejam.


Rayyan semakin erat memeluk tubuh kurus nan ringkih itu. ''Hiks.. iya Abang masak buat kamu. Ayo kita masuk dulu. Nggak baik kamu diluar seperti ini. Ayo kita masuk!'' kata Rayyan padanya.


Namun, yang diajak bicara tidak menjawab. Tangan itu malah terkulai lemas tidak berdaya dan..


Brruukkk..


''Astaghfirullah!! Mas!'' pekik Rayyan begitu terkejut ketika tangan melepas tubuhnya ia jatuh merosot ke bawah dan tergeletak di tanah.

__ADS_1


Rayyan terkejut bukan main. ''Mas! bangun! Papa! Papi! Tolongin! Ini kenapa?!'' tanya Rayyan dengan panik.


Ketiga paruh baya yang masih tertegun karena ia memeluk Rayyan dan ingin makan telur dadar tadi kini tersentak kala mendengar suara Rayyan. Mereka bertiga berlari tergopoh-gopoh mendekati Rayyan yang saat ini sedang kepayahan mengangkat tubuhnya.


__ADS_2