Janda Kembang Season 2 ( Ternoda )

Janda Kembang Season 2 ( Ternoda )
Dadar telur buatan Rayyan


__ADS_3

''Astaghfirullahal'adhimm.. Kamu kenapa lagi nak?'' seru Papi Rian saat mendekati tubuh putranya yang tergeletak di tanah tidak berdaya.


Papa Rian menatap seorang perawat yang bertugas menjaga nya. ''Maaf Tuan. Tuan muda mengamuk karena sangat ingin bertemu abangnya. Sudah satu jam lamanya ia mengamuk seperti ini. Ia sengaja menunggu diluar karena ingin menyambut langsung kedatangan abangnya. Tapi setelah satu jam, yang ditunggu tidak datang membuatnya mengamuk seperti itu. Tuan muda belum makan sedari pagi tuan..'' lirihnya dengan menunduk.


''Astaghfirullahal'adhimm.. bangun Mas! Abang akan masak telur dadar keinginan kamu! Tapi kamu harus bangun! Ayo, Abang nggak suka kamu kayak gini. Kalau kamu tidak bangun, maka Abang akan pulang lagi ke Medan!''


Deg!


Klep, klep!


Plak.


Matanya terbuka secara tiba-tiba dengan tatapan mata menghunus tajam pada Rayyan. Tangan nya kuat merengkuh tangan Rayyan. ''Abang nggak boleh pergi! Aku lapar! Ingin makan! Bisa Abang masakkan telur dadar untukku??'' tanya nya tiba-tiba membuat kelima orang itu tersentak kaget.


Mami Alisa mendekati nya. ''Mami yang akan memasakkan telur itu untuk kamu. Tapi kamu bangun dulu. Ayo!'' ajaknya


Tetapi pemuda itu tidak peduli. Ia tetap menatap Rayyan. Rayyan terkekeh. ''Baiklah.. Abang akan masak makanan keinginan kamu. Ada yang lain?'' goda Rayyan padanya.


Ia menggeleng tapi tetap dengan wajah datar. ''Senyum ah! Serem kali liatin wajah kamu dingin kayak begitu??'' tegur Rayyan padanya.


Ia melengos. Rayyan tertawa. Ke empat orang yang sedang menatap nya itu bernafas lega. ''Ayo, bangun. Kita masuk. Perlu Abang gendong belakang kayak kecil dulu?'' tanya Rayyan padanya.


Ia yang tadinya melengos kini berpaling melihat Rayyan. Rayyan tersenyum, ia pun ikut tersenyum. ''Mau! Lapeerrr!!'' katanya pada Rayyan.


Rayyan tertawa. Ia segera memposisikan tubuhnya agak sedikit membungkukkan badan nya di hadapannya. Ia segera naik dan Rayyan membawanya masuk ke dalam.


''Lapar Bang..'' lirihnya seperti tidak bertenaga.

__ADS_1


Rayyan mengangguk. ''Ya, Abang tau. Kamu duduk dulu. akan Abang masakkan telurnya,'' ia mengangguk.


Rayyan dengan cekatan mengangkat spatula dan wajan. Ia membuka kulkas dan dan mengambil tekur hingga lima butir. Ia ingin membuat banyak telur dadar buatannya khusus untuk ia makan.


''Mau irisan cabai??'' tanya Rayyan padanya


''Mau! Yang banyak! Merah sama hijau harus banyak! Jangan masak satu Abang! Banyakin! Udah lama nggak makan telur dadar buatan Abang!'' sahutnya begitu senang.


Papa Rian tertegun melihat putranya itu. Begitu pun dengan Papi Gilang dan Mami Alisa. Mereka tertegun mendapati nya seperti itu.


Mami Alisa dan Papi Gilang saling lirik. Setelahnya menggeleng bersama. ''Kok yang kayak kamu ini ngidam aja sih Mas?'' ucap Papi Gilang membuat Rayyan dan Dimas terkejut.


Deg!


Deg!


Rayyan berhenti mengiris bawang dan cabai. Tangan itu mengepal erat. Ia yang tau segera mendekati Rayyan dan memegang kedua tangan itu.


''Lapar Bang...'' lirihnya mengejutkan Rayyan.


''Hah? Iya Abang masak. Kamu duduk aja. Masih pusing kan??'' ia mengangguk. ''Duduklah. Setelah matang akan segera Abang berikan padamu. Duduklah dulu. Papa, ambilkan obatnya!''


''Ya, akan Papa ambilkan. Gilang, Alisa. Duduk dulu. Aku mau ambil obatnya sebentar.''


''Ya,'' sahut mereka berdua.


Rayyan masih sibuk dengan telurnya. Ia kocok sebentar, di bubuhi garam dan sedikit lada disana. Ia tersenyum. Inilah kebiasaan Rayyan. Kalau memasak telur dadar untuknya pastilah seperti itu. Tanpa memakai penyedap sedikit pun. Karena Mami Alisa pun masaknya seperti itu. Cukup garam dan gula saja penyedap masakan nya.

__ADS_1


Sreeeennggg..


Suara larutan telur di dalam minyak sedikit panas. Ia tersenyum girang. Rayyan masih sibuk dengan telur itu. Ia bangkit dan mengambil nasi sendiri di sebelah Rayyan.


Ia sempat terhuyung, tapi Rayyan memegang lengannya. ''Kenapa kamu kesini sih? Kan udah dibilangin? Tunggu dulu! Kamu ini! Duduk sana!'' titah Rayyan sedikit kesal padanya.


Bukannya marah, ia terkekeh kecil. ''Hehehe ... enak banget baunya Bang! Aku betul-betul lapar loh..'' sahutnya masih dengan senyum terkembang di bibir tampan nan kurus nya itu.


''Ck. Iya, iya! Ini udah matang telurnya!'' kata Rayyan padanya.


Ia bersorak girang dengan menepuk kedua tangannya tanda sangat suka. ''Hemmm.. harumnya...'' lirih nya dengan mata berbinar senang.


''Aku makan ya Bang??''


Rayyan mengangguk. Dengan segera ia melahap makanan itu setelah membaca bismillah terlebih dahulu.


Ia menyantap telur dadar buatan Rayyan dengan segera dan begitu lahap seperti tidak pernah makan. Ia makan dengan tergesa-gesa.


''Pelan-pelan.. nggak akan ada yang merebut makanan mu. Ini sudah matang satu lagi.'' Kata Rayyan padanya sambil meletakan satu lagi telur dadar buatannya.


''Aseeekkk...'' serunya dengan bertepuk tangan ria.


Papi Gilang dan Mami Alisa tercengang melihat ia makan begitu banyak. Begitu pun Papa Rian. Pria paruh baya itu melongo melihat sang putra makan begitu banyaknya setelah sekian lama.


Papa Rian tersenyum, itu tandanya kedatangan Rayyan ke Jakarta tidak sia-sia. Namun, senyum itu surut seketika saat mengingat Rayyan datang hanya empat hari saja.


Akankah putra nya itu bisa bertahan jika Rayyan kembali pulang ke Medan? Apakah putra nya itu akan masuk rumah sakit jiwa lagi seperti yang sudah-sudah? Batin Papa Rian bergejolak memikirkan kesembuhan putra tunggal nya yang saat ini sedang sakit.

__ADS_1


__ADS_2